Peningkatan Kunjungan Wisatawan Selama Libur Lebaran
Jumlah kunjungan wisatawan selama periode libur Lebaran mengalami peningkatan yang signifikan. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah melaporkan bahwa volume kunjungan wisatawan hingga 25 Maret 2026 meningkat sebesar 5,25% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Total kunjungan mencapai 687.470 orang, melebihi capaian pada periode yang sama di tahun 2025 yang tercatat sebanyak 653.178 kunjungan.
Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya terasa di lapangan. Bambang Mintosih, praktisi pariwisata sekaligus penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah, menyatakan bahwa lonjakan wisatawan hanya terjadi sesaat. “Ramainya cuma sebentar doang, cuma tanggal 22, 23 ya sudah. Kami berharap waktu kurang 2 hari kita masih optimistis, tapi ternyata ini menyeluruh,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini merupakan pergeseran segmen pasar yang cepat dan sulit diprediksi. Pengelola destinasi wisata kini dituntut untuk tidak hanya mengandalkan fasilitas konvensional seperti hotel yang bagus atau pelayanan standar semata.
Perubahan Preferensi Wisatawan
Wisatawan modern, terutama yang datang dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kini lebih mencari pengalaman unik dan narasi yang kuat atau storytelling yang mampu menggerakkan minat mereka melalui pengaruh media sosial. Hal ini menjadi tantangan baru bagi industri pariwisata.
Ekonom Universitas Negeri Semarang (Unnes), Bayu Bagas Hapsoro, menyoroti dominasi Gen Z dan Gen Alpha sebagai penggerak utama supply-demand wisata saat ini. Kelompok ini memiliki karakteristik unik sebagai pencari social currency atau validasi sosial. Mereka cenderung hemat dalam pengeluaran akomodasi, namun bersedia membayar mahal demi pengalaman yang autentik, genuine, dan memiliki unsur petualangan yang jarang ditemui di tempat lain.
“Jangan terlena kalau ini kemudian booming, karena jangan-jangan tahun depan mereka tidak akan berkunjung lagi ke Kota Lama karena sudah pernah. Caranya ke depan adalah yang dicari bukan sekadar lokasinya, tapi orisinalitasnya,” jelas Bayu.
Destinasi Wisata Utama
Sebelumnya, Kepala Disbudparekraf Provinsi Jawa Tengah Hanung Triyono melaporkan bahwa Kota Lama Semarang masih menjadi daya tarik utama dengan total 222.856 kunjungan selama libur Lebaran. Destinasi religi dan budaya seperti Masjid Agung Demak dan Candi Prambanan menyusul di urutan berikutnya sebagai indikator pertumbuhan.
Hanung juga mengakui adanya tren visual tourism, di mana wisatawan lebih tertarik pada ikon destinasi urban yang estetik dibandingkan wisata alam murni, demi mendapatkan konten media sosial yang menarik.
Peran Infrastruktur dan UMKM
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi pada kesempatan yang berbeda ikut menegaskan posisi strategis wilayah ini sebagai titik sentral di Pulau Jawa. Upaya penyiapan infrastruktur dan penguatan layanan UMKM di titik-titik strategis seperti exit tol diklaim telah memberikan dampak ekonomi nyata.
Tantangan dan Peluang
Meski ada peningkatan jumlah kunjungan, para pelaku pariwisata tetap menghadapi tantangan. Lonjakan wisatawan hanya terjadi sesaat, dan tren pasar yang cepat serta sulit diprediksi memaksa pengelola destinasi untuk terus berinovasi. Wisatawan modern kini lebih mencari pengalaman unik dan narasi yang kuat, bukan hanya fasilitas konvensional.
Pengembangan destinasi wisata harus berfokus pada orisinalitas dan autentisitas agar dapat mempertahankan minat wisatawan. Di samping itu, penguatan infrastruktur dan dukungan terhadap UMKM juga menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan pariwisata di Jawa Tengah.







