Peran Tiyo Ardianto dalam Gerakan Mahasiswa dan Kritik terhadap Kebijakan Pemeratif
Nama Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), kini menjadi sorotan utama dalam berbagai isu politik dan sosial di Indonesia. Dikenal sebagai tokoh mahasiswa yang vokal dan kritis terhadap kebijakan pemerintah, ia sering kali muncul dalam diskusi publik dengan pendekatan yang tajam dan langsung.
1. Mosi Tidak Percaya kepada Rektor UGM
Pada Mei 2025, BEM KM UGM mengirimkan mosi tidak percaya kepada Rektor Ova Emilia. Langkah ini muncul setelah adanya ketidakpuasan mahasiswa terhadap slogan “Kampus Kerakyatan” yang dinilai tidak sesuai dengan realitas. Tiyo menyatakan bahwa mosi ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap sikap institusi yang dianggap tidak sejalan dengan prinsip keterbukaan dan keberpihakan pada rakyat.
“Kampus Kerakyatan hanya sekadar slogan,” ujar Tiyo saat dikonfirmasi. Ia menegaskan bahwa mosi tersebut juga menjadi peringatan atas tiga tahun jabatan Rektor. Selain itu, BEM KM UGM meminta UGM untuk menyatakan mosi tidak percaya kepada pemerintah, agar dapat menunjukkan komitmen terhadap keberpihakan pada rakyat.
2. Aksi Poster #BebaskanKawanKami
Pada awal Juli 2025, aksi poster bertuliskan #BebaskanKawanKami oleh Tiyo membuatnya kembali viral. Aksi ini dilakukan di hadapan Komisi III DPR RI dan Kapolda DIY, sebagai bentuk tuntutan pembebasan mahasiswa yang ditangkap dalam demonstrasi May Day. Tiyo mengkritik respons lembaga negara yang dinilai tidak peduli terhadap kasus-kasus kekerasan aparat.
Ia menyampaikan bahwa hal ini menodai semangat demokrasi dan marwah negara. Menurutnya, data kekerasan aparat selama setahun terakhir mencatat 600 kasus, namun Komisi III tetap diam tanpa memberi komentar atau pembelaan terhadap massa aksi.
3. Surat ke UNICEF dan Rentetan Teror
Puncak perhatian terhadap Tiyo terjadi pada Februari 2026, ketika BEM UGM mengirim surat ke UNICEF terkait kematian siswa SD di NTT. Surat tersebut mengungkapkan kekecewaan terhadap sistemik kegagalan negara dalam melindungi hak pendidikan anak.
Namun, setelah surat itu viral, Tiyo mengaku mengalami ancaman teror. Ia menerima pesan teks dari nomor tak dikenal yang mengancam penculikan dan dugaan penguntitan. Ia juga mengaku diikuti dua pria tak dikenal, yang kemudian menghilang saat dicoba dikejar.
4. Orasi dan Kritik terhadap Program MBG
Tiyo kembali menjadi perbincangan setelah video orasinya di Bundaran UGM beredar luas. Dalam orasi tersebut, ia menggunakan kaus bertuliskan “Maling Berkedok Gizi” sebagai protes terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mempertanyakan anggaran besar program tersebut dan menganggapnya tidak proporsional dengan kebutuhan nyata.
Menurut Tiyo, program MBG yang memiliki anggaran Rp335 triliun pada 2026 bisa jadi proyek yang menguntungkan pihak tertentu. Ia menyoroti bahwa hanya 9 persen anak-anak Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, sehingga tidak semua anak perlu mendapat MBG.
Pesan Kepada Publik
Meski menghadapi ancaman dan kritik, Tiyo tetap bersikeras untuk terus berjuang. Melalui unggahan Instagram, ia menyampaikan pesan bahwa dirinya dan BEM UGM tidak akan takut atau gentar. Ia berterima kasih kepada rakyat Indonesia atas dukungan mereka dan berjanji untuk tetap baik-baik saja.
Dengan rekam jejak aksi yang konsisten dan kritik yang keras, Tiyo Ardianto kini menjadi salah satu figur mahasiswa yang paling disorot dalam dinamika gerakan kampus Indonesia.







