Pengembangan Robot Pelayan Restoran yang Lebih Adaptif
Sebuah inovasi menarik datang dari seorang mahasiswa di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) yang mampu mengembangkan robot pelayan restoran dengan kemampuan unik. Muhammad Ridwan, mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI), berhasil menciptakan robot yang tidak hanya mampu bergerak dari satu titik ke titik lain, tetapi juga dapat mendeteksi dan membedakan kondisi orang yang berada di jalurnya.
Robot ini dirancang untuk mengantar makanan secara mandiri. Namun, yang membuatnya berbeda adalah kemampuannya dalam merespons lingkungan yang dinamis. Ridwan menyadari bahwa kebanyakan robot pengantar makanan saat ini hanya mampu bergerak dan menghindari rintangan secara umum. Dari situ, ia terinspirasi untuk menciptakan robot yang lebih adaptif terhadap aktivitas manusia di lingkungan restoran.
Pendekatan Teknologi yang Digunakan
Dalam pengembangannya, Ridwan menggabungkan dua teknologi utama, yaitu Nav2 pada ROS 2 dan YOLOv11. Nav2 digunakan sebagai sistem navigasi otonom yang memungkinkan robot melakukan pemetaan area, menentukan rute, serta menghindari rintangan secara dinamis. Sementara itu, YOLOv11 berperan dalam computer vision, sehingga robot mampu mendeteksi objek dan manusia secara real-time selama beroperasi di lingkungan restoran.
Perpaduan kedua teknologi ini menjadi kunci dalam membuat robot tidak hanya “tahu” ke mana harus pergi, tetapi juga mampu merespons kondisi yang ditemuinya selama perjalanan. Misalnya, ketika robot mendeteksi seseorang sedang berdiri dan menghalangi jalurnya, robot akan memberikan suara “permisi” dan menunggu beberapa detik. Jika orang tersebut masih berada di jalur, robot akan mencari rute alternatif agar perjalanan menuju lokasi tujuan tetap dapat dilakukan.
Sementara itu, jika robot mendeteksi orang dalam posisi duduk, kondisi tersebut langsung dianggap sebagai hambatan tetap, sehingga robot melakukan perencanaan ulang rute. Konsep ini menjadi salah satu keunikan dari robot yang dikembangkan Ridwan, karena robot tidak hanya mengandalkan sistem navigasi otomatis, tetapi juga dirancang memiliki respons yang lebih human-aware atau menyesuaikan perilaku manusia di lingkungan sekitarnya.
Tantangan dalam Proses Pengembangan
Meskipun hasilnya menjanjikan, proses menciptakan robot tersebut tidak mudah. Ridwan mengakui adanya beberapa tantangan dalam pengembangannya. Kesulitan utama berada pada proses mengintegrasikan sistem navigasi, hasil deteksi kamera, dan kendali motor agar seluruh komponen dapat bekerja secara real-time. Selain itu, ia juga harus melalui berbagai tahapan pengujian, mulai dari pengumpulan dataset, pelatihan YOLO, tuning parameter Nav2, hingga memastikan robot mampu memberikan respons berbeda ketika berhadapan dengan orang yang berdiri, orang yang duduk, maupun benda mati.
Peran Dosen Pembimbing
Menurut Ghufron M.Kom, dosen pembimbing Tugas Akhir Ridwan, penelitian ini memadukan konsep teoritis dengan kebutuhan riil industri. Ia menilai pengembangan robot pelayan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan di sektor restoran.
“Riset ini memadukan konsep teoritis dengan kebutuhan riil industri. Integrasi Nav2 dan YOLOv11 diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan dalam pengembangan service robot di Indonesia,” ujar Ghufron.
Keunggulan dan Potensi Masa Depan
Dengan integrasi teknologi yang canggih, robot yang dikembangkan Ridwan dirancang mampu bergerak secara mandiri dari satu lokasi ke lokasi lain dan mengantar pesanan menuju meja pelanggan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan. Hal ini menjadikannya sebagai solusi yang sangat relevan dalam konteks industri layanan yang semakin berkembang.







