Kekhawatiran Global Akibat Ultimatum Donald Trump terhadap Iran
Ketegangan geopolitik global kembali memuncak setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan ultimatum keras kepada Iran terkait pembukaan jalur vital energi dunia. Ancaman tersebut berfokus pada Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama sekitar 20 persen distribusi minyak global. Penutupan jalur ini mengganggu pasokan minyak dan memicu lonjakan harga di pasar internasional.
Dampak Ekonomi yang Menyebar
Situasi ini langsung memicu kepanikan di pasar energi internasional, dengan investor bereaksi cepat terhadap potensi gangguan pasokan besar-besaran. Harga minyak dunia pun melonjak tajam, di mana jenis West Texas Intermediate (WTI) bahkan menyentuh level sekitar 113 dolar AS per barel. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran serius akan krisis energi jika konflik benar-benar meningkat menjadi konfrontasi terbuka.
Di sisi lain, Iran menolak tuntutan tersebut dan menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan, sehingga memperbesar risiko eskalasi konflik. Ketidakpastian yang terus berlanjut membuat pasar global bergejolak, dengan harga minyak kini lebih dipengaruhi faktor geopolitik dibandingkan fundamental ekonomi. Jika situasi tidak segera mereda, dunia berpotensi menghadapi lonjakan harga energi yang lebih tinggi dan dampak luas terhadap perekonomian global.
Pernyataan Trump dan Respons Pasar
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam bakal serang lagi Iran jika tak mematuhi tenggat kesepakatan pada Selasa (7/4/2026) malam waktu setempat. Trump menjelaskan bakal ada tindakan lebih lanjut bila Iran masih menutup Selat Hormuz. “Mereka bisa disingkirkan,” jelas Trump dikutip dari Reuters, Selasa (7/4/2026).
Setelah pernyataan ini, harga minyak dunia kembali naik. Harga minyak mentah Brent berjangka naik 57 dollar AS atau 0,5 persen menjadi 110,34 dollar AS per barrel (sekitar Rp 1.880.634, kurs Rp 17.050). Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka naik 1,26 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 113,67 dollar AS (Rp 1.937.959) per barrel.
Trump melontarkan pernyataan setelah Teheran menolak rencana gencatan senjata lalu mengakhiri perang yang mengguncang perekonomian dunia itu. Selat Hormuz masih ditutup. Pasukan Iran sejak 28 Februari 2026 telah menutup Selat Hormuz yang akhirnya mengganggu 20 persen jalur distribusi minyak global.
Situasi yang Semakin Genting
Kini, waktu semakin genting karena jika peringatan Trump tak dihiraukan maka perang kembali berkecamuk. Ia mengaku mendapat bala bantuan dari beberapa negara untuk melawan Iran. “Mereka punya waktu sampai besok. Sekarang kita akan lihat apa yang terjadi. Saya bisa memberi tahu Anda, mereka sedang bernegosiasi, kami pikir dengan itikad baik, kita akan segera mengetahuinya. Kami mendapatkan bantuan dari beberapa negara luar biasa yang ingin ini diakhiri, karena ini juga memengaruhi mereka,” jelas Trump dikutip dari CNBC.
Dikhawatirkan jika serangan kembali terjadi, Iran semakin memperketat penjagaan di Selat Hormuz dan ini buruk bagi ketahanan energi global. Tidak hanya itu, ancaman serangan juga dapat memicu krisis energi yang lebih dalam dan memengaruhi stabilitas ekonomi dunia secara keseluruhan. Masyarakat dan pelaku bisnis mulai bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga energi yang signifikan.







