Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax

    4 April 2026

    Puncak arus balik 2026 belum berlalu, kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi memanjang

    4 April 2026

    PP Tunas Berlaku, Ini Cara Alihkan Anak ke Aktivitas Produktif

    4 April 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Sabtu, 4 April 2026
    Trending
    • AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax
    • Puncak arus balik 2026 belum berlalu, kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi memanjang
    • PP Tunas Berlaku, Ini Cara Alihkan Anak ke Aktivitas Produktif
    • Opini: Bebaskan Timor Barat dari Malaria, Kuncinya Surveilans Migrasi
    • 7 manfaat minum alpukat untuk ibu hamil, jangan sampai terlewat
    • Misteri Pembunuhan Maria Simaremare, Staf Bawaslu Tewas Mengenaskan di Kontrakan
    • Pesona Pantai Gajah Kebumen, Wisata Murah dan Bebas Bayar
    • Wall Street Naik Senin (30/3), Perhatian pada Konflik Timur Tengah
    • Kapan saja kamu terlambat menerima chat WhatsApp? Ini penyebab dan solusinya
    • 2,77 Juta Kendaraan Pemudik Kembali ke Jakarta Hingga H+7 Lebaran 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Nasional»Sebelum Nord Stream Meledak, CIA Tahu dan Setuju

    Sebelum Nord Stream Meledak, CIA Tahu dan Setuju

    adm_imradm_imr28 Februari 20263 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



    Infomalangraya.com.CO.ID, JAKARTA — Intelijen Amerika Serikat ternyata telah mengetahui rencana sabotase Ukraina terhadap jalur pipa Nord Stream jauh lebih awal dari yang pernah dilaporkan sebelumnya. Demikian temuan terbaru Der Spiegel yang kembali mengguncang narasi resmi seputar salah satu aksi sabotase infrastruktur terbesar dalam sejarah modern Eropa.

    Menurut majalah Jerman itu, petugas CIA bertemu langsung dengan agen Ukraina pada musim semi 2022, berbulan-bulan sebelum ledakan terjadi, untuk membahas rencana penghancuran pipa yang selama ini mengalirkan gas alam Rusia ke Jerman di sepanjang dasar Laut Baltik. Sumber-sumber Ukraina menyebut para pejabat Amerika awalnya merespons positif dan bahkan terlibat dalam diskusi teknis mengenai operasi tersebut. Namun belakangan, CIA berbalik arah dan memperingatkan agar rencana itu tidak dilanjutkan. Juru bicara CIA membantah keras, menyebut klaim tersebut “sama sekali tidak benar.” Der Spiegel tetap mempertahankan laporannya, mengutip informasi yang mereka nilai kredibel dari berbagai sumber independen.

    Pengungkapan ini menambah lapisan baru pada misteri yang hingga hari ini belum terpecahkan secara hukum: siapa sesungguhnya yang memerintahkan penghancuran Nord Stream?

    Apa Itu Nord Stream, dan Mengapa Eropa Sangat Bergantung Padanya?

    Untuk memahami besarnya guncangan yang ditimbulkan ledakan itu, perlu dipahami dulu apa yang sesungguhnya hancur di kedalaman 80 meter Laut Baltik malam itu. Nord Stream dan Nord Stream 2 adalah dua jalur pipa gas bawah laut yang membentang sepanjang masing-masing 1.224 km dan 1.200 km, langsung dari Rusia ke Jerman tanpa melewati negara transit mana pun.

    Masing-masing jalur terdiri dari dua pipa, dengan total kapasitas desain mencapai 110 miliar meter kubik gas per tahun. Nilai investasi keseluruhan proyek ini mencapai €7,4 miliar (Rp146.941.800.000.000/Seratus empat puluh enam triliun sembilan ratus empat puluh satu miliar delapan ratus juta Rupiah), sebuah angka yang mencerminkan betapa seriusnya Eropa membangun ketergantungan energi jangka panjang dengan Rusia.

