Keharuan dan Doa di Tanah Suci
Kedatangan jemaah haji Indonesia ke Madinah tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga penuh dengan makna yang dalam. Banyak dari mereka mengalami pengalaman menyentuh yang tak terlupakan, baik itu karena kesempatan untuk beribadah atau kebersamaan dengan keluarga yang telah lama ditunggu.
Cerita Irfan: Menemani Ayah Setelah 13 Tahun Tunggu
Mata Irfan, seorang jemaah asal Jakarta Timur, berkaca-kaca saat tiba di Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz (MED) di Madinah. Ini adalah momen yang sangat berarti baginya, karena akhirnya bisa menunaikan ibadah haji sekaligus mendampingi ayahnya, Ali Durriyat.
Irfan mengaku sangat bersyukur atas kesempatan ini. Ia bahkan mendaftar haji tanpa memberi tahu ayahnya, karena khawatir menambah beban pikiran orang tuanya. Sementara itu, Ali Durriyat telah menunggu selama 13 tahun sejak mendaftar haji.
“Alhamdulillah, saya bisa mendampingi bapak. Ini rezeki yang luar biasa,” ujar Irfan dengan mata berkaca-kaca.
Tahun ini, Irfan akhirnya dipanggil sebagai pendamping bagi ayahnya untuk menunaikan ibadah haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Kebersamaan mereka menjadi momen yang sangat berarti setelah penantian panjang keluarga tersebut.
Kini, Irfan bersama sang ayah dan total 391 jemaah Kloter JKG 01 telah tiba di Madinah. Mereka akan menjalani rangkaian ibadah, termasuk berziarah ke Masjid Nabawi dan makam Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan puncak ibadah haji.
Kisah Sunasih: Menghadapi Rindu dengan Doa
Kisah haru serupa dialami seorang jemaah asal Indramayu, Sunasih. Perjalanan hajinya tahun ini bukan sekadar memenuhi panggilan ibadah, tetapi juga menjadi ruang rindu yang tak lagi bisa dituntaskan bersama sang suami.
Sunasih mengenang awal perjalanannya. Ia mendaftar haji pada 2013 bersama suami tercinta, dengan harapan bisa berangkat berdua ke Tanah Suci. Namun, takdir berkata lain. Sang suami wafat pada 2025, hanya setahun sebelum jadwal keberangkatan mereka.
“Daftar haji tahun 2013 bareng suami, tapi suami meninggal tahun kemarin,” ujar Sunasih, Rabu (22/4/2026), dengan suara bergetar.
Keberangkatan kali ini pun menjadi campuran antara bahagia dan kehilangan. Di satu sisi, ia bersyukur akhirnya bisa menunaikan rukun Islam kelima. Di sisi lain, ada ruang kosong yang tak tergantikan.
Kuota haji milik mendiang suami kini telah dialihkan kepada anaknya. Namun, anak tersebut baru dijadwalkan berangkat sekitar lima tahun mendatang bersama pasangannya.
Sunasih pun memilih tetap berangkat lebih dulu, membawa doa yang dulu ingin mereka panjatkan bersama.
“Alhamdulillah, senang. Rasanya campur aduk,” katanya.
Meski sendiri, Sunasih tidak benar-benar sendiri. Ia berangkat bersama saudara kandungnya, Tarwono, yang juga menyimpan cerita serupa.
Tarwono sebelumnya mendaftar haji bersama istrinya pada tahun yang sama, namun sang istri telah wafat pada 2023. Kini, kuota tersebut juga dialihkan kepada anaknya.
Di Tanah Suci, langkah Sunasih menjadi lebih dari sekadar perjalanan ibadah. Ia membawa titipan doa untuk suami yang telah lebih dulu pergi, menunaikan janji yang sempat tertunda oleh waktu.

Haji: Perjalanan Fisik dan Batin
Di antara jutaan jemaah, kisah Sunasih menjadi pengingat bahwa haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin—tentang cinta, kehilangan, dan keikhlasan. Setiap jemaah memiliki cerita unik yang membawa makna mendalam dalam perjalanan mereka menuju Tanah Suci.







