Penjelasan Kepala BP3MI Sumsel Terkait Kematian M. Erlangga di Kamboja
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan, Waydinsyah, memberikan penjelasan resmi terkait kematian M. Erlangga (28), warga Kalidoni, Palembang, yang meninggal dunia di Poipet, Kamboja. Jenazah korban telah dimakamkan di TPU Kamboja, Palembang, pada Kamis (5/3/2026).
BP3MI Sumsel menduga kuat bahwa Erlangga merupakan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Informasi ini didasarkan pada dugaan bahwa korban terjebak dalam skema kerja ilegal di luar negeri.
Tindakan yang Dilakukan BP3MI Sumsel
Saat ditemui oleh media, Waydinsyah menjelaskan bahwa pihaknya langsung melakukan sejumlah tindakan setelah menerima informasi tentang kematian Erlangga. Ia menyatakan bahwa Disnaker Provinsi bersama keluarga korban datang ke kantor BP3MI untuk membuat pengaduan dan mencari solusi.
“Setelah itu kita rangkum tuangkan dalam draf surat dikirim ke Jakarta, ada upaya juga dari kita secara japri menyampaikan bahwa nama ini meninggal,” kata Waydinsyah.
Ia menambahkan bahwa SOP yang berlaku adalah bahwa jika warga kita yang bekerja di luar negeri mengalami kecelakaan atau meninggal, pihak BP3MI akan menekan pemberi kerja untuk bertanggung jawab membiayai kepulangan korban. Biaya pemulangan dari Kamboja bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Informasi Kematian Erlangga
Waydinsyah mengungkapkan bahwa pihaknya mengetahui Erlangga meninggal dunia pada tanggal 17 Februari 2026 dalam perjalanan menuju rumah sakit. Informasi tersebut diperoleh melalui surat kematian yang diterima.
“Informasi yang saya dapat melalui surat kematian, di infokan 17 Februari 2026 meninggal pada saat posisi dalam perjalanan di ambulans menuju ke rumah sakit,” katanya.
Adapun penyebab kematian Erlangga karena luka kritis di bagian tubuh dan kepalanya. Meski demikian, penyebab pasti masih dalam penyelidikan.
Proses Pemulangan Jenazah
Setelah melalui prosedur yang cukup panjang, jenazah Erlangga akhirnya tiba di Palembang melalui Terminal Kargo Bandara SMB II Palembang pada Rabu (4/3/2026). Jenazah tiba di Bandar SMB II Palembang kemarin sore dan langsung menuju rumah sakit untuk dilakukan autopsi.
Dugaan Korban TPPO
Waydinsyah menyebut bahwa Erlangga diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang terjebak di negara tersebut. “Kemungkinan almarhum bekerja tapi kurang tahu pekerjaannya, mungkin dia salah satu korban TPPO, diiming-iming itu banyak yang terjebak,” terangnya.
Ia pun mengecam bagi warga Palembang yang bekerja di Kamboja. “Kamboja itu bukan negara penempatan, kementerian kita tidak dibuka untuk bekerja di negara itu, apa pun jabatan yang ditawarkan disana tidak akan boleh,” katanya.
Modus Kerja Ilegal di Luar Negeri
Waydinsyah juga mengungkapkan modus warga Palembang yang terjebak di luar negeri dengan iming-iming bekerja gaji besar. Namun faktanya bekerja di perusahaan judi online.
“Modus, selain konteks ini kita hampir memulangkan 50 orang lebih mereka terjebak dengan iming-iming bekerja, ada kerja di restoran di Thailand, Malaysia dengan gaji Rp 12 juta. Faktanya mereka disuruh bekerja di tempat perusahaan judi online ilegal,” terangnya.
Riwayat Kehidupan M. Erlangga
Erlangga sebelumnya berangkat ke Kamboja melalui Medan pada Oktober 2025. Ia lahir di Palembang pada 17 Maret 1998 dan tercatat berdomisili di Komplek PHDM XII No. 41, Kecamatan Kalidoni, Palembang.
Berdasarkan keterangan awal dari perwakilan di Kamboja kepada BP3MI Sumsel, Erlangga diduga meninggal akibat terjatuh dari gedung pada 17 Februari 2026.
Tangis Keluarga Saat Pemakaman
Proses pemakaman M. Erlangga diiringi isak tangis di TPU Kamboja, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang, pada Kamis (5/3/2026) sekira pukul 11.00 WIB. Suasana pilu terlihat saat jenazah M. Erlangga, warga Palembang yang meninggal dunia saat bekerja di negara Kamboja, dimakamkan.
Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah duka Lorong Lebak Keranji, Bukit Lama. Ibunda almarhum yang bernama Evi Mustika Karim mengiringi kepergian jenazah ke liang lahat. Mata Evi memerah dan sesenggukan sambil menangis. Sejumlah kerabat tampak berusaha menguatkan ibunya yang terus menangis seolah tak terima anak kesayangannya pergi untuk selamanya.
Setelah jenazah dimasukkan ke dalam kubur, ayah almarhum mengumandangkan azan. “Kalau menurut informasi keluarga, sudah beberapa bulan ini kerja di sana,” ujar salah seorang kerabat almarhum.







