Peran Selat Hormuz dalam Perdagangan Energi Global
Selat Hormuz, yang berada di antara Oman dan Uni Emirat Arab serta Iran, merupakan jalur pelayaran paling strategis di dunia. Dengan lebar sekitar 33 kilometer pada titik terkecilnya, jalur ini menjadi penghubung antara Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sebagai salah satu rute pelayaran energi terpenting di dunia, selat ini memainkan peran kritis dalam distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Dalam beberapa bulan terakhir, situasi di kawasan ini semakin memanas. Serangan mendadak dari Israel ke wilayah Iran pada 13 Juni 2025 memicu ketegangan yang semakin meningkat. Meski hingga saat ini belum ada gangguan langsung terhadap aktivitas pelayaran, tekanan terhadap jalur ini telah mengakibatkan lonjakan tarif pengiriman laut. Perusahaan intelijen logistik Xeneta melaporkan bahwa tarif spot rata-rata naik 55 persen dibanding bulan sebelumnya.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Pada Minggu (1/3/2026), Iran secara resmi menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengirimkan siaran radio frekuensi tinggi kepada kapal-kapal di kawasan Teluk, menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diperbolehkan melintasi jalur tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah ini diprediksi akan mengguncang perdagangan energi global.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Selat Hormuz adalah urat nadi bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia. Setiap hari, diperkirakan 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi selat sempit ini. Dampak penutupan ini akan paling terasa di kawasan Asia, khususnya China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang menyerap hampir 70 persen arus minyak dari jalur ini.
Selain minyak, pasokan LNG global juga terancam karena Qatar sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspornya. Namun, analis dari JP Morgan menyebut tindakan ini sebagai “pedang bermata dua” bagi Iran, karena ekonomi negara itu sangat bergantung pada ekspor minyak berbasis laut.
Kenaikan Harga Minyak dan Risiko Inflasi Global
Harga minyak mentah dunia mulai bergejolak akibat ketidakpastian keamanan di jalur yang hanya memiliki lebar pelayaran efektif sekitar 3 kilometer. Goldman Sachs memperkirakan blokade di selat strategis ini bisa mendorong harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel. Lonjakan ini berisiko meningkatkan biaya produksi dan pada akhirnya mengerek harga konsumen, terutama untuk produk-produk padat energi seperti pangan, pakaian, dan bahan kimia.
Negara-negara pengimpor minyak dapat menghadapi inflasi lebih tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi jika konflik berkepanjangan. Hal ini berpotensi membuat bank sentral menunda rencana penurunan suku bunga. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gangguan besar terhadap pasokan minyak global biasanya tidak berlangsung lama. Contohnya, saat Perang Teluk kedua pada 2003, harga minyak sempat melonjak 46 persen, tapi turun kembali menjelang dimulainya operasi militer pimpinan AS.
Tindakan Rusia dan Peran Dunia
Rusia mengecam serangan Israel-AS ke Iran dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi. Lavrov menilai serangan tersebut melanggar prinsip dan norma hukum internasional serta mengabaikan konsekuensi serius bagi stabilitas dan keamanan regional dan global. Ia menyatakan kesiapan Rusia untuk memfasilitasi pencarian solusi damai berdasarkan hukum internasional, saling menghormati, dan keseimbangan kepentingan.
Araghchi memberi tahu Lavrov tentang langkah-langkah yang diambil oleh kepemimpinan Iran untuk menolak “agresi” AS dan Israel. Iran berencana untuk segera mengadakan pertemuan Dewan Keamanan PBB, menurut pernyataan tersebut. Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu pagi dengan nama “Raungan Singa,” dan menyatakan keadaan darurat “khusus dan segera” di seluruh negeri.





