Peringatan Ulama Kharismatik tentang Fitnah Akhir Zaman
Buya Yahya, seorang ulama kharismatik, memberikan peringatan penting kepada umat Islam untuk memperkuat iman dalam menghadapi fitnah akhir zaman. Ia menekankan bahwa salah satu cara efektif untuk menghindari fitnah Dajjal adalah dengan membaca dan menghafal 10 ayat pertama dari Surah Al-Kahfi.
Pentingnya Menghafal Surah Al-Kahfi Ayat 1–10
Dalam ceramahnya di kanal YouTube Al Bahjah, Buya Yahya menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurkan untuk menghafal 10 ayat awal Surah Al-Kahfi. Ia menegaskan bahwa hal ini akan menjadi perlindungan bagi umat Islam dari fitnah Dajjal.
Fitnah Dajjal merupakan ujian yang sangat dahsyat dan bisa menipu banyak manusia, terutama mereka yang lemah iman. Dajjal digambarkan mampu melakukan hal-hal luar biasa yang sulit diterima akal, sehingga membuat manusia mudah terkecoh. Misalnya, ia seolah-olah bisa menyuruh langit menurunkan hujan atau bumi menumbuhkan tanaman, bahkan memperlihatkan hal-hal yang membuat orang tertipu.
Namun, Buya Yahya menekankan bahwa tidak perlu takut berlebihan terhadap Dajjal karena pada dasarnya Dajjal hanyalah makhluk ciptaan Allah. Ia menegaskan bahwa jika seseorang memiliki iman yang kuat, maka dia akan sadar bahwa Dajjal bukanlah Tuhan. Meskipun Dajjal mengaku sebagai Tuhan, keadaannya cacat, yaitu matanya hanya satu. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan.
Tidak Perlu Mencari Sosok Imam Mahdi
Selain mengamalkan Surah Al-Kahfi, Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam tidak sibuk mencari sosok Imam Mahdi. Ia menegaskan bahwa Imam Mahdi akan datang pada waktunya, dan Allah sudah siapkan pasukannya dari orang-orang beriman.
Kunci Utama untuk Selamat dari Fitnah Dajjal
Buya Yahya menutup ceramahnya dengan menekankan bahwa kunci utama agar selamat dari fitnah Dajjal adalah menjaga iman dan mendekatkan diri kepada Allah. Jika iman kita benar, maka kita akan dijaga. Mendekatkan diri kepada Allah sudah cukup menjadi benteng.
Berikut ini bacaan Surat Al Kahfi ayat 1-10:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ
al-ḥamdu lillāhillażī anzala ‘alā ‘abdihil-kitāba wa lam yaj’al lahụ ‘iwajāقَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ
qayyimal liyunżira basan syadīdam mil ladun-hu wa yubasysyiral-muminīnallażīna ya’malụnaṣ-ṣāliḥāti anna lahum ajran ḥasanāمَّاكِثِيْنَ فِيْهِ اَبَدًاۙ
mākiṡīna fīhi abadāوَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۖ
wa yunżirallażīna qāluttakhażallāhu waladāمَّا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا
mā lahum bihī min ‘ilmiw wa lā liābāihim, kaburat kalimatan takhruju min afwāhihim, iy yaqụlụna illā każibāفَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا
fa la’allaka bākhi’un nafsaka ‘alā āṡārihim il lam yu`minụ bihāżal-ḥadīṡi asafāاِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْاَرْضِ زِيْنَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا
innā ja’lnā mā ‘alal-arḍi zīnatal lahā linabluwahum ayyuhum aḥsanu ‘amalāوَاِنَّا لَجَاعِلُوْنَ مَا عَلَيْهَا صَعِيْدًا جُرُزًاۗ
wa innā lajā’ilụna mā ‘alaihā ṣa’īdan juruzāاَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا
am ḥasibta anna aṣ-ḥābal-kahfi war-raqīmi kānụ min āyātinā ‘ajabāاِذْ اَوَى الْفِتْيَةُ اِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَآ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
iż awal-fityatu ilal-kahfi fa qālụ rabbanā ātinā mil ladungka raḥmataw wa hayyi` lanā min amrinā rasyadā






