Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    UM Gaungkan Kampus Hijau di Momentum Hari Bumi

    17 April 2026

    Alih Fungsi Lahan di Hulu Bumiaji Picu Bencana, Wali Kota Batu Minta Aturan Tata Ruang Jelas

    16 April 2026

    Denada Rahasiakan Identitas Ayah Ressa, Sosok Ini Tak Ingin Dikaitkan

    16 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 19 April 2026
    Trending
    • UM Gaungkan Kampus Hijau di Momentum Hari Bumi
    • Alih Fungsi Lahan di Hulu Bumiaji Picu Bencana, Wali Kota Batu Minta Aturan Tata Ruang Jelas
    • Denada Rahasiakan Identitas Ayah Ressa, Sosok Ini Tak Ingin Dikaitkan
    • KPK Tangkap Bupati Tulungagung, 12 Pejabat Dibawa ke Jakarta, Termasuk Adik Bupati
    • Konstruksi Keluhkan Kenaikan Biaya Akibat Konflik Timur Tengah
    • Dedi Mulyadi Tantang Netizen, Pelaku Video Jalan Rusak Jabar Tertawa
    • Tiket Ibadah Haji Akan Hadir, Ini Penjelasannya
    • Studi: Tidur Lebih Awal Tingkatkan Fokus dan Nilai Akademik Remaja
    • Protein Harian: Kebutuhan atau Kelebihan Tanpa Disadari?
    • Lima langkah efektif lolos UTBK SNBT 2026: Fokus dan disiplin latihan soal
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Nasional»Penyebaran Foto Jenazah: Sensasi atau Kurang Empati?

    Penyebaran Foto Jenazah: Sensasi atau Kurang Empati?

    adm_imradm_imr25 Januari 20262 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Penyebaran Foto Jenazah Selebgram Lula Lahfah: Tindakan yang Mengundang Kekhawatiran

    Penyebaran foto jenazah selebgram Lula Lahfah di media sosial telah memicu kemarahan publik karena dinilai tidak etis dan menciptakan sensasi tanpa mempertimbangkan dampaknya. Namun, psikiater menilai bahwa tindakan tersebut tidak selalu berasal dari niat jahat, melainkan mungkin merupakan respons psikologis manusia ketika menghadapi peristiwa yang mengejutkan.

    Kasus ini muncul setelah Lula Lahfah ditemukan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/1/2026). Sejumlah foto dan tangkapan layar sensitif beredar luas sebelum ada konfirmasi resmi dari keluarga. Fenomena ini memicu seruan “Death is Not Content” dari warganet sebagai pengingat bahwa kematian bukan sekadar konsumsi digital, tetapi peristiwa kemanusiaan yang harus dihormati.

    Bukan Sekadar Cari Sensasi

    Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI), dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai bahwa motif penyebaran foto jenazah tidak bisa disederhanakan sebagai upaya mencari ketenaran. Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang yang menyebarkan foto memiliki niat untuk terkenal, meskipun itu bisa menjadi salah satu motif.

    Menurut Lahargo, banyak orang bereaksi secara impulsif ketika menghadapi peristiwa ekstrem seperti kematian mendadak. Dalam situasi seperti ini, emosi tinggi dapat memicu apa yang disebut urgency bias, yaitu dorongan kuat untuk segera menyampaikan informasi kepada orang lain.

    Efek Syok dan Dorongan Menyampaikan Informasi

    Lahargo menjelaskan bahwa dalam kondisi syok, kontrol diri cenderung menurun dan refleks berbagi bisa lebih cepat daripada pertimbangan etis. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi ini, emosi kerap mengambil alih nalar, sehingga seseorang bertindak tanpa niat menyakiti, tetapi tetap berujung pada dampak yang merugikan.

    Faktor lain yang berperan adalah kebutuhan akan pengakuan sosial, termasuk keinginan menjadi orang pertama yang membagikan informasi atau merasa memiliki akses eksklusif. Lahargo menambahkan bahwa mekanisme ini berkaitan erat dengan sistem penghargaan sosial di media digital, seperti tanda suka, komentar, dan unggahan ulang.

    Empati yang Menumpul di Ruang Digital

    Paparan berulang terhadap konten kekerasan dan kematian juga berpotensi menyebabkan desensitisasi emosional, yakni kondisi ketika empati perlahan menurun. Lahargo menjelaskan bahwa batas antara berita dan penderitaan manusia menjadi kabur. Dalam kondisi ini, penderitaan orang lain tidak lagi dipersepsikan sebagai pengalaman manusiawi, melainkan sekadar konten yang bisa dikonsumsi dan dibagikan.

    Rasionalisasi Moral yang Menyesatkan

    Sebagian orang membenarkan tindakannya dengan alasan edukasi atau penyampaian fakta, misalnya dengan dalih “agar jadi pelajaran”. Lahargo menegaskan bahwa edukasi tidak membutuhkan visual jenazah. Ia menyebut pola ini sebagai bentuk moral disengagement, yaitu cara otak meredam rasa bersalah dengan pembenaran semu.

    Dampak Nyata bagi Keluarga dan Publik Rentan

    Lahargo mengingatkan bahwa penyebaran foto jenazah dapat menimbulkan dampak psikologis serius, terutama bagi keluarga korban dan individu yang rentan terhadap trauma. Foto semacam itu bisa memicu ingatan traumatis, memperberat proses berduka, dan meninggalkan luka psikologis jangka panjang.

    Pandangan ini sejalan dengan peringatan sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Drajat Tri Kartono, yang sebelumnya menilai penyebaran foto jenazah melanggar norma sosial tak tertulis dan berpotensi melukai perasaan keluarga.

    Literasi Empati di Era Digital

    Menurut Lahargo, persoalan utama di ruang digital bukan hanya niat, melainkan tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan. Ia menekankan bahwa empati di era digital perlu dilatih melalui literasi kesehatan jiwa dan kesadaran etika bermedia.

    Di tengah derasnya arus informasi, ia mengingatkan bahwa memilih untuk tidak menyebarkan konten sensitif adalah bentuk empati paling sederhana, sekaligus penghormatan bagi mereka yang telah meninggal dan keluarga yang ditinggalkan.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Denada Rahasiakan Identitas Ayah Ressa, Sosok Ini Tak Ingin Dikaitkan

    By adm_imr16 April 20267 Views

    Suara Denada Bergetar, Akui Telah Beri Maaf pada Ayah Kandung Ressa

    By adm_imr16 April 20263 Views

    Dua Pelajar Terluka di Depan SMP 8 Cirebon, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya

    By adm_imr16 April 20263 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    UM Gaungkan Kampus Hijau di Momentum Hari Bumi

    17 April 2026

    Alih Fungsi Lahan di Hulu Bumiaji Picu Bencana, Wali Kota Batu Minta Aturan Tata Ruang Jelas

    16 April 2026

    Denada Rahasiakan Identitas Ayah Ressa, Sosok Ini Tak Ingin Dikaitkan

    16 April 2026

    KPK Tangkap Bupati Tulungagung, 12 Pejabat Dibawa ke Jakarta, Termasuk Adik Bupati

    16 April 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Karcis Masuk Pantai Pasir Panjang Disorot, Transparansi Retribusi Dipertanyakan

    7 April 2026

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?