Perjalanan Hidup Prof Dr KH Mohammad Bisri MS
Prof Dr KH Mohammad Bisri MS, mantan Rektor Universitas Brawijaya (UB) Malang periode 2014-2018, memiliki kisah hidup yang penuh dengan tantangan dan pesan moral. Ia lahir di kawasan Mbetek, Kota Malang, dari keluarga kiai kampung. Lingkungan sederhana ini menjadi fondasi karakter religius sekaligus aktif secara fisik.
Sejak kecil, Prof Bisri menghabiskan waktu antara sekolah, olahraga, dan mengaji. Siang hari ia akrab dengan permainan sepak bola, sedangkan malam hari diisi dengan belajar agama langsung dari sang ayah. Kehidupan ini membentuk kepribadiannya yang unik dan kuat.
Dalam wawancara eksklusif dengan Infomalangraya.com, Prof Bisri menceritakan perjalanan hidupnya. Ia menyebutkan bahwa kehidupan akademiknya justru berawal dari ketidaksengajaan. Awalnya, ia bercita-cita masuk jurusan manajemen ekonomi, tetapi gagal karena kalah bersaing dalam seleksi perguruan tinggi negeri. Tidak menyerah, ia mencoba kembali dan memilih jurusan Teknik Pengairan di UB Malang, yang relatif sepi peminat. Keputusan ini menjadi awal karier akademiknya hingga meraih gelar profesor, menjadi dekan pada 2013, dan terpilih sebagai Rektor UB pada 2014.
Pendirian Ponpes Bahrul Maghfiroh
Di tengah karier akademiknya, Prof Bisri juga terlibat dalam pendirian Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Maghfiroh. Awalnya, pesantren ini hanya berdiri di atas lahan sekitar 500 meter persegi pada tahun 1996. Saat itu, ia diajak oleh temannya untuk membangun ponpes. Berkat restu orang tua, ia berhasil mengembangkan ponpes tersebut.
Pesantren yang kini memiliki luas lahan hampir 4 hektare ini awalnya dikelola oleh adiknya, Gus Lukman. Prof Bisri memilih tidak ikut campur agar tidak terjadi dualisme kepemimpinan. Namun, titik balik terjadi pada 2017, saat adiknya wafat. Sebulan sebelum meninggal, adiknya sempat mengajak Bisri berkeliling pesantren, sebuah momen yang kemudian ia anggap sebagai pesan terakhir untuk melanjutkan perjuangan.
Perubahan Pola Pendidikan Pesantren
Saat mulai mengasuh, Prof Bisri melihat pola lama pesantren yang menurutnya perlu diperbaiki. Ia menolak stigma bahwa pesantren adalah tempat penitipan anak nakal. Menurutnya, pondok itu tempat mencari ilmu agama dan mengamalkannya, bukan tempat anak-anak nakal.
Ia kemudian menerapkan sistem seleksi santri dan mengubah arah pendidikan pesantren menjadi lebih terstruktur. Salah satu gebrakan terbesar Prof Bisri adalah menggabungkan pendidikan agama (din) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (sains). Menurutnya, keberhasilan dunia dan akhirat harus ditempuh dengan dua jenis ilmu tersebut secara bersamaan.
Konsep ini diwujudkan dalam berbagai program, mulai dari kewirausahaan santri, pelatihan kerja, hingga pengembangan unit usaha seperti peternakan, budidaya, hingga produksi. Pesantren juga dilengkapi laboratorium digital dan Artificial Intelligence (AI), serta studio multimedia kreatif untuk menunjang keterampilan santri di era modern.
Visi Pendidikan Berbasis Internasional
Ke depan, Prof Bisri berencana mengembangkan pendidikan berbasis internasional dengan standar Cambridge, termasuk penggunaan bahasa Inggris dalam pembelajaran. Langkah ini menjadi bagian dari visinya mencetak santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu bersaing secara global.
Di akhir wawancara, Prof Bisri berpesan agar santri tidak hanya fokus pada ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu dunia. Menurutnya, umat Islam harus berada di garis depan dalam memimpin peradaban.
- Belajarlah dua-duanya (ilmu agama dan ilmu dunia).
- Supaya kita bisa mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Islam harus memimpin, bukan tertinggal.







