Ketersediaan Pangan di Kalimantan Timur Menjelang Idulfitri
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memastikan ketersediaan pangan menjelang Idulfitri tetap aman. Stok beras di gudang Bulog mencapai sekitar 2.000 ton dan didukung pasokan minyak goreng, gula, serta daging. Pemerintah juga memperketat pengawasan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk mencegah lonjakan harga.
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat inflasi Kaltim pada Februari 2026 sebesar 0,60 persen (mtm) dan masih terkendali secara tahunan.
Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Kalimantan Timur tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan maupun harga kebutuhan pokok. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (DPPKUKM) Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih memastikan kondisi pasar masih dalam batas aman dan relatif terkendali.
Menurut Heni, pergerakan perdagangan antar pelaku usaha selama ini berjalan dengan baik secara mandiri. Pemerintah hanya berperan memastikan kelancaran distribusi barang agar tidak terhambat oleh pungutan liar maupun kendala teknis di lapangan, seperti gangguan proses bongkar muat di pelabuhan.
“Ya saya katakan masih terkendali. Artinya masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Heni, Sabtu (7/3). Ia menjelaskan, pembentukan harga di pasar mengikuti mekanisme yang wajar, yakni harga pokok dari tingkat produsen ditambah biaya distribusi hingga menjadi harga jual di pasaran.
Selama stok barang tercukupi, menurutnya tidak ada faktor signifikan yang dapat memicu lonjakan harga.
Pengawasan HET Diperketat
Sebagai langkah antisipasi menjelang Lebaran, pemerintah daerah juga memperketat pengawasan terhadap harga bahan pokok. Heni menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Satgas Saber Pungli Polda Kalimantan Timur untuk mengawasi penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) sejumlah komoditas penting seperti beras, gula, dan minyak goreng.
Selain pengawasan, pemerintah juga terus melakukan edukasi kepada para pelaku usaha agar mematuhi ketentuan harga yang telah ditetapkan. Edukasi tersebut, menurut Heni, bahkan telah dilakukan sejak tahun lalu, khususnya terkait mutu dan harga beras di pasaran.
“Kita sudah sampaikan jauh-jauh hari. Sekarang mereka juga harus bijak. Tidak ada celah lagi memanfaatkan momen hari besar keagamaan untuk mengambil keuntungan sepihak,” tegasnya. Jika ditemukan pelanggaran harga yang melampaui HET, pemerintah tidak langsung menjatuhkan sanksi.
Heni menjelaskan pendekatan yang digunakan tetap mengedepankan langkah edukatif terlebih dahulu. “Pertama tahapannya kita panggil untuk edukasi dan pemahaman. Jangan sampai saat ada sanksi mereka beralasan belum tahu atau belum diberitahu. Biasanya kalau ditemukan penyimpangan, kita panggil dulu dan kita edukasi,” jelasnya.
Stok Bulog Aman
Sementara itu, Perum Bulog Kantor Cabang Kabupaten Paser memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Idulfitri 1447 Hijriah dalam kondisi aman. Saat ini gudang Bulog menyimpan sekitar 2.000 ton beras yang siap didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara.
Kepala Kantor Bulog Cabang Paser, Muhammad Mukhlis mengatakan stok tersebut dinilai cukup untuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang Lebaran. Selain beras, Bulog juga menyiapkan stok minyak goreng Minyakita sebanyak 90 ribu liter. “Dengan penambahan dua ribu ton beras dan sembilan puluh ribu liter Minyakita, jumlah ini aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Idulfitri,” terang Mukhlis, Jumat (6/3).
Bulog juga menyiapkan komoditas lain seperti daging sebanyak 3 ton serta gula pasir hingga 30 ton untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran. “Menjelang Lebaran biasanya permintaan tinggi. Jadi untuk antisipasi kami menambah pasokan yang ada saat ini,” ujarnya.
Mukhlis menambahkan stok pangan masih berpotensi bertambah karena adanya pasokan tambahan dari pusat. Untuk beras sendiri, Bulog juga melakukan penyerapan gabah dari petani lokal sehingga ketersediaannya dipastikan tetap aman. “Kalau beras tidak akan kurang karena kita juga menyerap gabah dari petani lokal,” katanya.
