Kontroversi dalam Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar
Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar antar-SMA di Provinsi Kalimantan Barat yang digelar pada Sabtu (9/11/2026) lalu menjadi sorotan setelah viralnya sebuah video di media sosial. Namun, yang membuat peristiwa ini menjadi kontroversi adalah penilaian juri yang menilai jawaban peserta sebagai salah.
Kronologi Peristiwa
Pada acara tersebut, pembawa acara memberikan pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Peserta dari SMAN 1 Pontianak lebih dulu menekan tombol dan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan adalah:
“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan dari Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”
Namun, juri bernama Dyastasita menyatakan jawaban tersebut keliru sehingga nilainya dikurangi lima poin. Juri tersebut merupakan Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI.
Kemudian, peserta dari SMAN 1 Sambas menjawab pertanyaan yang sama. Jawaban mereka hampir identik dengan jawaban peserta dari SMAN 1 Pontianak. Meski demikian, juri justru menganggap jawaban dari SMAN 1 Sambas benar dan memberikan tambahan 10 poin.
Protes dari Peserta
Setelah itu, peserta dari SMAN 1 Pontianak langsung menyampaikan protes atas keputusan juri tersebut. Ia meyakini jawaban yang diberikannya sama dengan jawaban peserta dari SMAN 1 Sambas. Ia berkata, “Mohon maaf, jawaban yang kami sampaikan sama.”
Dyastasita menjelaskan bahwa jawaban peserta SMAN 1 Pontianak berbeda karena tidak menyebutkan Dewan Perwakilan Daerah sebagai pihak yang memberi pertimbangan. Meskipun demikian, peserta tetap yakin bahwa jawabannya sama seperti sebelumnya.
Penjelasan Juri Lainnya
Indei Wahyuni, juri lainnya, menyatakan bahwa artikulasi peserta dari SMAN 1 Pontianak kurang jelas saat menjawab. Ia menilai kondisi tersebut menjadi alasan jawaban peserta dianggap keliru oleh dewan juri.
Tanggapan MPR RI
Menanggapi kejadian tersebut, Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf atas insiden penilaian pada final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Ia juga menegaskan bahwa MPR RI akan menindaklanjuti kejadian tersebut sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dewan juri dan sistem perlombaan yang digunakan.
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” kata Akbar dalam keterangan resmi MPR RI.
Kesimpulan
Peristiwa ini menunjukkan pentingnya objektivitas dan transparansi dalam penilaian acara lomba. Selain itu, hal ini juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang jelas dan artikulasi yang baik dalam menjawab pertanyaan. Dengan adanya evaluasi yang dilakukan oleh MPR RI, diharapkan kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.






