Pentingnya Membangun Pergaulan Sehat untuk Anak dan Remaja
Sebagai orang tua, seringkali Mama merasa khawatir tentang kualitas pergaulan anak. Pergaulan yang sehat memiliki dampak besar terhadap cara berpikir, bersikap, serta memandang suatu perilaku. Dalam konteks ini, dr. Tirta, seorang dokter sekaligus kreator konten kesehatan, menekankan bahwa memilih lingkungan pergaulan yang sehat adalah langkah penting dalam mencegah berbagai perilaku tidak sehat, termasuk pelecehan seksual.
Pergaulan yang positif dapat membentuk standar moral yang baik, sementara candaan seksual atau kebiasaan merendahkan orang lain bisa menjadi bahan yang mengubah pola pikir seseorang. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membangun pergaulan sehat untuk anak dan remaja.
1. Jauhi Tongkrongan yang Menormalisasi Candaan Seksual
Lingkungan yang sering menjadikan candaan seksual atau seksisme sebagai bahan humor perlu diwaspadai. Meski terdengar seperti sekadar bercanda, hal ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang orang lain. Menurut dr. Tirta, hal ini penting untuk dijauhi oleh anak.
Studi dari Thomas E. Ford menunjukkan bahwa paparan seksis dapat meningkatkan toleransi terhadap perilaku seksisme dalam pergaulan. Oleh karena itu, anak perlu lebih selektif dalam memilih lingkungan pertemanan. Pergaulan yang sehat seharusnya menciptakan rasa saling menghargai dan tidak menjadikan tubuh, identitas, atau pengalaman seseorang sebagai bahan candaan. Dengan berada di lingkungan yang positif, anak juga dapat belajar memahami batasan serta menghargai orang lain sejak dini.
2. Pilih Teman yang Menghargai Batasan Pribadi
Batasan pribadi atau personal boundaries merupakan nilai penting yang perlu ditanamkan kepada anak dan remaja, terutama dalam pergaulannya sehari-hari. Mereka perlu memahami bahwa setiap orang memiliki batasan terkait tubuh, perasaan, dan ruang pribadi yang harus dihormati oleh orang lain.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Violence Against Women oleh Charlene L. Muehlenhard menjelaskan bahwa persetujuan dan penghormatan terhadap batasan pribadi memiliki peranan besar dalam mencegah perilaku seksual yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, penting bagi anak untuk memilih teman yang mampu menghargai kata tidak, tidak memaksa kehendak, serta tidak meremehkan perasaan orang lain ketika mereka merasa tidak nyaman.

3. Hindari Lingkungan yang Merendahkan Orang Lain
Lingkungan pergaulan memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan perilaku anak dan remaja. Orangtua perlu membantu anak memahami bahwa tidak semua lingkungan pertemanan memberikan pengaruh yang baik.
Teori Social Learning Theory menjelaskan bahwa individu cenderung mempelajari perilaku dari lingkungan di sekitarnya melalui proses mengamati dan meniru. Artinya, ketika seorang remaja sering berada di lingkungan yang terbiasa merendahkan orang lain, perilaku tersebut berpotensi dianggap sebagai sesuatu yang normal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara mereka memperlakukan orang lain dalam hubungan sosial.

4. Perbanyak Pergaulan dengan Teman yang Memiliki Nilai Positif
Lingkungan pertemanan yang positif dapat membantu anak membangun karakter yang lebih sehat. Teman yang memiliki nilai seperti saling menghargai, empati, dan kepedulian biasanya akan menciptakan suasana pergaulan yang aman.
Dalam lingkungan seperti inilah, anak juga lebih mudah belajar menghormati orang lain serta memahami batasan dalam hubungan sosial. Menurut studi, pengaruh teman sebaya (peer influence) memiliki peran besar dalam membentuk perilaku remaja dan anak. Remaja yang berada dalam kelompok dengan nilai positif cenderung memiliki tingkat empati lebih tinggi serta risiko perilaku agresif yang lebih rendah. Sementara itu, anak yang berada dalam kelompok yang buruk cenderung memiliki sikap apatis.

5. Kritis terhadap Bentuk Candaan di Media Sosial
Seringkali media sosial menghadirkan berbagai jenis humor yang belum tentu sehat. Mulai dari candaan yang merendahkan fisik, stereotip gender, hingga humor seksual yang kerap dibungkus dengan kata lelucon.
Menurut laman UNICEF, anak dan remaja termasuk kelompok yang paling rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan digital, seperti komentar merendahkan, perundungan siber, hingga pelecehan verbal. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak agar tidak dengan cepat menganggap semua konten secara mentah-mentah. Mengajak anak berdiskusi tentang konten yang mereka lihat juga dinilai dapat membantu mereka memahami arti menghargai orang lain.

Itulah beberapa tips penting dalam membangun pergaulan sehat ala dr. Tirta. Mari terus mengedukasi anak tentang pentingnya menghadirkan nilai positif dalam pergaulan untuk membantu kehidupan sosial anak yang lebih baik.







