Target Produksi Batu Bara PTBA pada 2026
PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menetapkan target produksi batu bara sebesar sekitar 50 juta ton pada tahun 2026, meningkat 5,93% dibandingkan realisasi produksi pada 2025 yang mencapai 47,2 juta ton. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menyatakan bahwa target ini ditetapkan setelah perseroan mendapatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dari pemerintah tanpa adanya pengurangan volume produksi dari yang sebelumnya diajukan.
Dengan disetujui RKAB tersebut, PTBA memiliki dasar kuat untuk memperkuat kinerjanya pada 2026. Arsal mengungkapkan bahwa perusahaan tetap optimistis menghadapi tahun depan. “Memasuki 2026 kami tetap optimistis. Berdasarkan RKAB pada 2026, kami menargetkan volume sekitar 50 juta ton,” ujarnya.
Target kinerja yang lebih baik pada 2026 diharapkan dapat dicapai melalui peningkatan efisiensi serta optimalisasi portofolio bisnis berkelanjutan dengan menjaga fundamental yang kuat dan strategi adaptif berkelanjutan.
Peningkatan Produksi dan Penjualan
PTBA berhasil meningkatkan volume produksi batu bara sebesar 9% secara tahunan menjadi 47,2 juta ton. Kenaikan produksi ini juga diikuti oleh pertumbuhan volume penjualan sebesar 6% menjadi 45,4 juta ton. Capaian positif ini mencerminkan keberhasilan strategi adaptif perusahaan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi, baik untuk pasar domestik maupun internasional.
Seiring dengan peningkatan produksi, volume angkutan batu bara juga mengalami kenaikan sebesar 6% dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton sepanjang 2025.
Strategi Pasar Domestik dan Ekspor
Dari sisi pasar, PTBA tetap mengutamakan kebutuhan dalam negeri dengan alokasi 54% dari total penjualan untuk pasar domestik. Peran ini menegaskan posisi perseroan sebagai salah satu pilar utama dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Di sisi lain, ekspansi ke pasar global terus diperkuat. PTBA mencatatkan porsi ekspor sebesar 46% sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasar untuk meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
Selain mempertahankan pangsa pasar di kawasan Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, perseroan juga mulai menjajaki pasar baru di Eropa. “PTBA juga berhasil melakukan penetrasi pasar baru ke benua Eropa, yakni ke Spanyol dan Rumania,” kata Arsal.
Kinerja Keuangan pada 2025
Di tengah tantangan harga batu bara, kinerja keuangan PTBA pada 2025 mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,93 triliun, turun 42,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,1 triliun. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya harga batu bara global.
Perseroan mencatat EBITDA sebesar Rp6,08 triliun dengan margin 14% sepanjang 2025. Meski laba tertekan, PTBA mencatat perbaikan profitabilitas secara kuartalan yang didorong oleh optimalisasi portofolio ekspor serta efisiensi biaya.
Performa Operasional dan Efisiensi
Dari sisi operasional, kinerja perusahaan tetap solid. Produksi batu bara tumbuh 9% secara tahunan, diikuti peningkatan penjualan sebesar 6%. Namun demikian, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) turun 6% secara tahunan seiring penurunan harga batu bara acuan global. Newcastle Coal Index melemah hingga 22%, sementara Indonesia Coal Index-3 turun 16%.
Sepanjang 2025, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, beban pokok pendapatan juga meningkat 5% menjadi Rp36,39 triliun, seiring dengan kenaikan volume operasional.
Meski demikian, efisiensi tetap terlihat dari penurunan stripping ratio menjadi 6,07 kali dari sebelumnya 6,23 kali. Selain itu, volume angkutan batu bara juga meningkat 6% dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton.
Langkah Ke Depan
Dengan kinerja tersebut, PTBA tetap akan menjaga ketahanan energi nasional, terutama melalui pasokan ke pasar domestik yang mencapai lebih dari separuh total penjualan. Ke depan, perseroan akan terus mengkombinasikan strategi efisiensi biaya dengan ekspansi pasar global guna menjaga kinerja di tengah volatilitas harga komoditas.







