Percepatan Pertanian Berkelanjutan di Jepang
Jepang terus mempercekan pengembangan pertanian berkelanjutan untuk menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, kekurangan tenaga kerja, dan ketergantungan impor pangan. Salah satu daerah yang menjadi pusat inovasi adalah Prefektur Yamagata, yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras utama di Jepang.
Strategi MIDORI untuk Pertanian Ramah Lingkungan
Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) telah menyusun Strategi MIDORI untuk sistem pangan berkelanjutan sejak Mei 2021. Tujuan strategi ini hingga tahun 2050 mencakup pencapaian nol emisi dalam sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta pengurangan penggunaan pestisida dan pupuk kimia.
Selain itu, Jepang juga ingin membagikan teknologi dan inovasi yang dikembangkan melalui Strategi MIDORI kepada negara-negara ASEAN. Kedua belah pihak memiliki kondisi pertanian yang serupa, seperti iklim panas dan lembap serta banyaknya sawah yang dikelola oleh petani skala kecil dan menengah.
Salah satu teknologi yang dipromosikan adalah alternate wetting and drying (AWD), yaitu teknik pengelolaan air dengan mengeringkan sawah secara berkala sebelum kembali mengalirkan air ke lahan. Teknik ini dikembangkan berdasarkan metode tradisional Jepang yang disebut nakaboshi.
Penghematan Air dan Emisi Metana
Dibandingkan dengan metode yang membiarkan sawah terus-menerus tergenang, AWD dapat menghemat penggunaan air sekaligus mengurangi emisi metana. Gas metana disebut memiliki dampak terhadap pemanasan global sekitar 28 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Pertanian padi menyumbang sekitar 23 persen dari emisi gas rumah kaca sektor pertanian di Asia.
Kemitraan dengan Filipina dalam Pengurangan Emisi
Jepang juga mendorong penerapan teknologi AWD melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM). Melalui skema tersebut, pemerintah dan perusahaan Jepang bekerja sama dengan negara mitra dengan menyediakan teknologi serta pembiayaan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Jumlah pengurangan emisi kemudian dihitung berdasarkan kontribusi Jepang dan negara mitra.
Saat ini, Jepang dan Filipina tengah mempersiapkan penerbitan kredit bersama sektor pertanian pertama di dunia yang menggunakan teknologi AWD melalui proyek AWD-JCM.
Yamagata: Sentra Produksi Beras
Prefektur Yamagata dikenal sebagai salah satu sentra produksi beras utama di Jepang. Wilayah ini memiliki Dataran Shonai yang tanahnya subur dan kondisi iklimnya mendukung kegiatan pertanian. Yamagata menghasilkan sekitar 5 persen dari keseluruhan produksi beras Jepang berdasarkan data tahun fiskal 2023.
Di wilayah tersebut, berbagai upaya sedang dilakukan untuk mempertahankan pasokan pangan, mulai dari pengembangan varietas padi generasi baru yang tahan terhadap perubahan iklim, penggunaan teknologi pertanian pintar untuk mengurangi kebutuhan tenaga kerja, hingga penelitian foodtech.
Paddy Rice Research Institute
Salah satu pusat inovasinya adalah Paddy Rice Research Institute, bagian dari Yamagata Integrated Agricultural Research Center di Kota Tsuruoka. Lembaga penelitian yang berdiri sejak 1920 itu mengembangkan varietas baru yang disesuaikan dengan perubahan iklim dan kebutuhan budidaya berskala besar akibat kekurangan petani.
Lembaga tersebut juga meneliti teknik budidaya untuk menjaga kestabilan rasa, kualitas dan hasil panen, serta metode pengendalian hama yang dapat mengurangi pemakaian pestisida.
Varietas Yukimanten Tahan Suhu Tinggi
Pada 2024, Pemerintah Prefektur Yamagata memulai gerakan untuk mendorong budidaya padi yang mampu beradaptasi dengan pemanasan global. Gerakan tersebut bertujuan mengembangkan teknik pertanian yang dapat menjamin pasokan beras berkualitas secara stabil. Paddy Rice Research Institute berpartisipasi dengan memberikan informasi dan pendampingan kepada petani mengenai metode budidaya yang sesuai.
Saat ini lembaga tersebut sedang melakukan pengembangan dan uji coba budidaya varietas baru bernama Yukimanten. Varietas itu direncanakan mulai dipasarkan secara komersial pada 2027. Yukimanten memiliki ketahanan terhadap suhu tinggi, rasa dan tekstur yang baik, warna butir yang putih, serta produktivitas tinggi. Varietas tersebut diharapkan menjadi salah satu pilihan utama dalam menghadapi perubahan iklim dan kekurangan tenaga kerja pertanian.







