Penggunaan obat penurun berat badan seperti Ozempic dan Mounjaro semakin meningkat di kalangan masyarakat. Obat-obatan ini bekerja dengan cara menekan nafsu makan melalui hormon yang memberi sinyal kenyang ke otak, sehingga pengguna merasa lebih cepat kenyang dan makan dalam porsi yang lebih sedikit. Namun, para ahli menilai bahwa efektivitas obat ini perlu diimbangi dengan perubahan gaya hidup agar hasilnya bertahan jangka panjang.
Profesor kedokteran dari University of Washington, David Cummings, menyatakan bahwa meskipun obat ini merupakan terobosan besar dalam pengelolaan obesitas, tidak bisa dijadikan solusi tunggal. Ia menekankan bahwa obat ini mungkin mendekati “obat ajaib”, tetapi bukan jawaban akhir untuk masalah obesitas. Perubahan gaya hidup tetap menjadi faktor utama dalam menjaga berat badan secara stabil.
Berdasarkan studi ilmiah dan uji klinis yang dirangkum oleh BBC, obat jenis GLP-1 mampu menurunkan berat badan sekitar 14% hingga 20% dalam kurun waktu 72 minggu. Namun, tidak semua orang mengalami hasil yang sama. Sebanyak 10–15% pengguna hanya mengalami penurunan berat badan yang sangat kecil. Selain itu, penggunaan obat ini umumnya tidak berlangsung lama. Analisis terhadap lebih dari 9.000 pasien mencatat rata-rata penggunaan hanya sekitar 39 minggu sebelum dihentikan, baik karena biaya, akses, maupun keputusan pribadi.
Setelah penggunaan obat dihentikan, risiko kenaikan berat badan kembali menjadi perhatian utama. Dalam jurnal Springer Nature Link, dicatat bahwa berat badan dapat naik kembali dengan cepat, bahkan hingga empat kali lebih cepat dibanding program diet biasa. Contohnya, berat badan bisa meningkat sekitar 1,5 kilogram dalam delapan minggu setelah berhenti menggunakan obat.
Profesor dari University of Glasgow, Naveed Sattar, menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan dengan “food noise”, yaitu dorongan terus-menerus untuk memikirkan makanan setelah penggunaan obat dihentikan. Selain itu, perubahan hormon membuat nafsu makan meningkat sementara metabolisme tubuh menurun, sehingga berat badan lebih mudah kembali naik. Ia juga menyoroti lingkungan modern yang memudahkan akses terhadap makanan tinggi kalori. Kemudahan ini membuat seseorang semakin sulit mempertahankan pola makan sehat dalam jangka panjang.
“Sekarang makanan ada di mana-mana, bahkan dalam hitungan menit kita bisa memesan ribuan kalori,” ujarnya.
World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa penggunaan obat saja tidak cukup untuk mengatasi obesitas. Perubahan gaya hidup seperti menjaga pola makan sehat dan meningkatkan aktivitas fisik tetap menjadi faktor utama dalam menjaga berat badan. Selain manfaatnya, obat penurun berat badan juga memiliki sejumlah efek samping seperti gangguan pencernaan, pankreatitis, hingga batu empedu. Meski begitu, penelitian besar terhadap dua juta orang menunjukkan adanya manfaat tambahan, seperti kesehatan jantung yang lebih baik dan penurunan risiko penyakit tertentu.
Peneliti dari Stanford School of Medicine, Maya Adam, menilai bahwa perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari justru lebih berpengaruh dalam jangka panjang. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi minuman manis, rutin bergerak, dan menjaga pola tidur dinilai mampu membantu menjaga berat badan tetap stabil.
“Menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan obat, perubahan kecil sehari-hari justru yang paling berpengaruh,” ujarnya.
Dengan tren penggunaan yang terus meningkat, masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan obat sebagai solusi cepat. Kombinasi antara pengobatan, pola hidup sehat, dan edukasi dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan secara berkelanjutan.






