Menteri Kebudayaan Menegaskan MTN Seni Budaya sebagai Program Prioritas Nasional
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya bukanlah program sementara, melainkan prioritas nasional yang keberlanjutannya dijamin oleh kebijakan negara. Pernyataan ini disampaikan dalam acara pertunjukan MTN Wave atau Gelombang Talenta Seni Budaya Indonesia, yang menjadi ajang apresiasi sekaligus unjuk karya para talenta muda dari berbagai daerah.
Menurut Fadli Zon, MTN Seni Budaya telah berhasil menjangkau puluhan ribu talenta di seluruh Indonesia. Capaian ini menunjukkan bahwa negara tidak hanya hadir untuk merayakan karya, tetapi juga merawat dan membina talenta seni budaya secara berkelanjutan lintas sektor dan generasi.
“MTN Seni Budaya ini bukan program sementara. Ini adalah program prioritas nasional yang keberlangsungannya dijamin oleh kebijakan negara,” tegas Fadli Zon dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 285 juta jiwa, potensi talenta di bidang seni dan budaya sangat besar. Tantangannya bukan pada kurangnya bakat, melainkan bagaimana memperluas akses, membuka lintasan yang adil, serta memastikan setiap talenta dari Sabang sampai Merauke memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang.
Saat ini, MTN Seni Budaya difokuskan pada lima ekosistem utama, yakni film, sastra, musik, seni pertunjukan, dan seni rupa. Ke depan, pemerintah membuka peluang untuk memperluas cakupan ke cabang seni budaya lainnya agar pembinaan semakin inklusif dan merata.
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga menegaskan pentingnya kolaborasi dalam memajukan kebudayaan nasional. Ia menyebut, pembangunan ekosistem seni budaya yang sehat tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau komunitas saja, tetapi perlu sinergi dengan satuan pendidikan, industri, swasta, hingga mitra internasional.
“Memajukan kebudayaan nasional tidak bisa hanya dari pemerintah. Harus kolaborasi, sinergi, dan kerja sama dari semua pihak,” ujarnya.
Dalam konteks pembangunan nasional dan visi Indonesia Emas 2045, MTN Seni Budaya diposisikan sebagai bagian dari investasi sumber daya manusia. Talenta seni budaya, kata Fadli, bukan sekadar pengisi panggung pertunjukan atau festival, melainkan human capital kebudayaan yang harus memiliki jalur pembinaan, rekognisi, dan keberlanjutan karier.
Untuk diketahui, sejak dijalankan, MTN Seni Budaya telah menjangkau puluhan ribu talenta dan bekerja sama dengan ratusan mitra seperti sanggar, komunitas, festival, hingga market seni. Sejumlah talenta Indonesia juga telah tampil dan mendapat pengakuan di berbagai forum internasional. Capaian inilah yang kemudian dirangkum dalam format pertunjukan kreatif MTN Wave di Taman Ismail Marzuki, Rabu (11/2) malam.
MTN Wave dikemas sebagai sajian seni modern yang menghadirkan lima bidang seni budaya: seni rupa, seni pertunjukan, musik, film, dan sastra. Di bawah arahan Direktur Kreatif Rangga Djoened, kelima bidang tersebut ditampilkan sebagai lima gelombang yang saling terhubung dan menggambarkan pertumbuhan talenta seni budaya Indonesia.
Selain pertunjukan utama, pengunjung juga disuguhi instalasi karya Sigit D. Pratama yang menjadi pengantar visual tentang perjalanan dan capaian MTN Seni Budaya selama satu tahun terakhir. Pertunjukan utama bertajuk “Resonansa: Dari Titik Kecil Menjadi Gelombang Peradaban” menjadi simbol perjalanan talenta, dari potensi awal yang sederhana hingga mampu memberi kontribusi nyata bagi peradaban dan kebudayaan bangsa.
Pada bidang seni rupa, tajuk Rupa Mantra menampilkan karya Arifa Safura, Arsya Ardiansyah, Ben Suryo, F. Boy Sinaga, Juan Arminandi, Kezia Rantung, Riyan Kelana, dan Taufiqurrahman Kifu. Bidang film menghadirkan pertunjukan Di Antara Tubuh, Ingatan, dan Kehilangan yang melibatkan Lola Amaria serta karya Khozy Rizal, Felix K. Nesi, Rein Maychaelson, dan Yosef Levi.
Seni pertunjukan menampilkan karya Tumbuh di Atas Jerami dengan penampil Aditya Warman, Daniel S. Pambudi, Dendi Wardiman, Densiel Lebang, Uni Tati (Hartati), Davit Fitrik, Fazri Arif Sahputra, Maria Bernadeta, Menthari Ashia, Taufik Adam, dan Try Anggara. Bidang sastra mengusung tajuk Siklus Suara yang diisi oleh Bongso Temmar, Lala Bohang, Reda Gaudiamo, Tara Febriani, dan Theoresia Rumthe.
Penulis sekaligus talenta unggul Dewi Dee Lestari turut memberikan dukungan terhadap MTN Seni Budaya. Sebagai penutup, bidang musik menghadirkan Simfoni Khatulistiwa dengan karya Basboi, Djangat Indonesia, Giring Fitrah, Gondrong Gunarto, Kunto Aji, Parasirama, dan Tsai. Seluruh rangkaian pertunjukan dipandu oleh Lukman Sardi sebagai narator dan Siko Setyanto yang merangkai tiap gelombang menjadi satu narasi utuh.
Melalui MTN Wave, MTN Seni Budaya menegaskan komitmennya untuk terus mengawal perjalanan talenta seni budaya Indonesia, dari titik kecil hingga menjadi gelombang besar yang memberi makna bagi masa depan kebudayaan bangsa.







