Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax

    4 April 2026

    Puncak arus balik 2026 belum berlalu, kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi memanjang

    4 April 2026

    PP Tunas Berlaku, Ini Cara Alihkan Anak ke Aktivitas Produktif

    4 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Sabtu, 4 April 2026
    Trending
    • AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax
    • Puncak arus balik 2026 belum berlalu, kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi memanjang
    • PP Tunas Berlaku, Ini Cara Alihkan Anak ke Aktivitas Produktif
    • Opini: Bebaskan Timor Barat dari Malaria, Kuncinya Surveilans Migrasi
    • 7 manfaat minum alpukat untuk ibu hamil, jangan sampai terlewat
    • Misteri Pembunuhan Maria Simaremare, Staf Bawaslu Tewas Mengenaskan di Kontrakan
    • Pesona Pantai Gajah Kebumen, Wisata Murah dan Bebas Bayar
    • Wall Street Naik Senin (30/3), Perhatian pada Konflik Timur Tengah
    • Kapan saja kamu terlambat menerima chat WhatsApp? Ini penyebab dan solusinya
    • 2,77 Juta Kendaraan Pemudik Kembali ke Jakarta Hingga H+7 Lebaran 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Nasional»Penyebaran Foto Jenazah: Sensasi atau Kurang Empati?

    Penyebaran Foto Jenazah: Sensasi atau Kurang Empati?

    adm_imradm_imr25 Januari 20262 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Penyebaran Foto Jenazah Selebgram Lula Lahfah: Tindakan yang Mengundang Kekhawatiran

    Penyebaran foto jenazah selebgram Lula Lahfah di media sosial telah memicu kemarahan publik karena dinilai tidak etis dan menciptakan sensasi tanpa mempertimbangkan dampaknya. Namun, psikiater menilai bahwa tindakan tersebut tidak selalu berasal dari niat jahat, melainkan mungkin merupakan respons psikologis manusia ketika menghadapi peristiwa yang mengejutkan.

    Kasus ini muncul setelah Lula Lahfah ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/1/2026). Sejumlah foto dan tangkapan layar sensitif beredar luas sebelum ada konfirmasi resmi dari keluarga. Fenomena ini memicu seruan “Death is Not Content” dari warganet sebagai pengingat bahwa kematian bukan sekadar konsumsi digital, tetapi peristiwa kemanusiaan yang harus dihormati.

    Bukan Sekadar Cari Sensasi

    Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai bahwa motif penyebaran foto jenazah tidak bisa disederhanakan sebagai upaya mencari ketenaran. Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang yang menyebarkan foto memiliki niat untuk terkenal, meskipun itu bisa menjadi salah satu motif.

    Menurut Lahargo, banyak orang bereaksi secara impulsif ketika menghadapi peristiwa ekstrem seperti kematian mendadak. Dalam situasi seperti ini, emosi tinggi dapat memicu apa yang disebut urgency bias, yaitu dorongan kuat untuk segera menyampaikan informasi kepada orang lain.

    Efek Syok dan Dorongan Menyampaikan Informasi

    Lahargo menjelaskan bahwa dalam kondisi syok, kontrol diri cenderung menurun dan refleks berbagi bisa lebih cepat daripada pertimbangan etis. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi ini, emosi kerap mengambil alih nalar, sehingga seseorang bertindak tanpa niat menyakiti, tetapi tetap berujung pada dampak yang merugikan.

    Faktor lain yang berperan adalah kebutuhan akan pengakuan sosial, termasuk keinginan menjadi orang pertama yang membagikan informasi atau merasa memiliki akses eksklusif. Lahargo menambahkan bahwa mekanisme ini berkaitan erat dengan sistem penghargaan sosial di media digital, seperti tanda suka, komentar, dan unggahan ulang.

    Empati yang Menumpul di Ruang Digital

    Paparan berulang terhadap konten kekerasan dan kematian juga berpotensi menyebabkan desensitisasi emosional, yakni kondisi ketika empati perlahan menurun. Lahargo menjelaskan bahwa batas antara berita dan penderitaan manusia menjadi kabur. Dalam kondisi ini, penderitaan orang lain tidak lagi dipersepsikan sebagai pengalaman manusiawi, melainkan sekadar konten yang bisa dikonsumsi dan dibagikan.

    Rasionalisasi Moral yang Menyesatkan

    Sebagian orang membenarkan tindakannya dengan alasan edukasi atau penyampaian fakta, misalnya dengan dalih “agar jadi pelajaran”. Lahargo menegaskan bahwa edukasi tidak membutuhkan visual jenazah. Ia menyebut pola ini sebagai bentuk moral disengagement, yaitu cara otak meredam rasa bersalah dengan pembenaran semu.

    Dampak Nyata bagi Keluarga dan Publik Rentan

    Lahargo mengingatkan bahwa penyebaran foto jenazah dapat menimbulkan dampak psikologis serius, terutama bagi keluarga korban dan individu yang rentan terhadap trauma. Foto semacam itu bisa memicu ingatan traumatis, memperberat proses berduka, dan meninggalkan luka psikologis jangka panjang.

    Pandangan ini sejalan dengan peringatan sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Drajat Tri Kartono, yang sebelumnya menilai penyebaran foto jenazah melanggar norma sosial tak tertulis dan berpotensi melukai perasaan keluarga.

    Literasi Empati di Era Digital

    Menurut Lahargo, persoalan utama di ruang digital bukan hanya niat, melainkan tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan. Ia menekankan bahwa empati di era digital perlu dilatih melalui literasi kesehatan jiwa dan kesadaran etika bermedia.

    Di tengah derasnya arus informasi, ia mengingatkan bahwa memilih untuk tidak menyebarkan konten sensitif adalah bentuk empati paling sederhana, sekaligus penghormatan bagi mereka yang telah meninggal dan keluarga yang ditinggalkan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax

    By adm_imr4 April 20262 Views

    Bahlil Tanggapi Isu Kenaikan Harga BBM Subsidi 1 April 2026

    By adm_imr4 April 20262 Views

    Strategi Mentan Amran Jamin Stok Beras hingga 2027, Hadapi El Nino Godzilla

    By adm_imr4 April 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax

    4 April 2026

    Puncak arus balik 2026 belum berlalu, kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi memanjang

    4 April 2026

    PP Tunas Berlaku, Ini Cara Alihkan Anak ke Aktivitas Produktif

    4 April 2026

    Opini: Bebaskan Timor Barat dari Malaria, Kuncinya Surveilans Migrasi

    4 April 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026

    Buka Musrenbang RKPD 2027, Wali Kota Malang Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Inklusif

    31 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?