Pengalaman Sakti Tangahu, Korban TPPO yang Dipaksa Bekerja di Kamboja
Sakti Tangahu, seorang warga Bolmut, mengaku menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah dijanjikan pekerjaan di luar negeri. Ia justru dibawa ke Kamboja dan dipaksa bekerja sebagai pelaku penipuan daring. Selama berada di sana, ia mengalami berbagai bentuk kekerasan dan akhirnya dipulangkan ke Indonesia dalam kondisi luka.
Awal Keterlibatan dalam Jaringan Scam
Kronologi kejadian dimulai dari tawaran kerja yang datang dari anggota keluarga dekat. Karena berasal dari orang yang dikenal, Sakti tidak curiga. Saat itu, ia sedang mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik. Ia sempat bertanya tentang jenis pekerjaan tersebut, namun tidak pernah disebutkan bahwa tujuannya adalah Kamboja. Hanya diberitahu bahwa akan bekerja di Vietnam.
Setelah menyatakan bersedia, Sakti diberikan biaya perjalanan. Ia berangkat dari Bolmut menuju Gorontalo, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Di Jakarta, ia diarahkan untuk mengurus paspor dengan alasan perjalanan wisata. Sebelum memasuki kantor imigrasi, ia juga mendapat arahan dari orang-orang yang diduga sebagai agen. Mereka meminta agar menjawab petugas imigrasi dengan alasan liburan lima hingga tujuh hari, jangan bilang mau kerja.
Paspor Sakti diterbitkan pada hari yang sama. Setelah itu, ia menunggu beberapa orang lain dari berbagai daerah, termasuk Medan. Mereka kemudian dimasukkan dalam satu grup komunikasi.
Perjalanan ke Vietnam Berujung Masuk Kamboja
Beberapa hari kemudian, rombongan diberangkatkan menggunakan penerbangan dini hari. Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, Malaysia, kemudian dilanjutkan ke Ho Chi Minh City, Vietnam. Di tiket memang tertulis Ho Chi Minh. Sakti baru tahu itu Vietnam setelah bertanya ke teman.
Setibanya di Vietnam pada sore hari, rombongan dijemput oleh pihak yang tidak mereka kenal. Mereka kemudian dibawa menggunakan kendaraan darat selama sekitar tiga hingga empat jam. Dalam perjalanan, mereka melewati dua pos pemeriksaan. Saat itu, paspor seluruh rombongan dikumpulkan oleh pihak tertentu. Sakti mengaku baru menyadari dirinya telah diselundupkan secara ilegal setelah kembali ke Indonesia.
Dipaksa Bekerja Menipu Korban
Setibanya di kawasan perusahaan di Kamboja pada malam hari, Sakti sempat dibawa ke tempat hiburan. Namun keesokan harinya, ia langsung dipaksa bekerja. Ia disuruh duduk di depan komputer dan diberi skrip. Setelah dibaca, ternyata itu untuk menipu orang. Tugas mereka mencari korban melalui media sosial Facebook. Target utama adalah tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia yang bekerja di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Thailand, hingga Timur Tengah.
Mereka diminta kirim pertemanan, membangun komunikasi, bahkan pura-pura menjalin hubungan asmara sampai korban percaya. Setelah korban percaya, mereka diarahkan melakukan panggilan video bermuatan intim. Rekaman tersebut kemudian digunakan untuk mengancam korban agar mengirimkan uang.
Tidak Digaji dan Berujung Kekerasan
Selama sekitar tiga bulan bekerja, Sakti mengaku tidak pernah menerima gaji meskipun dijanjikan upah bulanan. Katanya ada gaji, tapi selalu dipotong dengan berbagai alasan, seperti biaya perjalanan dan target kerja. Ia tidak pernah memegang uang itu.
Rasa tidak sanggup membuat Sakti berusaha meminta dipulangkan ke Indonesia. Namun, permintaan tersebut justru berujung kekerasan. Ia mengaku sempat menyatakan ingin meminta perlindungan di kantor perwakilan Indonesia. Namun, menurut pengakuannya, ia justru mengalami penyiksaan. Sakti dipukul, diinjak, diborgol. Tangan sampai berdarah. Ia disiksa. Ia pikir waktu itu sudah mau mati.
Sakti juga mengaku sempat ditahan dan dibawa ke penjara selama beberapa hari. Ia menyebut melihat aparat dan petugas berseragam sebelum akhirnya kembali dibawa keluar.
Dipulangkan dalam Kondisi Luka
Beberapa hari kemudian, Sakti akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Namun dalam proses pemulangan, ia mengaku kembali mengalami kekerasan. Sakti diborgol pakai tali, dipukul di dalam mobil, dipaksa dibawa ke rumah sakit dan disuntik obat penenang. Ia tiba di Indonesia dalam kondisi fisik lemah dan mengalami banyak luka.
Hikma, warga Gorontalo yang merupakan anggota keluarga Sakti, membenarkan kondisi tersebut. Waktu dia tiba di Gorontalo, mereka melihat langsung banyak luka di tubuhnya. Dia juga bercerita sempat dipukul.
Kasus yang dialami Sakti menambah daftar warga Indonesia yang diduga menjadi korban TPPO dengan modus penawaran kerja di luar negeri. Ia berharap pengalamannya dapat menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan, termasuk yang datang dari orang terdekat.







