Renungan untuk Kaum Ibu Kristen
Pembacaan Alkitab yang digunakan dalam renungan ini adalah 1 Korintus 1:18-2:5. Isi renungan ini khusus ditujukan kepada para kaum ibu Kristen dalam menjalani kehidupan sehari-hari, agar hidup mereka sesuai dengan firman Tuhan. Renungan ini juga dapat digunakan oleh para wanita yang akan memimpin ibadah atau dalam pertemuan kelompok kecil kaum ibu.
Tema Renungan: Iman Tidak Bergantung pada Hikmat Manusia, Tapi pada Kekuatan Allah
Khotbah hari ini membawa kita pada pertanyaan mendasar: Di mana iman kita berdiri? Dalam 1 Korintus 2:5, Paulus berkata, “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” Inilah tema utama dari renungan kita hari ini.
Kota Korintus pada zaman Paulus adalah kota yang maju, ramai, dan penuh perdagangan serta budaya. Orang-orang di sana bangga dengan kepintaran, retorika, dan filsafat. Keadaan ini mirip dengan dunia kita saat ini. Para ibu GMIM tersebar di desa-desa, kota-kota yang semakin modern, bahkan di luar negeri. Mereka bekerja sebagai guru, dokter, perawat, dosen, atau pekerja rumah tangga. Dunia terus berubah, dan media sosial, teknologi, gaya hidup, serta tekanan ekonomi mulai membentuk cara berpikir manusia.
Di tengah semua itu, pertanyaannya adalah: Apakah kita benar-benar mengandalkan Tuhan, atau hanya kemampuan manusia? Paulus berkata, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”
Salib bukanlah lambang kemenangan yang megah, melainkan lambang penderitaan, kelemahan, dan kehinaan. Namun, itulah tempat di mana Allah bekerja. Wanita dan kaum ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus, banyak dari kita hidup dalam pergumulan yang tidak ringan. Ada yang bergumul dengan ekonomi keluarga, ada yang suaminya jauh bekerja, ada yang mendidik anak sendirian, dan ada yang bekerja di negeri orang, menahan rindu bahkan mungkin diperlakukan tidak adil.
Dalam keadaan seperti itu, sering kita bertanya: Tuhan, di mana Engkau? Firman ini mengingatkan bahwa kuasa Allah tidak selalu tampil dalam kemegahan. Kuasa Allah sering bekerja dalam kelemahan. Paulus sendiri berkata dalam 2:3, “Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Bahkan rasul besar itu pun merasa lemah, tetapi ia bersandar pada Roh Kudus.
Dunia Mengajarkan Kebangkitan dari Jabatan, Uang, dan Popularitas
Dunia hari ini mengajarkan bahwa keberhasilan diukur dari jabatan, uang, popularitas, dan pendidikan tinggi. Tidak salah untuk belajar dan bekerja keras. Tetapi jika iman kita bergantung pada semua itu, maka iman kita akan goyah ketika semua itu hilang. Ketika ekonomi sulit, apakah iman kita runtuh? Ketika anak-anak tidak sesuai harapan, apakah kita kehilangan pengharapan? Ketika kesehatan terganggu, apakah kita mulai menyalahkan Tuhan?
Paulus menegaskan bahwa Allah memilih yang lemah, yang hina, yang tidak terpandang. Mengapa? Supaya tidak ada seorang pun yang memegahkan diri. Artinya, keselamatan dan kekuatan hidup kita bukan hasil kepintaran kita, tetapi anugerah Allah.
Yesus Terangkat ke Sorga
Dalam minggu ini, kita juga mengingat terangkatnya Tuhan Yesus ke Sorga. Yesus yang disalibkan, yang tampak kalah, justru ditinggikan oleh Allah. Ini bukan tanda bahwa Ia meninggalkan kita, tetapi bahwa Ia berkuasa dan memerintah. Yesus terangkat ke sorga bukan sebagai Raja yang jauh, tetapi sebagai Tuhan yang memerintah atas hidup kita.
Artinya, kehidupan ibu-ibu sekalian tidak pernah lepas dari pengawasan dan kuasa-Nya. Mungkin ibu merasa kecil, mungkin merasa tidak dihargai, mungkin merasa hanya “ibu rumah tangga biasa.” Tetapi di mata Tuhan, ibu-ibu adalah bagian dari karya keselamatan-Nya. Doa ibu, air mata ibu, kesetiaan ibu membentuk anak-anak dalam takut akan Tuhan itu adalah pelayanan yang besar.
Dalam ayat 30 dikatakan bahwa oleh Allah kita berada dalam Kristus Yesus. Kristus menjadi hikmat, membenarkan, menguduskan, dan menebus kita. Iman yang bergantung pada hikmat manusia akan berkata: “Saya bisa kalau situasi mendukung.” Iman yang bergantung pada kekuatan Allah berkata: “Sekalipun situasi sulit, Tuhan tetap sanggup.”
Tantangan yang Berbeda, Kuasa Allah yang Sama
Di desa, mungkin tantangan adalah keterbatasan ekonomi. Di kota, tantangan adalah gaya hidup dan kompetisi. Di luar negeri, tantangan adalah kesepian dan tekanan kerja. Tetapi di semua tempat itu, kuasa Allah sama. Roh Kudus yang bekerja di Korintus juga bekerja di mana pun. Paulus tidak mengandalkan kata-kata yang meyakinkan secara manusia. Ia mengandalkan kuasa Roh (2:4). Begitu juga kita.
Jangan biarkan iman kita hanya merupakan warisan dan tradisi. Jangan biarkan iman kita hanya ikut-ikutan. Iman yang sejati lahir dari perjumpaan dengan kuasa Allah. Dan ketika Yesus naik ke sorga, Ia tidak meninggalkan murid-murid-Nya sendirian. Ia menjanjikan Roh Kudus. Itu berarti: ibu-ibu tidak pernah berjalan sendiri.
Mungkin orang tidak melihat perjuangan ibu-ibu. Tetapi Tuhan melihat. Mungkin dunia tidak menghargai pengorbanan ibu-ibu. Tetapi Tuhan menghitung setiap air mata. Karena itu, mari kita periksa hati kita hari ini: Apakah iman saya bergantung pada Tuhan, atau pada situasi? Apakah saya percaya Tuhan hanya ketika semuanya baik-baik saja?
Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk berdiri teguh di atas satu dasar: kuasa Allah. Dan ketika iman kita berdiri di atas kuasa Allah, kita tidak mudah goyah. Kita tetap setia. Kita tetap berharap. Kita tetap melayani. Kiranya ibu-ibu boleh berkata seperti Paulus: Iman kami tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Amin.