    Bagi Eropa, Nord Stream bukan sekadar pipa gas. Ia adalah jaminan pasokan energi yang murah, stabil, dan terprediksi selama lebih dari satu dekade. Gas Rusia yang mengalir melalui Nord Stream menjadi tulang punggung industri Jerman, menggerakkan pabrik-pabrik, memanaskan jutaan rumah tangga, dan menekan biaya produksi hingga titik yang membuat manufaktur Eropa mampu bersaing secara global.

    Nord Stream mulai dibangun pada 2010 dan beroperasi secara komersial sejak 2012, sementara Nord Stream 2 selesai dibangun September 2021, meski tak pernah sempat beroperasi karena Jerman menangguhkan sertifikasinya menyusul invasi Rusia ke Ukraina.

    Keunggulan Nord Stream terasa jauh lebih nyata ketika dibandingkan dengan alternatif yang kini terpaksa dijalani Eropa. Gas alam cair atau LNG yang diimpor dari Timur Tengah, Amerika Serikat, atau Afrika membutuhkan proses pencairan, pengapalan menggunakan kapal tanker khusus berteknologi tinggi, lalu regasifikasi di terminal penerima sebelum bisa dialirkan ke jaringan distribusi. Seluruh rantai proses itu menjadikan LNG secara struktural lebih mahal, harganya bisa dua hingga tiga kali lipat dibanding gas pipa Rusia di masa normal. Belum lagi ketergantungan pada pasar spot global yang harganya bisa melonjak tajam kapan saja, sebagaimana terjadi pada 2022 ketika harga energi Eropa meledak ke rekor tertinggi sepanjang masa.

    Dengan kata lain, hancurnya Nord Stream bukan hanya kerusakan fisik pada infrastruktur. Ia adalah pukulan permanen terhadap model energi murah yang selama puluhan tahun menopang daya saing industri Eropa, dan sebuah pertanyaan besar yang hingga kini belum dijawab: siapa yang memutuskan bahwa pipa itu harus musnah?

    September 2022: Malam Ketika Pipa Itu Meledak

    Pada 26 September 2022, tiga dari empat jalur pipa Nord Stream dan Nord Stream 2 meledak hampir bersamaan. Empat titik kebocoran gas ditemukan. Ahli seismologi Swedia mencatat dua ledakan besar. Bagian pipa sepanjang 40 meter roboh dan bengkok hingga 90 derajat, sementara pecahan-pecahannya merusak rangkaian pipa di dekatnya. Insiden terjadi di zona ekonomi eksklusif Denmark.

    Swedia, Denmark, dan Jerman membuka penyelidikan nasional pada Oktober 2022, semuanya mengesampingkan keterlibatan Rusia. Dinas keamanan Swedia mengkonfirmasi adanya sabotase dan menemukan jejak bahan peledak di lokasi. Namun Moskow bereaksi keras, Putin menyebut ledakan itu bertujuan “menghancurkan infrastruktur energi Eropa” dan menuntut penyelidikan internasional yang melibatkan Rusia. Permintaan itu tak pernah dikabulkan.

    Pada Februari 2024, Swedia dan Denmark menutup penyelidikan mereka tanpa mempublikasikan hasilnya. Jerman satu-satunya yang masih melanjutkan investigasi hingga hari ini.

    Tiga Versi, Satu Misteri

    Sejak malam ledakan, tiga narasi besar berebut untuk menjadi kebenaran. Versi pertama datang dari jurnalis investigatif Amerika Seymour Hersh pada Januari 2023. Bersumber dari seorang informan tunggal, Hersh mengklaim ledakan Nord Stream adalah operasi Angkatan Laut AS yang didukung Norwegia, secara pribadi diotorisasi Presiden Joe Biden, dengan CIA sebagai perancang rencana. Sabotase diklaim dilakukan oleh penyelam militer AS di bawah kedok latihan NATO bertajuk Baltops. Pemerintah AS dan Norwegia menolak laporan itu bulat-bulat. Hingga kini, klaim Hersh tidak pernah dikonfirmasi sumber independen lain.

