Kehilangan yang Mendalam: Kisah Detik-Detik Terakhir Pasien yang Meninggal dalam Kebakaran Rumah Sakit
YL, istri dari korban yang meninggal dunia dalam kebakaran gedung Pusat Pelayanan Jantung Terpadu (PPJT) RSUD Dr Soetomo Surabaya, menceritakan pengalamannya saat suaminya dievakuasi. Ia mengungkapkan rasa kaget dan kebingungan yang dialaminya ketika mengetahui bahwa suaminya adalah satu dari dua orang yang dievakuasi terakhir.
Pada momen evakuasi, YL sempat mencari keberadaan suaminya yang sedang terbaring di ruang perawatan lantai enam. Meskipun sebagian besar pasien telah dievakuasi oleh petugas rumah sakit, ia merasa khawatir karena suaminya belum juga turun.
“2 orang (yang belum dievakuasi). Saya nyari sana sini, ternyata masih tinggal di atas 2 orang. Yang pertama sudah turun. Yang kedua bapake terakhir,” ujarnya dengan suara serak dan air mata yang tak henti mengalir.
Seingat YL, suaminya dievakuasi menggunakan tandu oleh petugas pemadam kebakaran bersama tim rumah sakit. Saat itu, kondisi suaminya sudah sangat lemas. Setelah tiba di lantai dasar, ia dinyatakan tidak bernyawa.
Kondisi kelistrikan gedung padam pada saat evakuasi, sehingga mereka harus turun melalui tangga darurat. YL juga membenarkan bahwa suaminya masih mengenakan alat bantu medis seperti ventilator dan CRRT.
Penjelasan Pihak Rumah Sakit tentang Kematian Korban
Penanggung jawab evakuasi pasien RSUD Dr Soetomo, dr Rizal, menjelaskan bahwa kondisi korban sebelum kejadian kebakaran sudah sangat memburuk. Menurutnya, korban merupakan pasien yang baru saja menjalani penanganan medis dan dirujuk dari fasilitas pelayanan kesehatan lain.
Selama berada di ruangan perawatan, alat medis seperti ventilator dan CRRT masih terpasang dan menyala. dr Rizal menegaskan bahwa korban tidak meninggal akibat paparan asap dari kebakaran di lantai lima.
“Di saat temukan pasien, dengan kondisi buruk tersebut, sebenarnya semua alat medis masih terpasang dan masih menyala. Jadi semua baterai semua alat-alat medis, seperti ventilator, CRRT, itu masih ada,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa ruangan di lantai enam tidak terdapat asap sebanyak di lantai lima. Selain itu, ventilator masih menyala dan sirkuitnya tertutup, sehingga kemungkinan besar korban tidak mengalami keracunan gas atau asap.
Rekam Medis Pasien Korban Meninggal
Dokter Spesialis Bedah Torak dan Kardiovaskular, dr Thomas Jatiman, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi korban. Menurutnya, pasien datang ke rumah sakit dengan kondisi kritis setelah dirujuk dari fasilitas kesehatan lain.
“Pasien ini sudah kritis sejak awal. Dan saat kejadian, pasien itu, dengan penopang hidup alat untuk cuci darah. Sehingga kondisi pasien untuk saat itu, kritis,” katanya.
dr Thomas menjelaskan bahwa pasien sudah menjalani proses cuci darah di lantai enam sebelum insiden kebakaran terjadi. Namun, kondisi kesehatannya yang memburuk diduga menjadi penyebab utama kematian korban.
Penanganan Medis Saat Evakuasi
Kepala Anestesi Ruang IGD RSUD Dr Soetomo, dr Airi Mutiar, menceritakan bagaimana tim medis langsung memberikan penanganan darurat kepada korban setelah dievakuasi dari lantai enam.
“Kami dari tim medis, bersama dr Rizal, sudah secara simultan melakukan resusitasi, dan itu tetap dievakuasi ke ruang resusitasi di IGD, kami tetap melakukan resusitasi,” ujar dr Airi.
Namun, meskipun dilakukan upaya resusitasi seperti pijat jantung dan pemberian oksigen, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan. Akhirnya, korban dinyatakan meninggal dunia di ruang ICU.
Kesimpulan
Kasus kematian korban dalam kebakaran gedung PPJT RSUD Dr Soetomo Surabaya menunjukkan betapa pentingnya persiapan dan protokol evakuasi yang baik. Dengan kondisi pasien yang sudah kritis sejak awal, serta faktor-faktor eksternal seperti kebakaran dan pemadaman listrik, situasi menjadi sangat sulit.






