Pengiriman Minyak Mentah Pertama dari Amerika Serikat ke Jepang
Kapal tanker pembawa minyak mentah asal Amerika Serikat (AS) tiba di Teluk Tokyo pada Minggu (26/4/2026). Ini menandai pengiriman pertama dari AS sejak pecahnya konflik di Iran pada akhir Februari lalu, yang memicu gangguan pasokan energi global. Langkah ini merupakan bagian dari strategi darurat Jepang untuk mengurangi ketergantungan energi pada Timur Tengah setelah penutupan efektif Selat Hormuz.
Alur Pengiriman dan Distribusi Minyak di Jepang
Kapal tersebut membawa sekitar 145 ribu kiloliter (910 ribu barel) minyak mentah. Muatan ini setara dengan kurang dari satu hari konsumsi domestik Jepang. Kapal tersebut berangkat dari Texas pada 22 Maret 2026. Rute yang ditempuh melalui Terusan Panama yang dapat menampung kapal-kapal yang lebih kecil, guna menghindari zona konflik di Timur Tengah.
Minyak tersebut dibeli oleh Cosmo Oil, anak perusahaan Cosmo Energy Holdings. Pengolahannya akan dialirkan melalui pipa bawah laut menuju kilang di Prefektur Chiba untuk diolah menjadi bensin dan produk petroleum lainnya.
Jepang Mendiversifikasi Sumber Energi di Luar Timur Tengah

Dengan ketergantungan lebih dari 90 persen pada minyak Timur Tengah, blokade Selat Hormuz memaksa Tokyo untuk merombak peta pengadaan energinya secara drastis. Pemerintah akan terus berupaya untuk memastikan pasokan minyak mentah yang stabil melalui jalur alternatif, kata Kementerian Perekonomian Jepang.
Pemerintah Jepang memproyeksikan impor minyak mentah dari AS pada Mei akan melonjak hingga empat kali lipat, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain Washington, Tokyo juga tengah menjajaki peningkatan pasokan dari Amerika Selatan dan Asia Tengah untuk mengurangi risiko gangguan energi jangka panjang akibat perang.
Presiden Meksiko: Jepang Telah Lama Meminta Ekspor Minyak

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan kesiapannya untuk memenuhi permintaan jangka panjang Negeri Sakura terkait pasokan minyak mentah. Hal ini disampaikannya pada 21 April 2026, menyusul pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sehari sebelumnya.
Sheinbaum mengungkapkan bahwa kedua pemimpin sepakat memperkuat kerja sama energi di tengah ketidakpastian situasi di Timur Tengah. Ia juga mengonfirmasi bahwa Tokyo telah lama meminta perusahaan minyak negara, Pemex, untuk memprioritaskan ekspor ke Jepang.
Ia menegaskan ekspor akan difokuskan pada volume surplus yang tidak terserap oleh kilang domestik Meksiko. Berdasarkan komitmen bilateral, sudah terdapat kesepakatan awal mengenai kuota tertentu yang siap dikirimkan ke Jepang.
Meskipun menyambut baik kerja sama ini, kesepakatan tersebut mendapat tantangan logistik mengingat produksi minyak Meksiko yang cenderung menurun dalam beberapa tahun terakhir. Belum ada rincian spesifik mengenai volume pasti surplus yang tersedia untuk diekspor ke Jepang dalam waktu dekat.






