Kapan Batas Akhir Membayar Utang Puasa Ramadan?
Sebentar lagi umat Muslim akan memasuki bulan Ramadhan tahun 1447 Hijriah/2026. Bagi yang masih memiliki utang puasa dari tahun sebelumnya, penting untuk mengetahui batas akhir waktu membayar utang puasa tersebut.
Puasa qadha merupakan bentuk pengganti puasa wajib di bulan Ramadan yang ditinggalkan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 184:
“Ayyaamam ma’duudaat, fa mang kaana mingkum mariidhon au ‘alaa safaring fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor, wa ‘alallaziina yuthiiquunahuu fidyatung tho’aamu miskiin, fa mang tathowwa’a khoirong fa huwa khoirul lah, wa ang tashuumuu khoirul lakum ing kungtum ta’lamuun.”
Artinya:
“(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)
Batas Waktu Membayar Utang Puasa
Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabilah, batas akhir puasa qadha adalah sebelum datangnya bulan Ramadan berikutnya. Dengan kata lain, puasa qadha masih bisa dilakukan pada hari-hari terakhir bulan Syaban. Jika sudah memasuki bulan Ramadan berikutnya dan belum membayar qadha puasa, maka seseorang berdosa.
Selain itu, ia juga wajib memberikan fidyah kepada orang miskin sebanyak satu mud dalam setiap satu hari puasa sebagai tebusan kelalaian karena telah melewati batas akhir puasa qadha Ramadan.
Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, tidak ada batasan waktu untuk membayar puasa qadha. Puasa qadha boleh dilakukan kapan saja, baik setelah tahun bulan Ramadan yang ditinggalkan atau tahun-tahun berikutnya. Karena itu, jika seseorang tidak melaksanakan puasa qadha hingga puasa Ramadan berikutnya tiba, ia tidak berdosa dan tidak wajib membayarkan fidyah. Orang tersebut boleh melakukan puasa qadha kapan saja, tanpa batas akhir waktu tertentu.
Niat Puasa Qadha
Niat puasa qadha adalah:
“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa’i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta’ala.”
Artinya: “Saya niat berpuasa untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah SWT.”
Tata Cara Puasa Qadha
Puasa qadha harus dilakukan sebanyak hari puasa Ramadan yang ditinggalkan. Sebagai contoh, jika seseorang meninggalkan puasa Ramadan sebanyak 7 hari, maka ia harus membayarnya dengan puasa qadha sebanyak 7 hari juga.
Tata cara melakukan puasa qadha sama seperti puasa Ramadan, yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga waktu maghrib. Yang membedakan antara puasa qadha dengan puasa Ramadan hanya bacaan niatnya saja.
Waktu untuk melafalkan niat puasa qadha juga sama seperti ketika puasa Ramadan, yaitu di malam hari. Puasa qadha dapat dikerjakan pada hari apa saja, termasuk hari Jumat. Namun, puasa qadha tidak boleh dilakukan pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa, seperti hari Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari tasyrik (11-13 Zulhizah).







