Pengalaman Tak Terlupakan dalam Misi Pemulihan Kelistrikan Pasca Banjir Bandang Aceh
Sukma Kelana Putra, seorang petugas PLN UID Kalselteng, memiliki pengalaman yang tak akan pernah terlupakan. Ia diterjunkan dalam misi pemulihan kelistrikan pasca banjir bandang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir 2025. Selama beberapa minggu, ia dan rekan-rekannya bekerja keras untuk memperbaiki jaringan listrik di wilayah terdampak bencana, khususnya di kota Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah.
Salah satu tugas utamanya adalah mengalirkan kembali listrik ke Pepayungen Angkup, sebuah kota kecamatan di wilayah tersebut. Untuk sampai ke lokasi, Sukma harus menempuh perjalanan panjang dengan beberapa kali transit penerbangan, mulai dari Banjarmasin ke Jakarta, dilanjutkan ke Medan, kemudian ke Bandara Rembele Aceh.
Kondisi Memprihatinkan Saat Pertama Kali Tiba
Saat pertama kali tiba di Aceh pada awal Januari 2026, Sukma menyaksikan kondisi permukiman warga yang sangat memprihatinkan. Jalan putus, jembatan rusak, rumah-rumah hancur, dan tanah longsor menjadi pemandangan yang ia lihat. Ia mengungkapkan bahwa kondisi ini persis seperti yang diberitakan.
Di kawasan Bener Meriah, banyak akses jalan yang tidak bisa dilewati karena jembatan putus dan longsoran tanah. Saluran listrik ke rumah-rumah juga terputus, sehingga warga lama bertahan tanpa lampu dan listrik. Menurut cerita warga, sekitar 50 hari tidak ada lampu nyala. Suara azan juga tidak terdengar karena pengeras suara tidak bisa dinyalakan. Malamnya gelap gulita karena penerangannya hanya lilin.
Penyebab Tidak Ada Aliran Listrik
Tidak adanya aliran listrik disebabkan oleh banyak tiang yang tumbang akibat tanah longsor serta tertarik pohon-pohon besar yang roboh. Saat tim PLN tiba, harapan warga hanya satu, yaitu listrik bisa segera pulih seperti semula. Mereka sangat merindukan listrik kembali menyala.
Atas instruksi pimpinan, tim ditugaskan untuk memperbaiki kabel yang putus dan melakukan pemulihan jaringan. Namun, tantangan terberat adalah pemasangan tiang secara manual karena alat berat tidak bisa masuk ke lokasi. Akses jalan menuju perdesaan yang masih terputus menyebabkan mobil crane atau derek tak bisa masuk. Kondisi tersebut mengharuskan Sukma dan rekan-rekannya mengangkat dan memasang tiang listrik yang berat itu secara manual.
Tantangan dalam Pemulihan Jaringan Listrik
Beratnya tiang bisa mencapai 300 hingga 400 kilogram. Mereka dengan jumlah puluhan harus mengangkat tiang di lereng-lereng gunung. Medannya cukup sulit. Namun, berkat kerja sama dan semangat kebersamaan, tiang-tiang berhasil ditanam kembali. Selama dua minggu, tim PLN dan petugas gabungan berhasil menyalakan enam trafo dan memulihkan listrik di beberapa desa di Aceh.
Alhamdulillah, suara azan kembali terdengar melalui pengeras suara. Sebelumnya kondisi di sana seperti kampung tanpa kehidupan karena listrik benar-benar padam. Warga harus memakai lilin dan memasak dengan kayu bakar.
Semangat dan Kepercayaan Diri
Selama kurang lebih dua minggu di lokasi bencana, Sukma mengaku sempat waswas jika terjadi bencana susulan. Namun, langkahnya yang diiringi doa dan dukungan keluarga membuatnya menjadi kuat. Bahkan, sepulang dari misi di Aceh, Sukma mengaku siap apabila kembali dipercaya untuk menjalankan misi serupa.
“Teman-teman yang masih berjuang tetap semangat, jangan menyerah, KSKT untuk Aceh, cepat pulih Aceh,” tutupnya.







