Kembali Memanasnya Konflik di Selat Hormuz
Ketegangan militer di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat, menjadi pusat perhatian dunia. Situasi ini menunjukkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan sejak 8 April kini berada di ambang keruntuhan. Presiden Donald Trump tidak memberikan jawaban tegas mengenai status gencatan senjata tersebut, yang memicu spekulasi luas.
Trump menghindari menjawab secara langsung ketika ditanya apakah gencatan senjata masih berlaku. Ia menyatakan bahwa menjawab pertanyaan tersebut dapat disalahartikan sebagai kelemahan. “Saya tidak bisa memberi tahu Anda itu,” kata Trump kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt. “Jika saya menjawab pertanyaan tersebut, Anda akan mengatakan pria ini tidak cukup pintar untuk menjadi presiden.”
Runtuhnya Kesepakatan Damai
Runtuhnya gencatan senjata antara AS dan Iran tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh rangkaian aksi militer yang saling berbalas. Ketegangan meningkat setelah Washington menerapkan blokade terhadap jalur pelayaran menuju dan dari pelabuhan Iran, sebagai respons atas penutupan akses selat oleh Teheran.
Di tengah situasi ini, Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap kapal-kapal Amerika akan dibalas dengan kekuatan militer penuh. Operasi militer AS yang dikenal sebagai “Proyek Kebebasan” bertujuan mengamankan jalur pelayaran internasional yang terganggu akibat konflik, khususnya bagi kapal-kapal komersial yang terjebak di kawasan.
Namun, langkah tersebut justru memicu reaksi keras dari Iran, yang menyatakan bahwa kendali atas akses di Selat Hormuz berada di bawah otoritas mereka. Di sisi lain, AS mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal militer kecil milik Iran dalam upaya menjaga keamanan jalur laut.
Ledakan dan Kebakaran di Teluk Persia
Laporan dari lapangan menyebutkan adanya ledakan dan kebakaran yang menimpa beberapa kapal komersial di kawasan Teluk Persia, menambah kekhawatiran akan meluasnya dampak konflik. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menjadi sasaran serangan, menandai meluasnya dampak krisis di kawasan.
Untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diumumkan, UEA menghadapi serangan drone yang memicu kebakaran di salah satu pelabuhan minyak utama. Insiden ini memperkuat kekhawatiran bahwa situasi keamanan di kawasan belum sepenuhnya stabil. Hingga Senin malam (4/5/2026), Kementerian Pertahanan UEA mencatat sedikitnya 15 serangan udara yang diluncurkan dari Iran.
Serangan tersebut terdiri dari 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, serta empat drone, yang sebagian besar diklaim berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara. Meski demikian, intensitas serangan menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Dampak Global Terhadap Harga Minyak
Dampak krisis juga mulai terasa di tingkat global. Ketidakpastian di Selat Hormuz mendorong lonjakan harga minyak ke level tertinggi tahun ini. Mengingat selat tersebut merupakan jalur utama distribusi energi dunia, setiap gangguan terhadap arus pelayaran langsung memicu efek domino terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Situasi ini menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah yang meledak tidak hanya menjadi persoalan regional, tetapi telah berkembang menjadi ancaman global yang mempengaruhi rantai pasok energi dan keamanan perdagangan dunia.
Pernyataan dari Parlemen Iran
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyebut situasi di Selat Hormuz kini tidak tertahankan bagi Amerika Serikat, sementara Iran, menurutnya, bahkan belum memulai langkah apa pun. Dalam unggahan di X pada Selasa (5/5/2026), Qalibaf menegaskan bahwa tatanan baru tengah terbentuk di jalur perairan strategis tersebut.
“Keamanan pelayaran dan transit energi telah terancam oleh Amerika Serikat dan sekutunya melalui pelanggaran gencatan senjata serta pemberlakuan blokade,” tulis Qalibaf. “Tentu saja, kejahatan mereka akan berkurang.”
Ia menekankan bahwa Iran sepenuhnya menyadari tekanan yang kini dihadapi AS. “Kami tahu betul bahwa kelanjutan situasi saat ini tidak tertahankan bagi Amerika Serikat, sementara kami bahkan belum memulai,” tambahnya.
Eskalasi Konflik dan Ancaman Perang
Iran memberlakukan blokade terhadap pelayaran asing yang melintasi Selat Hormuz setelah konflik dimulai dengan serangan AS-Israel pada 28 Februari, yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi negara tersebut. Presiden AS Donald Trump kemudian memberlakukan blokade balasan terhadap kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan Iran pada 13 April.
Trump lalu meluncurkan “Proyek Kebebasan” yang bertujuan menggunakan militer AS untuk mengawal kapal kargo keluar dari jalur air strategis tersebut. Namun, langkah itu meningkatkan risiko pecahnya kembali perang, setelah komando pusat militer Iran memperingatkan akan menyerang kapal angkatan laut AS yang mendekati selat, mengutip The Guardian.
Mengutip PressTV, pasukan Iran telah berulang kali memperingatkan kapal perang AS agar tidak mendekati jalur air tersebut. Tidak ada lalu lintas komersial yang dilaporkan dalam beberapa jam terakhir, seiring Iran menegaskan hak kedaulatannya atas jalur laut vital ini.





