Inisiatif Baru Premier League untuk Pemain Muslim
Premier League dan English Football League (EFL) kembali menghadirkan inisiatif yang menarik bagi pemain Muslim di musim 2026. Kebijakan yang dikenal sebagai Ramadan Breaks akan mulai diberlakukan, memungkinkan pemain untuk berbuka puasa selama pertandingan. Kebijakan ini sebelumnya pernah diterapkan pada tahun 2021 dan mendapat respons positif dari berbagai pihak.
Sistem Fleksibel untuk Pemain Muslim
Kebijakan ini dirancang agar pemain Muslim dapat menjalankan ibadah puasa tanpa mengganggu performa mereka di lapangan. Klub-klub yang memiliki pemain Muslim dapat bekerja sama dengan wasit untuk menentukan momen jeda alami dalam pertandingan. Saat jeda tersebut, pemain diperbolehkan mengonsumsi makanan ringan atau gel energi, sehingga tetap bugar dan fokus dalam laga.
Ramadan di Britania Raya akan berlangsung dari Selasa (17/2/2026) hingga Rabu (18/3/2026). Umat Muslim harus menahan diri dari makan dan minum mulai fajar hingga matahari terbenam. Dalam konteks sepak bola, waktu berbuka yang mendekati jam 17.30 waktu setempat membuka peluang jeda singkat, seperti saat laga West Ham United melawan Bournemouth atau derby Tottenham Hotspur kontra Arsenal.
Nama-Nama Pemain yang Terlibat
Beberapa pemain Muslim yang bermain di klub papan atas Premier League dipastikan memanfaatkan kebijakan ini. Nama-nama seperti El Hadji Malick Diouf (West Ham United), Dango Ouattara (Bournemouth), Djed Spence (Tottenham Hotspur), dan William Saliba (Arsenal) termasuk daftar pemain yang bisa berbuka puasa di lapangan. Tak ketinggalan, superstar Sepakbola seperti Mohamed Salah (Liverpool) dan Amad Diallo (Manchester United) pun tetap bisa menjalankan ibadah puasa tanpa harus mengorbankan performa.
Sejarah Kebijakan Ramadan Breaks
Sejarah kebijakan ini dimulai pada 2021 ketika Leicester City menghadapi Crystal Palace. Wesley Fofana dan Cheikhou Kouyate mendapat izin untuk berbuka puasa di tengah laga. Contoh lain terjadi pada April 2024 dalam duel Everton versus Newcastle United, di mana Abdoulaye Doucoure, Idrissa Gueye, dan Amadou Onana sempat melakukan jeda singkat untuk berbuka.
Dampak pada Strategi Tim
Ramadan Breaks bukan hanya soal kenyamanan para pemain. Dampaknya juga terasa pada strategi tim, karena jeda ini memberi pelatih kesempatan menyesuaikan rotasi pemain dan tempo permainan. Bahkan, beberapa pakar olahraga menilai kebijakan ini bisa membantu mengurangi risiko cedera akibat dehidrasi, terutama pada laga yang berlangsung saat musim panas di Inggris.
Komitmen Liga untuk Keberagaman
Dengan diterapkannya kembali Ramadan Breaks 2026, Premier League dan EFL menegaskan komitmen mereka untuk menghormati keberagaman dan tradisi pemain. Penggemar bisa tetap menyaksikan pertandingan seru, sementara pemain Muslim menjalankan ibadah puasa tanpa hambatan. Musim ini jelas menjadi momen istimewa bagi sepak bola Inggris yang inklusif.







