Fenomena Gas Tawa yang Menyebar di Eropa dan Kini Muncul di Indonesia
Gas tawa atau nitrous oxide, yang selama ini digunakan untuk tujuan rekreasi, kini menjadi perhatian global. Di klub-klub Eropa, gas ini sempat populer dan dijual dalam bentuk balon. Namun, kini fenomena ini mulai muncul di Indonesia setelah kematian selebgram Lula Lahfah yang diduga berkaitan dengan penggunaan gas tersebut.
Di Eropa, popularitas gas tawa meningkat pesat. Di Amsterdam, Belanda, misalnya, gas ini bisa diperoleh dengan harga murah, hanya 5 Euro per balon (sekitar Rp 80 hingga Rp 85 ribu). Pada 2022, penggunaan gas ini masih bebas. Namun, sejak 1 Januari 2023, pemerintah Belanda melarang penjualan secara bebas. Nitrous oxide kini masuk ke dalam daftar II Undang-Undang Opium (Opiumwetbesluit) karena risiko kesehatan yang serius. Sementara itu, Prancis dan Jerman juga memperketat penjualan dan konsumsi gas ini di ruang publik.
Gas tawa biasanya dihirup melalui balon yang diisi dari tabung atau kartrid. Popularitasnya meningkat karena harganya terjangkau, mudah didapat, serta efeknya cepat hilang. Namun, meski efeknya singkat, penggunaan berulang dapat menyebabkan kerusakan saraf dan gangguan pernapasan.
Aparat penegak hukum Eropa menganggap tren ini sebagai masalah serius. Audrey Dereymaeker, juru bicara Kepolisian Brussels-North, mengatakan bahwa mereka sering menemukan tabung dan balon bekas nitrous oxide di kawasan hiburan dan sekitar stasiun. Hal ini menunjukkan penggunaan yang luas dan sulit dikendalikan.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh otoritas kesehatan Uni Eropa. Alexis Goosdeel, direktur European Monitoring Centre for Drugs and Drug Addiction (EMCDDA), menegaskan bahwa gas tawa tidak boleh dianggap remeh. “Banyak pengguna merasa ini zat ringan karena efeknya singkat. Padahal penggunaan berulang dapat menyebabkan kerusakan saraf serius dan gangguan pernapasan,” katanya.
Lonjakan kasus gangguan kesehatan, kecelakaan lalu lintas, hingga kematian membuat sejumlah negara mengambil langkah tegas. Beberapa negara seperti Belanda, Prancis, dan Jerman telah melarang penggunaan gas tawa secara bebas.
Isu Gas Tawa di Indonesia Setelah Kematian Selebgram Lula Lahfah
Berjarak 14 ribu kilometer dari Amsterdam ke Jakarta, isu gas tawa kini menjadi perhatian publik Indonesia setelah kematian selebgram Lula Lahfah viral di media sosial. Banyak unggahan mengaitkan kematian tersebut dengan dugaan overdosis gas yang populer disebut “balon”.
Menanggapi spekulasi tersebut, kepolisian Indonesia menegaskan belum ada kesimpulan resmi terkait penyebab kematian Lula Lahfah. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyampaikan pernyataan langsung kepada media. “Benar, seorang perempuan berinisial LL ditemukan meninggal dunia di sebuah unit apartemen. Saat ini kami masih melakukan olah TKP dan penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak menyimpulkan penyebab kematian sebelum hasil pemeriksaan medis keluar. “Untuk memastikan penyebab kematian, harus dilakukan pemeriksaan secara scientific melalui autopsi,” kata Budi Hermanto.
Menurut kepolisian, hingga saat ini belum ada keterangan resmi yang menyebutkan keterkaitan langsung antara kematian Lula Lahfah dengan nitrous oxide atau zat tertentu lainnya.







