Serangan di Universitas Sharif: Kecaman dari Wakil Presiden Iran
Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, menuduh Amerika Serikat menggunakan bom “penghancur bunker” untuk menargetkan sebuah universitas di Teheran. Penyerangan ini terjadi pada Senin pagi dan menjadi perhatian utama setelah kampus universitas terkemuka, Universitas Sharif, menjadi sasaran.
“Serangan bom penghancur bunker di Universitas Sharif adalah simbol kegilaan dan ketidaktahuan Trump,” kata Aref dalam postingannya di X. Bom jenis ini biasanya digunakan untuk menghancurkan gedung hingga ke level bawah tanah. Ia menekankan bahwa pengetahuan Iran tidak bisa dihancurkan oleh bom, karena benteng sebenarnya adalah tekad para profesor dan elit pendidikan.
Aref, yang merupakan lulusan Universitas Stanford, menambahkan bahwa tidak ada kebiadaban dalam sejarah yang mampu merampas ilmu pengetahuan dari masyarakat Iran. Menurutnya, ilmu pengetahuan berakar pada jiwa bangsa ini, dan benteng tersebut tidak akan runtuh.
Pihak AS belum memberikan komentar terkait serangan tersebut. Universitas Sharif sering dibandingkan dengan Institut Teknologi Massachusetts (MIT) di AS karena perannya dalam memajukan studi ilmiah di Iran. Beberapa profesor yang berafiliasi dengan universitas tersebut telah dibunuh setelah dituduh memiliki hubungan dengan program nuklir Iran.
Kondisi Pasca-Serangan di Universitas Sharif

Kondisi Universitas Sharif yang mengalami kerusakan pascaserangan AS-Israel pada 6 April 2026. – (X)
Teheran kembali mengalami pemboman besar-besaran pada malam itu, dengan serangan menghantam bagian timur, selatan, dan barat ibu kota. Yang paling menonjol terjadi di Universitas Teknologi Sharif dengan jumlah kerusakan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada gedung-gedung di sekitar kampus.
Fasilitas gas menjadi sasaran di dekatnya. Ini adalah universitas besar keempat yang terkena serangan selama beberapa minggu terakhir, yang menunjukkan luasnya cakupan serangan Israel dan Amerika. Mereka menargetkan lebih banyak infrastruktur, termasuk universitas, rumah sakit, sekolah serta infrastruktur yang berhubungan dengan minyak dan baja.
Serangan Berkelanjutan di Kota-Kota Lain
Di kota-kota lain terjadi serangan udara AS-Israel yang terus berlanjut, termasuk di Karaj, Shiraz, Isfahan, dan Bushehr, dengan laporan kerusakan parah. Di Bandar-e-Lengeh, enam orang syahid, lima lainnya di Qom dan enam anak-anak termasuk di antara 13 orang yang syahid di Baharestan, sebuah kota kecil di pinggiran selatan ibu kota.
Korban jiwa akibat serangan terbaru AS-Israel di Iran meningkat menjadi 34 orang. Setidaknya 23 orang syahid, termasuk enam anak-anak, di provinsi Teheran. Lima orang tewas di daerah pemukiman di kota Qom, selatan Teheran. Enam orang tewas di kota selatan Bandar-e Lengeh.
Kerugian Material yang Besar
Secara total, korban jiwa di Iran sejak serangan AS-Israel dimuali akhir Februari lalu melampaui angka 2.000 jiwa. Pabrik baja Iran, pabrik petrokimia, universitas dan fasilitas medis semuanya telah dibom selama kampanye gabungan AS-Israel. Sekitar 81.000 lokasi sipil telah rusak, termasuk 61.000 rumah, 19.000 lokasi komersial, 275 pusat kesehatan, dan hampir 500 sekolah, menurut pihak berwenang Iran.
Kritik dari Anggota Kongres AS
Anggota Kongres dari Partai Demokrat Yassamin Ansari, yang merupakan keturunan Iran, mengecam laporan pemboman Universitas Teknologi Sharif di Teheran. “Universitas Sharif adalah MIT-nya Iran. Mereka telah menghasilkan sejumlah besar insinyur yang pergi ke Silicon Valley dan mendirikan beberapa perusahaan teknologi Amerika yang paling sukses,” kata Ansari dalam sebuah postingan di X.
“Mengapa kita mengebom sebuah universitas di kota berpenduduk 10 juta orang?”
Pernyataan dari Media Semi-Resmi Iran
Kantor Berita semi-resmi Iran, Tasnim, sebelumnya melaporkan bahwa universitas tersebut menjadi sasaran “serangan Amerika-Zionis”, dan membagikan gambar-gambar yang dikatakan sebagai bagian dalam masjid lembaga pendidikan yang hancur.







