Seminar Literasi Keuangan untuk Mahasiswa
STIE Malangkucecwara Malang menggelar seminar literasi keuangan dengan tujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang investasi dan pengelolaan keuangan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kesadaran finansial di kalangan generasi muda.
Kegiatan tersebut menghadirkan kolaborasi yang disebut sebagai “Segitiga Emas”, yaitu antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan perusahaan sekuritas Phintraco. Tujuannya adalah untuk memberikan edukasi mengenai pasar modal kepada peserta, khususnya para mahasiswa. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami risiko dan potensi dalam berinvestasi.
Salah satu peserta seminar, Salma Aninda dari angkatan 2024, mengungkapkan bahwa literasi keuangan sangat penting untuk dimiliki sejak dini. Ia menilai bahwa kemampuan mengatur keuangan akan membantu mahasiswa dalam mengelola pemasukan yang terbatas. Menurutnya, tantangan terbesar dalam mengelola keuangan justru datang dari diri sendiri, terutama godaan untuk memenuhi keinginan yang tidak mendesak.
Untuk mengatasi hal tersebut, Salma menerapkan sistem pengelolaan sederhana dengan memisahkan uang untuk kebutuhan harian dan dana darurat. Dengan demikian, ia bisa menghindari pengeluaran yang tidak perlu.
Meskipun dalam seminar juga dibahas mengenai investasi, Salma mengaku belum tertarik untuk terjun langsung. Salah satu alasan utamanya adalah pertimbangan prinsip pribadi serta rasa khawatir terhadap risiko penipuan investasi. Namun, ia merasa lebih paham setelah mengikuti seminar ini, khususnya dalam mengenali investasi yang benar dan yang mencurigakan.
Peran Pihak Terkait dalam Edukasi Pasar Modal
Wakil Ketua III STIE Malangkucecwara, Dr Kadarusman, Ak., M.M., CA., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif dari Unit Kegiatan Mahasiswa bersama Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM). Tujuan dari seminar ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang dunia investasi, terutama di pasar modal.
Menurutnya, dalam kerja sama “Segitiga Emas” ini, OJK bertindak sebagai regulator, BEI sebagai penyedia pasar, dan sekuritas sebagai pelaku teknis transaksi. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang utuh mengenai pasar modal.
Kadarusman menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi krusial di tengah maraknya tawaran investasi dengan imbal hasil tinggi yang sering kali tidak masuk akal. Contohnya, sering muncul tawaran fixed income dengan tingkat 5 hingga 10 persen per bulan. Meski terlihat menarik, risikonya besar dan bisa jadi investasi bodong.
Ia menyatakan bahwa animo mahasiswa terhadap investasi saham di kampus cukup tinggi. Hal ini terlihat dari aktivitas di KSPM, di mana banyak mahasiswa mulai mencoba berinvestasi meski dalam skala terbatas.
Di sisi lain, Kadarusman juga menyentuh kondisi ekonomi global, termasuk melemahnya nilai rupiah dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, situasi ini justru bisa menjadi peluang bagi investor yang memahami strategi jangka panjang.
“Bagi value investor, saat kondisi seperti ini justru momentum untuk masuk. Istilahnya ‘serok-serok’. Tapi tentu harus paham risikonya,” tambahnya.
Kesimpulan
Seminar literasi keuangan yang digelar oleh STIE Malangkucecwara telah memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa. Melalui kolaborasi dengan OJK, BEI, dan perusahaan sekuritas, peserta dapat memperluas wawasan mereka tentang investasi dan pengelolaan keuangan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah penting dalam mengedukasi mahasiswa untuk waspada terhadap investasi bodong yang menawarkan imbal hasil tidak realistis.
Dengan semakin tingginya minat mahasiswa terhadap pasar modal, diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan agar generasi muda memiliki dasar yang kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi global.







