Bulan Ramadhan dan Pentingnya Menanamkan Kebiasaan Berpuasa pada Anak
Bulan Ramadhan adalah waktu istimewa bagi umat Islam yang selalu dinantikan. Pada momen ini, orang tua dapat mengajarkan anak berpuasa sejak kecil. Anak-anak bisa belajar berpuasa selama 3-4 jam terlebih dahulu, kemudian ditingkatkan sesuai dengan kemampuan mereka. Menanamkan kebiasaan berpuasa pada anak di Bulan Ramadhan dapat dimulai sejak masih kecil. Namun, diperlukan proses dan kesabaran untuk mengajarkan tentang berpuasa pada si kecil.
Masing-masing anak memiliki kemampuan berbeda-beda dalam hal menahan lapar dan haus ketika berpuasa. Bagi anak-anak, puasa adalah pengalaman baru yang tidak selalu mudah dijalani. Ketika perut mulai terasa lapar atau tenggorokan kering, wajar jika si kecil mengeluh dan merasa tidak nyaman. Namun, di balik itu terdapat pembelajaran tentang kesabaran, pengendalian diri, keimanan, dan rasa syukur.
Orang tua dapat membantu anak memberikan pemahaman bahwa rasa lapar saat puasa adalah bagian dari latihan menahan diri, khususnya setelah waktu Subuh sampai Maghrib. Apalagi kewajiban puasa termuat dalam firman Allah SWT, seperti yang disebutkan pada Al-Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah: 183).
Namun, puasa tidak diwajibkan bagi anak-anak yang belum mencapai usia baligh atau pubertas. Sebaliknya, jika seseorang sudah mencapai tingkat akil baliqh maka wajib menjalankan ibadah puasa.
Usia Anak yang Bisa Belajar Puasa
Dokter Spesialis Anak di Klinik Utama Kasih Ibu Sehati Solo, dr. MN Ardi Santoso, SpA, M.Kes, mengungkapkan bahwa secara medis, tidak ada batas usia baku anak berpuasa. Sebab, menurutnya, kesiapan anak berbeda-beda. Namun, secara umum, anak usia 7–10 tahun sudah bisa mulai belajar puasa secara bertahap (misalnya setengah hari). Anak-anak dapat belajar berpuasa 3-4 jam dulu untuk perkenalan, kemudian bisa ditingkatkan dengan puasa setengah hari sampai siang ataupun sore hari.
“(Sementara) Puasa penuh biasanya lebih siap dilakukan saat anak mendekati pubertas, tergantung kondisi fisik dan daya tahan,” ucap Ardi Santoso kepada Tribunnews, Selasa (17/2/2026).
Terpenting, kata Ardi adalah kondisi anak dalam keadaan sehat. “Yang terpenting anak sehat, status gizi baik, tidak ada penyakit kronis, dilakukan bertahap, tidak dipaksa,” terangnya. Dalam hal ini, Ardi juga menjelaskan bahwa Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menekankan kesiapan fisik dan status gizi sebagai faktor utama dalam aktivitas yang membatasi asupan makan/minum.
Tips Agar Anak Tidak Gampang Lapar dan Kuat Puasa
Agar anak tidak gampang lapar ketika berpuasa, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan. Dokter Ardi menyarankan, agar anak-anak tidak melewatkan momen sahur. Pada waktu sahur, orang tua bisa menyiapkan makanan dengan karbohidrat kompleks. Misalnya, nasi atau roti gandum.
Berikut tips agar anak tak gampang lapar yang dibagikan Dokter Spesialis Anak, dr. Ardi:
- Sahur jangan dilewatkan
- Pilih karbohidrat kompleks, bukan gula sederhana
- Cukup minum saat malam hari
- Tidur cukup
- Hindari aktivitas fisik berat siang hari
- Latih bertahap (tidak langsung penuh)
Waktu Puasa Ramadan 2026
Bulan Ramadhan adalah waktu istimewa bagi umat Islam yang selalu dinantikan. Tahun ini, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M, sedangkan 1 Syawal pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 M. Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI belum mengumumkan jadwal resmi puasa. Awal Ramadhan akan ditentukan setelah Sidang Isbat yang dilakukan hari ini, Selasa (17/2/2026).
Acara akan dimulai pukul 16.30 dengan seminar posisi hilal yang digelar terbuka. Dilanjutkan Pelaksanaan Sidang Isbat pukul 18.30 digelar tertutup. Lanjut konferensi pers penetapan awal puasa. Keputusan final 1 Ramadan nantinya diumumkan setelah seluruh rangkaian sidang selesai digelar.
Menteri Agama Nasaruddin Umar akan memimpin langsung Sidang Isbat di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI di Jakarta. Terkait kemungkinan perbedaan awal puasa, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar pun memberikan imbauan kepada masyarakat. Menag mengajak masyarakat untuk tetap menjaga persatuan. Apalagi, menurutnya, Indonesia telah berpengalaman menyikapi perbedaan penetapan 1 Ramadan tahun sebelumnya, tanpa adanya konflik sosial.
“Indonesia tetap rukun dan telah berpengalaman dalam perbedaan penentuan 1 Ramadan pada tahun sebelumnya. Kita berpengalaman menyatu di tengah perbedaan,” ucap Nasaruddin Umar di Jakarta, Selasa (17/2/2026). “Saya berharap tidak ada perdebatan di masyarakat. Marilah kita hidup rukun di tengah perbedaan,” imbuh Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta tersebut.







