Festival Budaya Caka Fest 2026 di Kediri Tampilkan 15 Ogoh-Ogoh dengan Drama Teatrikal
Festival budaya Caka Fest 2026 yang digelar di kawasan Museum Sri Aji Joyoboyo, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, berlangsung meriah pada malam hari tanggal 8 Maret 2026. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan Tahun Baru Saka dan Hari Raya Nyepi tahun 2026.
Sebanyak 15 ogoh-ogoh dari berbagai kecamatan ditampilkan dalam festival ini. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, setiap ogoh-ogoh kali ini tidak hanya diarak tetapi juga dipentaskan melalui drama teatrikal yang menceritakan kisah di balik masing-masing karya. Acara inti dimulai setelah waktu Magrib dan langsung menarik perhatian banyak pengunjung.
Amphitheater di belakang museum dipadati penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan tersebut. Bahkan, penonton membludak hingga ke area bawah tribun karena antusiasme yang tinggi. Festival budaya ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri dengan melibatkan pemuda Hindu dari berbagai wilayah.
Selain menjadi bagian dari rangkaian perayaan Nyepi, kegiatan ini juga menjadi ruang kreativitas bagi generasi muda sekaligus simbol toleransi antarumat beragama di tengah bulan Ramadan.
Perubahan Lokasi untuk Kenyamanan Masyarakat
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri, Patarina, menjelaskan bahwa perubahan lokasi acara dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi masyarakat sekaligus mengantisipasi kemacetan lalu lintas. Sebelumnya, Caka Fest digelar di Tugu Garuda Pare, namun karena lokasi tersebut merupakan fasilitas umum, ada beberapa kendala terutama terkait lalu lintas.
“Kita pilihkan di Dinas Pariwisata sini untuk kegiatan Saka Fest ketiga,” imbuh Patarina. Rangkaian kegiatan sebenarnya sudah dimulai sejak pagi hari dengan pameran ogoh-ogoh yang berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIB.
Setelah itu, karya-karya ogoh-ogoh dinilai oleh tim juri sebelum ditampilkan dalam parade dan pertunjukan pada sore hingga malam hari. Peserta sudah melakukan loading dari kemarin untuk membawa ogoh-ogohnya ke sini, karena ukuran ogoh-ogoh yang cukup besar.
Tim Juri dari Luar Wilayah
Tim juri yang melakukan penilaian didatangkan dari luar wilayah Kediri guna menjaga objektivitas. Beberapa di antaranya berasal dari unsur dinas kebudayaan serta perwakilan dari daerah Malang dan Tengger. “Penilaian dilakukan oleh tim juri yang kita ambil dari luar wilayah Kediri, di antaranya dari unsur dinas kebudayaan serta perwakilan dari Malang dan Tengger,” terangnya.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kediri, Yuliono, menjelaskan konsep kegiatan disesuaikan dengan situasi bulan Ramadan agar tetap menghormati umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa. “Berdasarkan rapat koordinasi dengan FKUB Kabupaten Kediri, kegiatan ini tetap dilaksanakan dengan tujuan yang baik dan saling menghargai antarumat beragama,” ujarnya.
Pembukaan acara dilakukan menjelang waktu berbuka puasa, kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama di lokasi kegiatan. Pertunjukan ogoh-ogoh sempat dihentikan sementara saat waktu salat Isya dan Tarawih sebelum kembali dilanjutkan. “Setelah salat Tarawih selesai, baru kegiatan dilanjutkan kembali. Jadi kita atur agar semua pihak merasa nyaman. Intinya kita saling menghargai,” tambahnya.
Tujuan Festival Budaya
Pihaknya menjelaskan bahwa festival ini bertujuan memperkenalkan potensi wisata budaya di Kabupaten Kediri, sekaligus pengenalan Museum Sri Aji Joyoboyo sebagai ruang kegiatan budaya. “Tujuannya juga ingin membranding museum itu sendiri, sekaligus ogoh-ogohnya. Kita ingin mengenalkan kepada masyarakat luar bahwa Kediri juga punya kebudayaan yang sangat unik dan tidak kalah dengan daerah-daerah lainnya,” jelasnya.
Sebagian besar ogoh-ogoh yang ditampilkan tahun ini mengusung tema budaya Jawa dengan sentuhan motif batik. Selain pameran ogoh-ogoh, festival ini juga melibatkan pelaku UMKM yang membuka stan di area kegiatan.
Harapan Masa Depan
Ke depan, Caka Fest dapat terus berkembang dan menjadi agenda budaya tahunan di Kabupaten Kediri yang mampu menarik lebih banyak wisatawan. “Harapan ke depan, Saka Fest ini bisa menjadi ajang tahunan. Karena dengan adanya Saka Fest ini, saya percaya jika kita melestarikan budaya, maka masyarakat akan menganggap bahwa ini adalah jati diri kita,” pungkasnya.






