Perjalanan di Asia-Pasifik Memasuki Fase Baru

Industri perjalanan di kawasan Asia-Pasifik (APAC) tidak hanya pulih dari dampak pandemi, tetapi kini tengah memasuki fase yang lebih menentukan. Hal ini terungkap dalam acara MarketHub Asia oleh HBX Group yang diselenggarakan di Hilton Bali pada 4-5 Februari. Dalam acara tersebut, HBX Group menjelaskan bagaimana pertumbuhan industri perjalanan kini didorong oleh permintaan yang kuat, adopsi teknologi yang semakin cepat, serta model distribusi yang terus berkembang.
Di hadapan para mitra dari ekosistem perjalanan MEAPAC (Middle East, Asia Pacific), pimpinan HBX Group menekankan bahwa tantangan saat ini bukan lagi tentang pemulihan, melainkan tentang eksekusi—bagaimana mengubah permintaan yang tinggi menjadi pertumbuhan berkelanjutan melalui distribusi yang lebih cerdas, kolaborasi yang lebih solid, dan personalisasi berbasis teknologi.
“Permintaan travel di APAC bukan sekadar kembali—ia berkembang dengan sangat cepat,” ujar David Amsellem, Chief Distribution Officer HBX Group. “Tantangannya adalah bagaimana kita membuka momentum ini dengan cara yang menjaga pilihan konsumen, menciptakan nilai, dan memungkinkan mitra tumbuh secara profitabel di pasar yang semakin kompleks.”
Tema “Unlocked” yang diusung MarketHub tahun ini mencerminkan urgensi tersebut. Menurut HBX Group, membuka potensi penuh APAC membutuhkan kombinasi teknologi yang tepat, kemitraan yang kuat, serta kondisi pasar yang mendukung—dan semuanya harus dilakukan sekarang, selagi momentum masih terjaga.
Pertumbuhan APAC Didukung Data

Optimisme tersebut diperkuat oleh paparan Michael Shoory, Head of APAC Tourism Analysis di Oxford Economics. Berdasarkan proyeksi terbaru, volume perjalanan inbound global diperkirakan tumbuh lebih dari 60% hingga 2035, dengan Asia-Pasifik menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat.
Sekitar 80% pertumbuhan inbound travel ke APAC dalam satu dekade ke depan akan didorong oleh perjalanan intra-kawasan. Hal ini menegaskan pentingnya konektivitas regional dan model distribusi yang efisien. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, konsumen tetap memprioritaskan perjalanan—sebuah indikator kuat akan resiliensi sektor ini.
Dari Pertumbuhan ke Implementasi Nyata

Pada level distribusi, Andrew Boocock, Wholesale Director MEAPAC HBX Group, menyoroti peran kawasan ini sebagai penggerak arus perjalanan global, didukung investasi berkelanjutan di infrastruktur, konektivitas, dan kapabilitas digital di negara-negara seperti China, India, Indonesia, Korea Selatan, dan Vietnam.
Ia juga menyebut karakteristik khas MEAPAC yang identik dengan pemesanan last-minute. Menurutnya, strategi harga yang lebih cerdas, fitur rebooking, dan dukungan pascapemesanan dapat membantu pelaku industri menekan pembatalan, menjaga margin, dan meningkatkan efisiensi operasional.
Dari sisi ritel dan luxury, Stefano Zeni, Retail Sales Director MEAPAC HBX Group, menekankan bahwa teknologi kini membentuk ulang seluruh booking funnel, termasuk untuk produk perjalanan premium. Distribusi ritel bergerak ke model berbasis API, sementara segmen luxury mengandalkan kombinasi teknologi canggih dan sentuhan manusia.
Data yang ia tampilkan menunjukkan, meski 81% wisatawan masih menjadikan harga sebagai faktor utama memilih destinasi, lebih dari separuh (53%) menilai pengalaman luxury tetap penting, terutama di kalangan berpendapatan tinggi dan pasar seperti China. Tren ini menegaskan bangkitnya konsep accessible luxury.
Kemitraan Hotel hingga Teknologi Skala Besar
Perubahan juga terjadi dalam kemitraan hotel. Xabier Zabala, Chief Sourcing and Commercial Services HBX Group, menyebut industri bergerak dari model transaksional menuju kolaborasi yang lebih strategis dan bernilai tambah.
“Ke depan, kontrak hotel B2B akan ditentukan oleh segmentasi yang lebih cerdas, kolaborasi yang lebih erat, dan proposisi nilai yang jauh melampaui sekadar menjual kamar,” ujarnya.
Di sisi teknologi, Daniel Nordholm, Chief Information Officer HBX Group, mengungkapkan bahwa dalam setahun terakhir HBX Group telah meluncurkan lebih dari 7.000 pembaruan produk—rata-rata satu pembaruan setiap 75 menit—dengan ketersediaan platform yang nyaris tanpa henti. Teknologi HBX kini memproses sekitar 8 miliar pencarian per hari, didukung sistem keamanan yang menganalisis puluhan miliar sinyal secara real time.
AI telah terintegrasi ke berbagai fungsi inti, mulai dari layanan pelanggan, optimasi harga, hingga personalisasi. Pendekatannya dirancang untuk menyederhanakan integrasi, memungkinkan mitra berinovasi lebih cepat tanpa kehilangan kendali atas merek dan relasi dengan pelanggan.
MarketHub Asia kembali menjadi ruang diskusi strategis tentang masa depan industri perjalanan di APAC—dari dinamika pasar hingga teknologi dan kolaborasi. Insight yang dibagikan di panggung hanyalah sebagian dari percakapan yang berlangsung, saat HBX Group dan para mitranya mencari cara mengubah momentum pertumbuhan APAC menjadi nilai jangka panjang yang berkelanjutan.