Saat ini harga beras SPHP ditetapkan dengan HET Rp65.500 per 5 kilogram, sementara harga Minyakita Rp15.700 per liter dan gula pasir Rp17.500 per kilogram.
Kemasan Kecil Terbatas
Di sisi lain, Komisi II DPRD Balikpapan memastikan ketersediaan stok beras di kota tersebut sebenarnya masih mencukupi. Hal itu terungkap setelah Komisi II menggelar rapat dengar pendapat bersama Dinas Perdagangan terkait kondisi pasokan bahan pokok.
Namun anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik menilai pola distribusi beras di pasaran belum sepenuhnya menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, sebagian distributor saat ini lebih banyak memasarkan beras dalam kemasan 25 kilogram dibandingkan kemasan kecil 5 kilogram.
“Kami mendapat penjelasan bahwa stok beras sebenarnya ada. Hanya saja yang kosong di pasaran itu kemasan lima kilogram,” ujarnya. Japar menjelaskan pengemasan beras dalam ukuran kecil membutuhkan biaya tambahan lebih besar dibandingkan kemasan besar. Kondisi tersebut membuat sebagian distributor memilih menjual beras dalam kemasan 25 kilogram.
Selain itu, kebijakan harga eceran tertinggi juga menjadi salah satu pertimbangan distributor dalam menentukan ukuran kemasan. Padahal menurut Japar, dominasi kemasan besar justru dapat menyulitkan sebagian masyarakat, terutama rumah tangga dengan kemampuan ekonomi terbatas. “Tidak semua masyarakat sanggup membeli beras langsung 25 kilogram. Banyak yang biasanya membeli lima kilogram karena menyesuaikan kemampuan keuangan,” tandasnya.
Komisi II berencana terus memantau pola distribusi beras di pasaran dan berkoordinasi dengan dinas terkait agar distribusi tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Inflasi Kaltim Terkendali
Memasuki momen Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, geliat belanja masyarakat di Kalimantan Timur mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Meski permintaan barang pokok dan jasa meningkat, Bank Indonesia menyebut inflasi di Bumi Etam masih terkendali.
Berdasarkan data terbaru, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 mencatatkan inflasi sebesar 0,60 persen (mtm). Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,04 persen (mtm). Namun secara tahunan, inflasi Kaltim berada di level 4,64 persen (yoy)—masih lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 4,76 persen (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan menjelaskan kenaikan harga pada Februari 2026 utamanya dipicu oleh beberapa sektor utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 0,97 persen (mtm) dengan andil 0,29 persen. “Hal ini seiring dengan tingginya permintaan komoditas pangan strategis selama Ramadan, jelang Idulfitri dan sisa momen Imlek 2026. Di momen HBKN biasanya masyarakat memang banyak berbelanja,” sebutnya, Sabtu (7/3).
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya seperti emas perhiasan mencatat inflasi 2,66 persen (mtm). “Kenaikan ini didorong oleh harga emas yang melonjak drastis hingga rata-rata Rp3.085.000 per gram pada Februari 2026,” imbuhnya.
Samarinda Inflasi Tertinggi
Dari pantauan di beberapa daerah, Kota Samarinda menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi di Kalimantan Timur, mencapai 5,29 persen. Sebaliknya, wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara mencatatkan inflasi paling rendah, yakni 4,13 persen.
Tekanan inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga pada sektor transportasi. Penurunan harga BBM non-subsidi pada awal Februari 2026 tercatat turun sekitar 3–4 persen. Kebijakan ini membantu menjaga stabilitas harga di tengah tingginya mobilitas masyarakat yang mulai bersiap untuk mudik Lebaran.
Menanggapi kondisi ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltim terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K, yaitu:
- Keterjangkauan Harga – memastikan harga tetap dalam jangkauan masyarakat.
- Ketersediaan Pasokan – menjamin stok pangan tetap aman hingga hari H Lebaran.
- Kelancaran Distribusi – memastikan alur barang dari produsen ke pasar tidak terhambat.
- Komunikasi Efektif – memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat agar tidak terjadi panic buying.
“Langkah pengendalian terus diperkuat agar masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan tenang tanpa dihantui lonjakan harga yang ekstrem,” pungkas Jajang.