    Versi kedua mulai beredar di media-media Barat besar, Wall Street Journal, New York Times, Der Spiegel, ARD, Die Zeit, sejak Maret 2023. Versi ini menuding Ukraina. Menurut investigasi tersebut, operasi dipersiapkan oleh sekelompok perwira Ukraina menggunakan kapal pesiar bernama Andromeda sebagai basis operasional. Tim beranggotakan tujuh orang, terdiri dari penyelam, asisten, kapten, dan petugas medis, diduga melakukan perjalanan ke Jerman dengan dokumen identitas palsu sebelum menjalankan misi. Yang paling mengejutkan: laporan itu menyebut bahwa Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina saat itu, Jenderal Valerii Zaluzhnyi, yang memberikan lampu hijau, tanpa sepengetahuan Presiden Zelensky. Pemerintah Ukraina sendiri berulang kali membantah keterlibatan apa pun.

    Versi ketiga adalah tuduhan Rusia yang konsisten sejak awal: bahwa AS dan sekutunya, termasuk Inggris, berada di balik seluruh operasi, dan versi yang hanya menuding Ukraina adalah pengalihan perhatian yang terencana. Dalam wawancara Tucker Carlson dengan Putin pada 2024, percakapan singkat itu membekas:
    “Siapa yang meledakkan Nord Stream?” tanya Carlson.
    “Tentu saja kamu,” jawab Putin, tertawa.
    “Saya sibuk hari itu. Tapi terima kasih.”
    “Anda pribadi mungkin punya alibi,” kata Putin, “tapi CIA tidak punya alibi seperti itu.”

    Tersangka di Meja Hijau

    Agustus 2025, seorang pria bernama Serhiy Kuznetsov ditangkap di Italia. Kejaksaan Jerman menganggapnya sebagai koordinator kelompok yang memasang bahan peledak di dasar Laut Baltik. Mantan agen dinas intelijen Ukraina SBU itu disebut pernah bergabung dalam unit khusus yang menangani operasi rahasia dan sabotase. Ia diyakini bukan penyelam yang secara fisik memasang bom, melainkan pengatur operasi dari atas permukaan.

    Pada 16 September 2025, pengadilan Bologna memutuskan untuk mengekstradisinya ke Jerman. Pengacaranya mengajukan banding ke Mahkamah Agung Italia, namun pada akhir November Kuznetsov tetap diekstradisi dan kini menunggu persidangan di Jerman.

    Misteri yang Belum Selesai

    Tiga tahun setelah ledakan, tidak ada satu pun pihak yang secara hukum ditetapkan sebagai pelaku. Rusia menyalahkan AS dan sekutunya. Ukraina menyangkal. Amerika Serikat menyangkal. Inggris tak berkomentar. Yang tersisa hanyalah reruntuhan pipa di dasar Laut Baltik, seorang tersangka yang menunggu persidangan, tagihan energi yang terus membengkak di seluruh Eropa, dan sebuah pertanyaan yang mungkin tak akan pernah mendapat jawaban resmi: siapa yang sesungguhnya memerintahkan agar pipa itu musnah?

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax

    By adm_imr4 April 20262 Views

    Bahlil Tanggapi Isu Kenaikan Harga BBM Subsidi 1 April 2026

    By adm_imr4 April 20262 Views

    Strategi Mentan Amran Jamin Stok Beras hingga 2027, Hadapi El Nino Godzilla

    By adm_imr4 April 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    AWK Minta Maaf Atas Penyebaran Konten Hoax

    4 April 2026

    Puncak arus balik 2026 belum berlalu, kemacetan di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi memanjang

    4 April 2026

    PP Tunas Berlaku, Ini Cara Alihkan Anak ke Aktivitas Produktif

    4 April 2026

    Opini: Bebaskan Timor Barat dari Malaria, Kuncinya Surveilans Migrasi

    4 April 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026

    Buka Musrenbang RKPD 2027, Wali Kota Malang Tekankan Kolaborasi dan Pembangunan Inklusif

    31 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?