Berita Terpopuler di Jatim: Ponorogo Dibobol Maling dan Cuaca Ekstrem di Ngawi
SMKN 2 Ponorogo Dibobol Maling, Uang Rp 66 Juta Raib
SMKN 2 Ponorogo, yang terletak di Jalan Ponorogo-Pacitan, Kelurahan Kepatihan, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dibobol maling pada Sabtu (14/2/2026). Kejadian ini menimbulkan kerugian mencapai Rp 66 juta. Selain uang tunai, dua hard disk juga hilang akibat aksi pencurian tersebut.
Menurut informasi yang diperoleh, brankas yang awalnya berada di ruang perhotelan telah dipindahkan ke ruang belakang. Kondisi brankas saat ditemukan dalam keadaan terbuka, dengan uang sebesar Rp 30 juta di dalamnya menghilang. Selain itu, dompet yang juga ada di dalam brankas juga hilang.
Wakil Kepala SMKN 2 Ponorogo bagian Sarana Prasarana, Ani Dwi Yulianto, menyampaikan bahwa total kerugian mencapai Rp 66 juta. “Kami sudah serahkan kepada pihak kepolisian,” ujarnya.
Kapolsek Ponorogo, AKP Catur Juli Hernawan, membenarkan adanya kejadian pencurian tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya bersama Satreskrim Polres Ponorogo sedang melakukan olah TKP dan mengumpulkan bukti-bukti serta petunjuk dari lokasi kejadian.
Hingga berita ini ditulis, penyelidikan masih dilakukan oleh polisi untuk mencari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh pelaku. Proses penyelidikan ini dilakukan secara intensif guna menemukan pelaku dan memulihkan barang-barang yang hilang.
Hujan Deras dan Angin Kencang Terjang Tiga Kecamatan di Ngawi
Hujan deras disertai angin kencang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Ngawi pada Sabtu (14/2/2026) sekira pukul 16.00 WIB. Tiga kecamatan yang terkena dampak cuaca ekstrem adalah Kecamatan Widodaren, Kecamatan Ngawi, dan Kecamatan Kedunggalar.
Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Ngawi, Partoyo, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa hujan deras yang berlangsung lama menyebabkan pohon tumbang, menutup akses jalan, serta banjir luapan air.
Beberapa titik yang terdampak antara lain:
* Pohon tumbang menutup akses jalan di Dusun Nglongkeh, Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren.
* Pohon tumbang menimpa rumah milik Ngatimin (38), di Dusun/Desa Karangbanyu, Kecamatan Widodaren.
* Banjir luapan air di Dusun Melok Kulon, Desa Sirigan, Kecamatan Kedunggalar, menerjang sebuah rumah milik Misinah (56).
* Rumah milik Widodo (69), warga Dusun Bulakrejo, Desa Katikan, Kecamatan Kedunggalar.
Ketiga rumah tersebut rusak parah, dua di antaranya hampir roboh, sehingga penghuninya harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun, hingga saat ini tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
BPBD Kabupaten Ngawi terus melakukan penanganan di lokasi kejadian, termasuk melakukan asesmen dan memberikan bantuan sesuai arahan dari Pusdalops PB.
Siswa Pelosok Ponorogo Seberangi Sungai Naik Gondola Kayu Demi Sekolah
Di wilayah perbatasan Ponorogo-Trenggalek, ratusan warga bertaruh nyawa setiap hari untuk berangkat sekolah, berobat, atau bekerja. Salah satu daerah yang menjadi tantangan adalah Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Warga harus menyeberangi Sungai Jabak menggunakan kereta gantung sederhana atau gondola kayu. Jarak dari pusat kota Bumi Reog bisa mencapai 2 jam jika menggunakan sepeda motor. Jalan yang dilewati bervariasi, mulai dari aspal, rabat beton hingga tanah lumpur.
Pantauan Infomalangraya.com, Sabtu (14/2/2026) pagi, menunjukkan sejumlah siswa sekolah menggunakan pakaian pramuka. Mereka berasal dari Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, yang menempuh pendidikan di SMA di Panggul Kabupaten Trenggalek.
Jembatan utama yang sebelumnya dibangun secara swadaya terkena banjir pada awal 2026. Akibatnya, selama sebulan terakhir siswa mengandalkan kereta gantung sederhana untuk menyeberang.
Selain siswa, warga juga memanfaatkan kereta gantung untuk mendapatkan akses pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Kereta gantung sederhana hanya dibuat dari kayu dan tali, tanpa struktur yang kuat. Warga tidak punya pilihan lain karena jika memutar, jarak yang ditempuh bisa mencapai 20 kilometer lebih.
Febia Elen, warga Trenggalek, juga menggunakan kereta gantung ini untuk menuju Ponorogo. “Paling dekat lewat sini, ini mau kerja ke Ponorogo. Putar juga sangat jauh,” ujarnya.
Jembatan Jabak sebelumnya memiliki panjang 70 meter, namun dua pondasi beton jembatan roboh akibat banjir. Sepanjang 25 meter sisi jembatan hilang tertekan banjir. Untuk menyambung kembali, warga menggunakan akses kereta gantung sepanjang 40 meter.







