Kondisi di Lebanon dan Risiko Tugas Pasukan Perdamaian PBB
Pengalaman seorang eks anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) memberikan wawasan mendalam tentang tantangan yang dihadapi pasukan perdamaian PBB di Lebanon. Serma (Purn) Muhtar Efendi, yang pernah bertugas sebagai bagian dari UNIFIL antara 2010 hingga 2011, menjelaskan bahwa situasi di wilayah tersebut sangat dinamis dan penuh risiko.
Menurut Muhtar, Israel sering kali tidak mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006. Resolusi ini bertujuan untuk mengakhiri konflik antara Hizbullah dan Israel serta mewajibkan gencatan senjata permanen. Salah satu upaya untuk mencapai hal tersebut adalah pembentukan zona penyangga antara kedua pihak. Namun, dalam praktiknya, situasi tidak selalu berjalan mulus.
Muhtar menyoroti penggunaan drone oleh Israel yang sering kali memasuki wilayah Lebanon. Drone-drone ini digunakan untuk memantau aktivitas masyarakat Lebanon dan juga memetakan posisi pasukan PBB. Hal ini menunjukkan bahwa pasukan perdamaian tidak dapat sepenuhnya aman dari pengawasan dan ancaman dari pihak Israel.
“Drone ini diterbangkan oleh Israel. Selain untuk memantau kegiatan masyarakat Lebanon, juga digunakan untuk memetakan posisi-posisi atau titik-titik koordinat pasukan PBB,” ujar Muhtar.
Tugas Pasukan Perdamaian yang Berisiko Tinggi
Tugas pasukan perdamaian di Lebanon memang memiliki risiko yang tinggi. Meskipun mereka dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan aturan keterlibatan (rules of engagement), situasi di lapangan tetap sulit. Pasukan UNIFIL berada di tengah dua wilayah yang sedang berselisih, yaitu Israel dan Lebanon.
Muhtar menjelaskan bahwa pasukan perdamaian harus tetap netral dan tidak memihak salah satu pihak. Tujuannya adalah untuk menjaga perdamaian sesuai dengan resolusi yang telah ditetapkan. “Kita harus menjaga perdamaian agar bisa dijalankan oleh kedua belah pihak,” katanya.
Tanggung Jawab dan Persiapan Prajurit TNI
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI Jenderal Maruli Simanjuntak menyampaikan pesan kepada keluarga prajurit TNI yang tergabung dalam kontingen Garuda UNIFIL. Ia memastikan bahwa para prajurit tersebut sudah terlatih dan memahami tugas yang akan mereka jalani.
Maruli menyatakan bahwa setiap penugasan negara, terutama dalam misi perdamaian dunia di bawah naungan PBB, memiliki prosedur operasional standar. Namun, ia juga mengakui bahwa risiko tetap ada.
“Apapun juga semua pasti ada risikonya di tengah-tengah kejadian tersebut. Yang penting doakan saja, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik,” kata Maruli.
Kesimpulan
Pengalaman Muhtar Efendi dan pernyataan Maruli Simanjuntak menunjukkan bahwa tugas pasukan perdamaian di Lebanon bukanlah hal yang mudah. Meski mereka dilengkapi dengan SOP dan aturan yang jelas, kondisi di lapangan tetap penuh risiko. Diperlukan kesadaran dan persiapan yang matang untuk menghadapi situasi yang tidak pasti.







