Penurunan Angka Kelahiran di Indonesia: Fenomena yang Mengguncang Masyarakat
Tren penurunan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) di Indonesia menjadi topik hangat yang ramai dibicarakan di ruang publik. Isu ini khususnya menarik perhatian masyarakat melalui platform X, di mana seorang pengguna dengan akun @tan* membagikan informasi mengenai tren TFR yang terus menurun dari tahun ke tahun.
Dalam unggahannya, ia menyertakan gambar yang menunjukkan data penurunan TFR Indonesia selama beberapa dekade. Ia juga menulis bahwa masyarakat kini semakin sadar bahwa memiliki anak bukan hanya tentang penerus keturunan, tetapi juga tanggung jawab besar terhadap anak yang dilahirkan. Menurutnya, kasihan bagi anak yang lahir dari keluarga yang tidak sejahtera dan terus-menerus berjuang dalam kondisi sulit.
Unggahan tersebut mendapatkan respons luar biasa. Hingga Jumat (27/2/2026) siang, unggahan itu telah mendapatkan lebih dari 5.000 like dan sekitar 700 kali dibagikan ulang. Ratusan balasan juga memenuhi cuitan tersebut, menunjukkan berbagai sudut pandang masyarakat terhadap isu penurunan angka kelahiran.
Data Penurunan TFR Selama Lima Dekade
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diperbaharui pada 31 Maret 2023 mencatat bahwa angka TFR di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam hampir lima dekade terakhir. Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 1971, angka TFR masih berada di level 5,61. Angka tersebut kemudian turun pada SP 1980 dengan level 4,68, SP 1990 dengan level 3,33, berlanjut pada SP 2000 dengan level 2,34. Di periode 2010, angka TFP sempat naik tipis menjadi 2,41. Namun, pada 2020 angka TFP kembali menyusut hingga 2,18 lewat data SP dan Long Form (LF). Data untuk tahun 2025 dan 2026 belum tersedia.
Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Penurunan TFR
Menurut psikolog Danti Wulan, penurunan TFR di Indonesia bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan dari pergeseran kondisi psikologis kolektif masyarakat. Ia menganalisa beberapa faktor psikologis yang melatarbelakangi tren tersebut:
- Pergeseran prioritas: Zaman dahulu, memiliki anak sering dianggap sebagai pencapaian hidup utama atau “kewajiban” sosial. Kini, banyak individu lebih fokus pada aktualisasi diri.
- Otonomi diri: Kesadaran bahwa kebahagiaan pribadi tidak harus melalui jalur domestik konvensional.
- Intensive parenting dan ketakutan akan kegagalan: Orang tua masa kini cenderung mengarah pada pola asuh yang sangat terfokus pada anak, sehingga mereka merasa harus memberikan yang terbaik. Jika merasa tidak mampu, mereka memilih menunda atau tidak memiliki anak.
- Tekanan psikologis sandwich generation: Banyak usia produktif di Indonesia terjepit antara tanggungan orang tua dan diri sendiri, yang membuat mereka memilih menunda atau tidak memiliki anak.
- Perubahan persepsi tentang anak: Anak sekarang dipandang sebagai tanggung jawab moral dan finansial, bukan sebagai investasi hari tua.
- Eco-anxiety dan ketidakpastian masa depan: Orang tua saat ini memiliki kecemasan terhadap perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi, dan persaingan lapangan kerja yang ketat.
- Normalisasi childfree: Beberapa individu mulai menormalisasi pilihan untuk tidak memiliki anak sepanjang hidup mereka.
Faktor Psikologis Utama Lainnya
Selain faktor-faktor di atas, Danti menyebutkan beberapa faktor psikologis utama yang memengaruhi penurunan TFR di Indonesia:
- Faktor kemandirian ekonomi wanita: Meningkatnya rasa percaya diri dan pilihan untuk tidak bergantung pada peran domestik.
- Trauma Intergenerasi: Keinginan untuk memutus rantai parenting yang buruk dari masa lalu.
- Fear of missing out (FOMO): Ketakutan kehilangan kebebasan waktu dan finansial untuk menikmati hidup.
Dari beberapa faktor tersebut, Danti melihat bahwa penurunan angka kelahiran di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat sedang dalam fase transisi menuju cara pandang yang lebih kritis dan personal terhadap konsep keluarga.







