Presiden Iran Menegaskan Tidak Akan Tunduk pada Tekanan AS
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pezeshkian dalam sebuah upacara penghormatan bagi anggota tim Paralimpiade Iran pada hari Sabtu.
“Kami tidak akan sujud menghadapi kesulitan-kesulitan ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kekuatan dunia berbaris dengan kepengecutan untuk memaksa Iran menundukkan kepala. “Sama seperti Anda tidak sujud menghadapi kesulitan, kami juga tidak akan sujud menghadapi masalah ini.”
Pembicaraan Nuklir Berlanjut Tanpa Terobosan
Iran dan Amerika Serikat kembali menggelar pembicaraan tidak langsung mengenai program nuklir Teheran di Oman awal bulan ini. Pembicaraan dilanjutkan di Swiss pekan lalu. Meski kedua pihak menyebut dialog berlangsung positif, belum ada terobosan signifikan yang dicapai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan solusi diplomatik masih dalam “jangkauan” dan Teheran berencana menyusun rancangan kesepakatan dalam dua hingga tiga hari untuk dikirim ke Washington.
Namun, situasi di kawasan Teluk semakin tegang. Washington memperluas kehadiran militernya dengan mengerahkan dua kapal induk serta lebih dari 120 pesawat tempur ke Timur Tengah. Kapal induk terbesar dunia, USS Gerald R Ford, dilaporkan tengah menuju kawasan untuk bergabung dengan kelompok tempur USS Abraham Lincoln yang telah lebih dulu berada di Laut Arab.
Menurut media AS, pengerahan ini merupakan kekuatan udara terbesar Washington di kawasan tersebut sejak invasi ke Irak pada 2003.
Ancaman dan Respons
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa “hal buruk akan terjadi” jika tidak tercapai kesepakatan yang berarti. Ia bahkan menyebut Iran memiliki waktu “10 hingga 15 hari” untuk mencapai kesepakatan. Saat ditanya apakah AS akan melakukan aksi militer terbatas di tengah negosiasi, Trump menjawab bahwa ia “sedang mempertimbangkan itu.”
Iran merespons melalui surat resmi kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menegaskan bahwa penumpukan militer AS tidak bisa dianggap sebagai sekadar retorika. Teheran menyatakan tidak menginginkan eskalasi atau perang dan tidak akan memulai konflik. Namun, setiap agresi akan dibalas secara “tegas dan proporsional.” Iran juga sebelumnya memperingatkan dapat menargetkan pangkalan militer AS di kawasan serta menutup Selat Hormuz—jalur vital ekspor minyak negara-negara Teluk—jika terjadi serangan.
Warga Cemas di Tengah Ketidakpastian
Di Teheran, warga mengikuti perkembangan diplomasi dengan penuh kecemasan. Sebagian khawatir potensi perang akan berdampak pada masa depan anak-anak mereka dan memperburuk kondisi ekonomi yang sudah tertekan. Seorang pengusaha setempat menyebut kondisi bisnis telah melambat dan konflik militer hanya akan memperburuk keadaan.
Namun, ada pula warga yang optimistis bahwa konfrontasi besar dapat dihindari. Ketegangan regional juga mendorong sejumlah negara seperti Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia untuk menyarankan warganya meninggalkan Iran.
Situasi di Persimpangan Krusial
Situasi kini berada di persimpangan krusial: diplomasi atau eskalasi militer. Dunia menanti apakah negosiasi yang rapuh ini akan menghasilkan kesepakatan, atau justru membuka babak baru ketegangan di Timur Tengah.







