Sejarah dan Perkembangan Sate Klathak Pak Pong
Sate Klathak Pak Pong adalah salah satu kuliner legendaris yang telah berdiri selama hampir 30 tahun. Pendirinya, Dzakiron, menceritakan bagaimana usaha ini dimulai dari nol. Awalnya, ia membangun warung kecil dan sederhana pada tahun 1997. Bahkan, sebelum memiliki tempat tetap, ia sempat mengontrak kios-kios untuk menjual makanan.
Penamaan “Sate Klathak Pak Pong” tidak dilakukan secara asal-asalan. Nama tersebut berasal dari kisah keluarga Dzakiron. Ia sering bangun tidur sampai siang hari, sehingga orang-orang menyebutnya “Jempong”. Dari sana, nama itu menjadi panggilan akrab dan akhirnya menjadi merek usaha yang sukses hingga saat ini.
Meskipun sate klathak sendiri sudah ada sejak nenek moyang, Dzakiron berhasil melestarikan dan mengembangkan resep turun temurun. Menurutnya, tidak ada resep khusus yang dibuat sendiri. Semua resep berasal dari generasi sebelumnya, terutama dari kakeknya. Hal ini membuat rasa sate klathak tetap autentik dan unik.
Di dalam menu Sate Klathak Pak Pong, terdapat berbagai pilihan hidangan seperti sate klathak, sate kecap, tongseng, tengkleng, dan lainnya. Harga per porsi berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp37 ribu. Setiap hari, Dzakiron bisa menyembelih sekitar 30 domba untuk memenuhi permintaan konsumen di tiga cabang usahanya.
Namun, pada momen Lebaran 2026, daya beli konsumen menurun drastis. Menurut Dzakiron, penjualan per hari hanya mencapai sekitar 50-an domba, jauh lebih sedikit dibandingkan Lebaran tahun lalu yang mencapai 70-an domba. Ia belum dapat memastikan penyebab penurunan ini, namun diperkirakan karena semakin banyaknya penjual kuliner serupa serta liburan akhir tahun 2025 yang masih dekat dengan Lebaran 2026.
Stok Domba dan Kebijakan Ekspansi
Meskipun penjualan menurun, pasokan domba untuk kebutuhan produksi masih aman. Saat ini, stok domba disuplai dari Jawa Tengah, khususnya dari Temanggung dan Wonosobo. Dzakiron mengatakan bahwa daerah Yogyakarta tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan, sehingga perlu pengadaan dari luar daerah.
Sejauh ini, pihaknya belum berencana melakukan ekspansi ke luar Daerah Istimewa Yogyakarta. Dzakiron ingin menjaga keaslian produk dan memastikan wisatawan yang ingin mencoba Sate Klathak Pak Pong langsung datang ke Bantul. Meski sering mendapatkan tawaran untuk membuka cabang di luar Jogja, ia tetap berpegang pada prinsip bahwa Sate Klathak Pak Pong harus tetap berada di Yogyakarta.
Pengembangan usaha juga didukung oleh tim yang cukup besar. Saat ini, Sate Klathak Pak Pong memiliki lebih dari 100 karyawan yang bekerja di tiga cabang. Dzakiron mengakui bahwa usaha ini tidak hanya menjadi sumber rezeki bagi dirinya sendiri, tetapi juga memberikan peluang kerja bagi banyak orang.
Dengan rasa yang khas dan sejarah yang panjang, Sate Klathak Pak Pong terus bertahan sebagai salah satu ikon kuliner Yogyakarta. Meski menghadapi tantangan pasar, Dzakiron tetap optimis dan berkomitmen untuk menjaga kualitas serta tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.







