Kritik terhadap Penilaian Juri dalam Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR
Insiden penilaian juri yang menyalahkan jawaban benar dalam lomba cerdas cermat Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson. Peristiwa ini menunjukkan adanya ketidakadilan dalam proses penilaian dan menimbulkan pertanyaan tentang transparansi serta profesionalisme penyelenggara.
Penilaian yang Dinilai Tidak Objektif
Dalam lomba tersebut, salah satu regu peserta dinyatakan salah meskipun jawaban mereka dinilai sama dengan jawaban tim lain yang dianggap benar. Hal ini membuat Harisson merasa geram karena proses penilaian dianggap tidak mencerminkan rasa keadilan bagi peserta lomba.
Menurut Harisson, jawaban peserta sebenarnya sudah tepat, sehingga pengurangan poin dinilai tidak seharusnya terjadi. Ia menilai polemik tersebut perlu menjadi perhatian serius karena menyangkut kredibilitas perlombaan pendidikan.
Dugaan Gangguan Speaker
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, mengungkapkan bahwa salah satu dugaan penyebab kesalahpahaman dalam perlombaan berasal dari gangguan speaker yang mengarah ke meja dewan juri.
“Informasi yang saya terima, speaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan sehingga jawaban peserta kurang terdengar jelas,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa suara terdengar jelas di live YouTube dan ke audiens penonton.
Faisal kemudian meminta pihak sekolah tetap mengikuti mekanisme resmi yang berlaku dengan mengajukan permohonan peninjauan ulang kepada penyelenggara lomba.
Kronologi Jawaban Peserta yang Benar tapi Disalahkan
Peristiwa bermula di babak final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalbar yang mempertemukan tiga sekolah unggulan: SMA Negeri 1 Pontianak, SMA Negeri 1 Sambas, dan SMA Negeri 1 Sanggau. Kompetisi ini sempat diikuti sembilan SMA se-Kalbar sebelum menyisakan tiga besar tersebut.
MC melemparkan pertanyaan: “DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?” Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab: “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”
Namun, juri justru mengurangi lima poin untuk Regu C. Setelah itu, Regu B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang sama dengan Regu C, tapi dianggap benar oleh juri.
Penjelasan dari Juri
Merespons hal tersebut, Regu C sempat menegaskan bahwa jawabannya sudah benar. Mereka juga meminta pandangan dari penonton sebagai bukti. Namun, keberatan dari Regu C sama sekali tidak diterima oleh juri.
“Begini, ya, kan sudah diperingatkan dari awal, ya, artikulasi itu penting,” kata Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI Indri Wahyuni. “Jadi, biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas, ya. Kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak, karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya, itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus lima,” tambahnya.
Penilaian Seharusnya Objektif
Harisson menegaskan, penilaian seharusnya dilakukan secara objektif tanpa terpaku pada redaksi kalimat apabila juri benar-benar memahami materi.
“Kalau kita sudah paham materi yang ditanyakan, tidak perlu lagi terus melihat tab. Cukup dengar jawaban anak-anak ini, kita langsung tahu substansinya benar atau tidak dan bisa langsung memberikan nilai,” ujar Harisson.
Ia juga menegaskan bahwa lomba yang digelar MPR seharusnya menjunjung tinggi nilai keadilan, objektivitas, dan sportivitas.
“Apalagi kita sedang berbicara tentang Empat Pilar MPR RI: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai keadilan dan objektivitas harus benar-benar dijunjung,” kata Harisson.







