Perayaan Syawal yang Penuh Makna
Di tengah kegembiraan perayaan Syawal 1447 H, Masjid Islamic Center Dato’ Tiro di Bulukumba menjadi tempat berkumpulnya ribuan jamaah. Suasana penuh kehangatan dan kerinduan silaturahmi terasa dalam setiap langkah dan ucapan salam yang beredar.
Namun, di balik semangat merayakan hari kemenangan ini, ada pesan penting yang disampaikan oleh tokoh Muslim ternama, Dr. K.H. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., pemimpin umum Wahdah Islamiyah. Ia memulai orasinya dengan mengingatkan tentang penutupan Masjidil Aqsha, sebuah peristiwa yang menimbulkan duka mendalam bagi seluruh umat Islam.
“Masjidil Aqsha ditutup. Ini adalah kesedihan dan kedukaan kita. Kita sudah bersuara sejak awal,” ujarnya dengan tegas. Ia menyayangkan sikap diam dari sebagian besar umat Islam saat saudara-saudaranya di Gaza terus-menerus terancam oleh blokade zionis.
Kekecewaan terhadap Ketidakpedulian Umat Islam
Menurut Kyai Zaitun, ketidakpedulian ini menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi umat Islam. Meskipun kabar tentang penindasan di Gaza telah terdengar sejak bulan Ramadan lalu, respons dari banyak kalangan masih minim.
“Kita sedih ketika umat Islam tidak bergerak. Ketika umat Islam diam. Dari Maroko sampai Merauke, kecuali yang dapat dari Rahmat Allah itu juga sedikit,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kesadaran akan isu-isu global harus didasarkan pada rasa tanggung jawab dan kepedulian sesama muslim.
Dari keprihatinan atas situasi Palestina, ia melanjutkan dengan membahas dinamika geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas. Ia mengingatkan agar semangat membela kemanusiaan tidak boleh dikotori oleh tindakan yang justru merugikan sesama muslim.
Perbandingan yang Menyentuh
Kyai Zaitun memberikan contoh yang menohok, “Kalau Iran menyerang negara Teluk dengan alasan mengejar pangkalan Amerika, apa bedanya dengan Zionis yang menyerang Gaza untuk mengejar pejuang Palestina?!” Ia menegaskan bahwa jika Iran fokus menyerang penjajah maka simpati akan besar kepada mereka.
Ia menekankan bahwa untuk melihat masalah global dengan benar, diperlukan kacamata ketakwaan, bukan sekadar hawa nafsu atau semangat yang meledak-ledak. Ia mengajak umat Islam untuk bersikap objektif dan adil dalam menilai, termasuk dalam menyikapi perbedaan mazhab seperti Syiah.
Pentingnya Keadilan dalam Berpikir
Baginya, menjaga akidah itu fundamental, namun tidak boleh membuat kita kehilangan rasa adil. “Kita lihat masalah ini dari kacamata ketakwaan, jangan melihatnya dengan perasaan dan hawa nafsu,” pesannya di hadapan para tokoh termasuk Bupati Bulukumba.
Ia menekankan pentingnya meluruskan pandangan dan bersikap adil termasuk pada orang kafir sekalipun, sebagaimana Alquran memberikan petunjuk tentang hubungan kaum beriman dengan Romawi dan juga Persia. Keadilan dalam berpikir inilah yang kemudian harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata melalui konstitusi perdamaian dunia.
Dukungan untuk Pasukan Perdamaian
Wahdah Islamiyah secara tegas mendukung penuh jika pemerintah mengirimkan pasukan perdamaian ke Gaza. “Melaksanakan konstitusi perdamaian dunia wajib kita dukung pengiriman pasukan ke Gaza, sebagai muslim itu juga bagian dari jihad. Tentu yang bertugas akan merasa bangga karena itu persembahan yang patut dibanggakan,” tuturnya.
Namun, perjuangan besar ini harus dimulai dari hal-hal kecil di dalam diri, yakni menghidupkan nilai-nilai Islam melalui ketakwaan yang nyata, berbagi dengan sesama di masa sulit, menahan amarah, dan menjaga lisan agar tidak menyakiti.
Pesan untuk Kader dan Ormas
Pesan ini pun menukik hingga ke ranah personal dan organisasi, di mana Kyai Zaitun meminta para kader Wahdah untuk selalu mendinginkan kepala meski hati sedang memanas. “Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin,” pintanya.
Ia bahkan sempat berbagi pengalaman pribadinya saat diuji oleh komentar negatif netizen yang melupakan jejak perjuangannya untuk Palestina, namun ia memilih untuk membalasnya dengan kelapangan dada dan bersyukur atas cinta mereka pada Palestina.
Kesimpulan: Loyalitas pada Kebenaran
Sebagai penutup yang mengunci seluruh rangkaian pesan, Kyai Zaitun menekankan pentingnya loyalitas atau Al-Wala. Loyalitas ini tidak hanya tertuju pada kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga tegak lurus pada aturan pemimpin, ulama, serta dasar negara Pancasila dan UUD 1945.
“Jaga loyalitas kita pada kebenaran, al wala lil hak. Kita muslim loyal pada Islam. Harus loyal pada pemimpin. Baik itu pemimpin ulama maupun pemimpin di Masyarakat,” serunya.







