Kehadiran Saus Nashville di Bandung, Menghadirkan Sensasi Baru dalam Rice Plate
Bandung kembali menambah daftar tren kuliner yang menarik perhatian pecinta makanan pedas. Kali ini, saus khas Nashville yang terkenal dengan rasa pedas, manis, dan gurih kini hadir dalam bentuk rice plate. Konsep ini bisa dinikmati di Hi Nashville, sebuah restoran yang berada di kawasan foodcourt Bumi Kiwari, Jalan Dr. Djunjunan, Kota Bandung.
Saus Nashville hot sauce berasal dari Amerika Serikat dan memiliki cita rasa yang unik. Campuran minyak panas dengan cabai rawit, gula merah, hingga paprika asap menciptakan sensasi rasa yang tidak biasa. Rasa ini kemudian disiram ke ayam goreng yang menjadi bahan utama dari konsep rice plate yang ditawarkan oleh Hi Nashville.
Perpaduan Gaya Western dan Timur Tengah
Konsep yang diusung oleh Hi Nashville bukan sekadar menu ayam goreng pedas. Mereka memadukan gaya Western dengan sentuhan Timur Tengah, tetapi dengan penyesuaian yang lebih sederhana dan akrab bagi pasar lokal. Hal ini dilakukan oleh Boga Hiji (BoHi), sebuah holding F&B asal Bandung yang menggagas konsep tersebut.
Handy, Direktur BoHi, menyatakan bahwa konsumen di Bandung sangat kritis terhadap cita rasa. “Bandung itu konsumennya kritis. Mereka ngerti makanan. Kita enggak bisa sembarang jual,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, mereka memilih fokus pada kesederhanaan. Menu yang ditawarkan meliputi nasi, lauk, kenyang, dan harga yang terjangkau. Rice plate menjadi andalan utama. Alih-alih menggunakan istilah seperti nasi kebuli atau briyani, mereka memilih basmati rice sebagai pembeda.
“Kita enggak mau terlalu herbs. Enggak semua orang suka rempah Timur Tengah,” tambahnya.
Penampilan yang Menarik dan Berbeda
Secara visual, menu ini dirancang agar lebih menarik. Nasi, ayam dengan saus Nashville, serta topping disusun seperti hidangan street food modern yang mudah dinikmati kapan saja. Kombinasi ini membuat rice plate Hi Nashville berbeda dari rice bowl yang sudah lebih dulu populer di Bandung.
“Rice plate ini kita mix antara Western sama Timur Tengah. Buat saya sih ini baru, bahkan agak ekstrem,” ujar Handy.
Tren ini juga didorong oleh pengamatan terhadap perkembangan kuliner global. Salah satu referensi adalah popularitas street food seperti Halal Guys di New York yang kini mulai dikenal di Indonesia. “Sekarang kita lihat momentumnya sudah ada. Bahkan di Bandung, orang rela antre makanan hingga berjam-jam,” katanya.
Proses Panjang dan Kesuksesan yang Diupayakan
Meski terlihat baru, konsep ini sebenarnya telah melalui proses panjang. Beberapa tahun lalu, konsep ini sempat gagal saat pertama kali dicoba di Bandung. “Pernah buka, tutup dalam 3-4 bulan. Trial error-nya panjang,” ujarnya.
Hi Nashville kini menyasar pasar yang luas, dengan harga mulai dari Rp20 ribuan. Selain rice plate, pihaknya juga menawarkan menu lain seperti fried chicken, hingga side dish mulai dari harga Rp7 ribuan.
Strategi Digital dan Pemenuhan Preferensi Lokal
Handy tak menampik bahwa kuliner di Kota Bandung seperti tidak ada habisnya. Oleh karena itu, konsep digital-first menjadi andalan, dengan penjualan melalui multiplatform. Ini membantu meningkatkan aksesibilitas dan memenuhi preferensi konsumen yang semakin modern.







