Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Skenario Damai Terancam, Israel Serang Sungai Litani, 12 Tewas

    31 Mei 2026

    Jan Olde Riekerink Bicara! Alex Martins Pasti Cemerlang Bersama Persebaya Surabaya

    31 Mei 2026

    Restrukturisasi dan Ekspansi 5G Jadi Pendorong Kinerja TOWR 2026

    31 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 31 Mei 2026
    Trending
    • Skenario Damai Terancam, Israel Serang Sungai Litani, 12 Tewas
    • Jan Olde Riekerink Bicara! Alex Martins Pasti Cemerlang Bersama Persebaya Surabaya
    • Restrukturisasi dan Ekspansi 5G Jadi Pendorong Kinerja TOWR 2026
    • Truk Modifikasi Tertangkap Bawa Ribuan Liter Solar, 4 Pelaku Diciduk
    • 30 Ucapan Iduladha: Penuh Makna dan Spiritual
    • Otot Apa yang Diaktifkan Saat Plank? Ini Jawabannya
    • Cara Aman Mengonsumsi Daging Kurban untuk Penderita Kolesterol Tinggi
    • Sejarah air zamzam, yang mengalir deras di bawah jejak kaki Ismail
    • 12 cara menghilangkan bau prengus daging kambing saat Idul Adha, masakan jadi lebih lezat!
    • Iran tekankan AS tak punya pilihan selain terima tuntutan Teheran untuk berhentikan perang
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kesehatan»Turunnya Angka Kelahiran di Indonesia, Psikolog Jelaskan Penyebab dan Tantangannya

    Turunnya Angka Kelahiran di Indonesia, Psikolog Jelaskan Penyebab dan Tantangannya

    adm_imradm_imr2 Maret 20264 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Penurunan Angka Kelahiran di Indonesia: Fenomena yang Mengguncang Masyarakat

    Tren penurunan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia menjadi topik hangat yang ramai dibicarakan di ruang publik. Isu ini khususnya menarik perhatian masyarakat melalui platform X, di mana seorang pengguna dengan akun @tan* membagikan informasi mengenai tren TFR yang terus menurun dari tahun ke tahun.

    Dalam unggahannya, ia menyertakan gambar yang menunjukkan data penurunan TFR Indonesia selama beberapa dekade. Ia juga menulis bahwa masyarakat kini semakin sadar bahwa memiliki anak bukan hanya tentang penerus keturunan, tetapi juga tanggung jawab besar terhadap anak yang dilahirkan. Menurutnya, kasihan bagi anak yang lahir dari keluarga yang tidak sejahtera dan terus-menerus berjuang dalam kondisi sulit.

    Unggahan tersebut mendapatkan respons luar biasa. Hingga Jumat (27/2/2026) siang, unggahan itu telah mendapatkan lebih dari 5.000 like dan sekitar 700 kali dibagikan ulang. Ratusan balasan juga memenuhi cuitan tersebut, menunjukkan berbagai sudut pandang masyarakat terhadap isu penurunan angka kelahiran.

    Data Penurunan TFR Selama Lima Dekade

    Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbaharui pada 31 Maret 2023 mencatat bahwa angka TFR di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam hampir lima dekade terakhir. Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 1971, angka TFR masih berada di level 5,61. Angka tersebut kemudian turun pada SP 1980 dengan level 4,68, SP 1990 dengan level 3,33, berlanjut pada SP 2000 dengan level 2,34. Di periode 2010, angka TFP sempat naik tipis menjadi 2,41. Namun, pada 2020 angka TFP kembali menyusut hingga 2,18 lewat data SP dan Long Form (LF). Data untuk tahun 2025 dan 2026 belum tersedia.

    Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Penurunan TFR

    Menurut psikolog Danti Wulan, penurunan TFR di Indonesia bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan dari pergeseran kondisi psikologis kolektif masyarakat. Ia menganalisa beberapa faktor psikologis yang melatarbelakangi tren tersebut:

    • Pergeseran prioritas: Zaman dahulu, memiliki anak sering dianggap sebagai pencapaian hidup utama atau “kewajiban” sosial. Kini, banyak individu lebih fokus pada aktualisasi diri.
    • Otonomi diri: Kesadaran bahwa kebahagiaan pribadi tidak harus melalui jalur domestik konvensional.
    • Intensive parenting dan ketakutan akan kegagalan: Orang tua masa kini cenderung mengarah pada pola asuh yang sangat terfokus pada anak, sehingga mereka merasa harus memberikan yang terbaik. Jika merasa tidak mampu, mereka memilih menunda atau tidak memiliki anak.
    • Tekanan psikologis sandwich generation: Banyak usia produktif di Indonesia terjepit antara tanggungan orang tua dan diri sendiri, yang membuat mereka memilih menunda atau tidak memiliki anak.
    • Perubahan persepsi tentang anak: Anak sekarang dipandang sebagai tanggung jawab moral dan finansial, bukan sebagai investasi hari tua.
    • Eco-anxiety dan ketidakpastian masa depan: Orang tua saat ini memiliki kecemasan terhadap perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi, dan persaingan lapangan kerja yang ketat.
    • Normalisasi childfree: Beberapa individu mulai menormalisasi pilihan untuk tidak memiliki anak sepanjang hidup mereka.

    Faktor Psikologis Utama Lainnya

    Selain faktor-faktor di atas, Danti menyebutkan beberapa faktor psikologis utama yang memengaruhi penurunan TFR di Indonesia:

    • Faktor kemandirian ekonomi wanita: Meningkatnya rasa percaya diri dan pilihan untuk tidak bergantung pada peran domestik.
    • Trauma Intergenerasi: Keinginan untuk memutus rantai parenting yang buruk dari masa lalu.
    • Fear of missing out (FOMO): Ketakutan kehilangan kebebasan waktu dan finansial untuk menikmati hidup.

    Dari beberapa faktor tersebut, Danti melihat bahwa penurunan angka kelahiran di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat sedang dalam fase transisi menuju cara pandang yang lebih kritis dan personal terhadap konsep keluarga.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Otot Apa yang Diaktifkan Saat Plank? Ini Jawabannya

    By adm_imr31 Mei 20260 Views

    Misteri Perut Besar Santriwati Pekalongan Saat Magrib

    By adm_imr31 Mei 20261 Views

    Populix mengungkap tren gaya hidup olahraga di kalangan pekerja kota Indonesia

    By adm_imr31 Mei 20261 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Skenario Damai Terancam, Israel Serang Sungai Litani, 12 Tewas

    31 Mei 2026

    Jan Olde Riekerink Bicara! Alex Martins Pasti Cemerlang Bersama Persebaya Surabaya

    31 Mei 2026

    Restrukturisasi dan Ekspansi 5G Jadi Pendorong Kinerja TOWR 2026

    31 Mei 2026

    Truk Modifikasi Tertangkap Bawa Ribuan Liter Solar, 4 Pelaku Diciduk

    31 Mei 2026
    Berita Populer

    HUT ke-112 Kota Malang Jadi Momentum Evaluasi, Wali Kota Tekankan Penyelesaian Masalah Prioritas

    Kota Malang 1 April 2026

    Kota Malang- Wahyu Hidayat menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang bukan…

    Kasus Perzinaan Oknum ASN Kota Batu Berujung Penjara, Vonis Diperberat di Tingkat Banding

    29 April 2026

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    27 Maret 2026

    Kejagung Sita Aset Kasus Ekspor CPO di Kota Malang, Tanah 157 Meter Persegi Dipasangi Plang

    2 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?