Pemerintah Jawa Tengah Berkomitmen Lawan Hoaks
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan komitmen kuat untuk melawan hoaks sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan, memperkuat kepercayaan publik, dan menciptakan iklim investasi yang sehat. Gubernur Ahmad Luthfi menyampaikan hal tersebut dalam seminar “Wonosobo Melawan Hoaks” bersama narasumber nasional terkemuka.
Seminar ini diadakan di Gelanggang Olahraga Kampus Universitas Sains Alquran (NSIQ 2) pada Sabtu (25/4/2026). Acara ini diinisiasi oleh Gerakan Mantap Pilih Prabowo (GMPP) pimpinan Mantep Abdul Gani, seorang tokoh lokal Wonosobo. Hadir dalam acara ini sejumlah narasumber nasional seperti Prof. Iswandi Syahputra (Guru Besar UIN Jakarta), Indra Jaya Piliang, serta Hersubeno Arief yang dikenal sebagai wartawan senior.
Dalam sambutannya, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa hoaks dan disinformasi merupakan ancaman nyata yang dapat memecah belah masyarakat serta menghambat pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya informasi yang benar sebagai alat untuk membangun, bukan memecah belah.
Koordinator Nasional GMPP, Mantep Abdul Gani, juga menegaskan perlunya stabilitas untuk membangun Wonosobo. Menurutnya, kota ini memiliki potensi besar untuk berkembang tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai kawasan investasi dan kota residensial.
Peserta Seminar Dari Berbagai Kalangan
Seminar ini dihadiri lebih dari 3.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pengemudi ojek online, hingga masyarakat umum. Acara ini juga menjadi momentum Deklarasi Wonosobo Melawan Hoaks yang dipimpin oleh Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat bersama GMPP.
Dalam deklarasi tersebut, seluruh peserta menyatakan komitmen bersama menolak segala bentuk hoaks, disinformasi, dan informasi menyesatkan. Mereka berjanji untuk menjadi pengguna media digital yang bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Contoh Hoaks yang Menyebar
Hersubeno Arief, produsen konten dan wartawan senior, memberikan contoh-contoh konkret hoaks yang baru saja terjadi di jagad media sosial dan sangat berbahaya jika dipercaya. Misalnya, pernyataan mantan wakil presiden Jusuf Kalla yang dipelintir menjadi hoax. “Hoaks ini kalau dipercaya bisa memicu permusuhan antara umat beragama,” ujarnya.
Ia juga menyebut adanya hoaks yang menyatakan Jusuf Kalla meninggal dan sudah 2500 orang yang menshare. Namun, setelah dicek ke berbagai kanal resmi media baik mainstream maupun media sosial, tidak ada informasi tersebut.
Saran dari Narasumber Senior
Narasumber lain, Indrajaya Pilliang, wartawan senior menyarankan jangan percaya setiap informasi yang masuk ke ponsel pintar kita. “Metode di jurnalistik adalah tidak mempercayai setiap informasi yang datang ke kita. Cek dulu kebenarannya melalui berbagai jalur bisa seperti google atau berbagai platform AI,” kata Indra J Piliang host dari Madilog Podcast.
Prof Iswandi Saputra, Staf Ahli Kemenag RI, menjelaskan bedanya hoaks dan mitos. “Hoax biasanya terkait politik dan kekuasaan, bukan kebenaran, kalau mitos terkait budaya yang telah menjadi keyakinan,” kata Prof Iswandi Saputra.
Cara Menghentikan Penyebaran Hoaks
Hoaks menyebar dengan cepat karena algoritma dan sistem insentif di media sosial mendorong itu. “Cara menghentikan hoax tidak cepat menyebar adalah dengan tidak melanjutkan menonton video hoax sebelum lima detik. Karena setelah lima detik kita sama saja memberikan gift, like, adsense ke pembuat hoax,” kata Prof Iswandi.
Para narasumber sepakat dengan pernyataan para pejabat yang hadir di seminar ini, bahwa diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan tokoh nasional, Wonosobo. Dengan itu, Wonosobo diharapkan mampu berkembang sebagai daerah yang tidak hanya unggul di sektor pariwisata, tetapi juga memiliki ketahanan sosial yang kuat dan daya tarik investasi yang tinggi.
“Dari Wonosobo, kami menyatakan melawan hoaks adalah langkah nyata menjaga kebenaran, menjaga persatuan, dan menjaga masa depan Indonesia,” kata dia.







