Pengertian Hari Tasyrik dalam Islam
Hari Tasyrik adalah momen penting dalam kalender bulan Zulhijjah, yang menjadi bagian dari perayaan Idul Adha. Hari ini berlangsung selama tiga hari, yaitu tanggal 11 hingga 13 Zulhijjah, yang pada tahun 2026 jatuh pada 28 hingga 30 Mei. Pada periode ini, umat Islam dilarang menjalankan puasa, baik puasa sunnah maupun wajib.
Hari Tasyrik memiliki makna khusus karena berkaitan dengan penyembelihan dan pengolahan daging kurban. Dalam sejarahnya, istilah “tasyrik” berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan proses menjemur daging di bawah sinar matahari, terutama pada masa awal Islam ketika teknologi penyimpanan belum ada. Masyarakat kala itu menjemur daging agar bisa disimpan lebih lama sebagai cadangan makanan.
Meski tidak boleh berpuasa, umat Islam tetap dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah seperti:
- Berdzikir dan bertakbir setelah salat fardu.
- Bersedekah dan mempererat silaturahmi.
- Melaksanakan penyembelihan hewan kurban jika masih dalam waktu yang diperbolehkan.
Hari ini juga dimaknai sebagai momen penuh syukur, di mana umat Islam dapat menikmati rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Asal Usul dan Makna Hari Tasyrik
Istilah “tasyrik” berasal dari kata “syarraqa” dalam bahasa Arab yang berarti “matahari terbit atau menjemur sesuatu”. Ada dua pendapat mengenai alasan penamaan hari ini:
Masa Awal Islam
Pada masa Rasulullah SAW, masyarakat tidak memiliki teknologi pendingin seperti kulkas. Oleh karena itu, daging kurban yang melimpah di hari Idul Adha dijemur di bawah sinar matahari agar bisa disimpan dalam jangka panjang.Waktu Penyembelihan Kurban
Hari Tasyrik juga merupakan waktu ketika umat Islam melakukan penyembelihan hewan kurban setelah matahari terbit. Larangan berpuasa pada hari ini dilakukan agar umat dapat menikmati hidangan dari daging kurban.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan qurban ketika menunaikan haji.” (HR. Bukhari, no. 1859)
Selain itu, beliau juga menyebutkan bahwa hari Tasyrik adalah hari raya bagi umat Islam, di mana mereka diperbolehkan untuk makan dan minum. Sabda beliau:
“Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, serta merupakan hari-hari untuk makan dan minum.” (HR. An-Nasa’i, no. 2954)
Amalan Sunnah yang Bisa Dilakukan Saat Hari Tasyrik
Meskipun tidak diperbolehkan berpuasa, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah seperti:
- Banyak zikir, terutama takbir setelah salat fardu yang dikenal sebagai Takbir Muqayyad.
- Menikmati makan dan minum sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.
- Memperbanyak sedekah, mempererat silaturahmi, dan menyembelih hewan kurban jika masih dalam waktu yang diperbolehkan.
- Membaca doa dan meningkatkan amal saleh lainnya untuk mengisi hari ini dengan nilai-nilai spiritual.
Selain itu, surat Al-Kautsar ayat 2 juga mengingatkan umat Islam untuk laksanakan shalat dan berqurban:
“Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurban lah!”
Keistimewaan Hari Tasyrik
Hari Tasyrik memiliki keutamaan tersendiri dalam ibadah. Dari sahabat Ibnu Abbas ra., Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidak ada amal pada hari-hari ini yang lebih utama daripadanya di hari-hari ini.” (HR Bukhari)
Hal ini menunjukkan bahwa hari ini adalah momen yang sangat istimewa untuk meningkatkan kualitas spiritual dan keimanan umat Islam.







