Presiden Iran Menanggapi Serangan Israel ke Lebanon
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memberikan pernyataan terkait serangan yang dilakukan Israel terhadap Lebanon. Ia menilai bahwa serangan tersebut akan mengganggu kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa tindakan ini akan membuat proses negosiasi perdamaian antara AS dan Iran menjadi tidak berarti.
“Serangan tersebut menandakan penipuan, ketidakpatuhan terhadap gencatan senjata, dan membuat negosiasi (perdamaian Iran dan AS menjadi) tidak berarti. Tangan kami tetap berada di pelatuk. Iran tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudarinya di Lebanon,” ujar Pezeshkian dalam unggahan di X pada Kamis (9/4/2026).
Serangan Israel ke Lebanon Menewaskan Ratusan Jiwa
Israel melakukan serangan besar-besaran ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026). Menurut otoritas pertahanan sipil Lebanon, serangan tersebut menewaskan 254 orang. Sementara itu, 1.165 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Menurut Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, Israel melakukan lebih dari 100 serangan udara di sejumlah wilayah negaranya. Serangan tersebut, kata Nassereddine, menghantam area komersial dan perumahan warga.
“Ambulans masih mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon,” kata Nassereddine kepada Al Jazeera.
Serangan Dilakukan di Tengah Gencatan Senjata AS dan Iran

Serangan Israel ke Lebanon dilakukan di tengah gencatan senjata antara AS dan Iran. AS sendiri telah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026). Gencatan senjata ini juga melibatkan Israel. Artinya, selama dua pekan ke depan, AS, Iran, dan Israel tidak boleh saling serang.
Sayangnya, AS dan Israel menegaskan bahwa Lebanon tidak terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Padahal, menurut pemerintah Iran, dokumen kesepakatan gencatan senjata yang diberikan AS secara eksplisit melibatkan Lebanon.
Oleh karena itu, Iran mengancam akan keluar dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus menyerang Lebanon. “Iran akan menarik diri dari perjanjian tersebut jika pelanggaran gencatan senjata oleh rezim Zionis terus berlanjut melalui serangan terhadap Lebanon,” bunyi pernyataan sumber ananim Iran kepada Tasnim News yang dikutip oleh Anadolu Agency.
Israel Menyerang Lebanon untuk Membasmi Hizbullah

Israel mulai menyerang Lebanon sejak 2 Maret 2026. Serangan ini dilakukan karena Israel ingin membasmi Hizbullah yang sudah membantu Iran berperang melawan Israel dan AS.
Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 1.530 orang. Sementara itu, lebih dari 1,2 juta orang lainnya terpaksa mengungsi ke tempat aman untuk menghindari serangan Israel.
Sebetulnya, Lebanon sudah berupaya melobi Israel agar serangan bisa berakhir. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil hingga saat ini. Sebab, Israel masih ingin menyerang Lebanon sampai Hizbullah benar-benar kalah.







