Rencana Jokowi Keliling Indonesia dan Dampaknya pada Politik Nasional
Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dikabarkan akan melakukan perjalanan keliling Indonesia mulai Juni 2026. Informasi ini disampaikan oleh Projo, organisasi relawan yang dekat dengan Jokowi, serta Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Rencana tersebut dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat posisi politik Jokowi dan partai yang diasuh oleh putranya, Kaesang Pangarep.
Kesehatan Jokowi Dinyatakan Pulih
Menurut informasi yang diberikan oleh Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Projo, Freddy Alex Damanik, kondisi kesehatan Jokowi sudah pulih sebesar 99 persen. Freddy menyebut bahwa Jokowi akan mulai turun ke berbagai daerah mulai Juni 2026 untuk menyapa masyarakat dan menjalin silaturahmi. Ia mengatakan bahwa Jokowi sendiri menyampaikan bahwa dirinya siap kembali aktif dalam kegiatan politik dan sosial.
“Kata Pak Jokowi (kondisi kesehatan) sudah 99 persen pulih. Juni mungkin beliau sudah akan keliling Indonesia untuk menyapa rakyat,” ujar Freddy, Selasa (12/5/2026).
Selain itu, Jokowi juga akan menjadwalkan pertemuan rutin setiap tiga bulan sekali dengan para relawannya. Meskipun demikian, Freddy menegaskan bahwa pintu Jokowi selalu terbuka bagi para relawan kapan saja.
PSI sebagai Kendaraan Politik Jokowi
Ketua DPP PSI, Bestari Barus, mengungkapkan bahwa Jokowi telah menjadi bagian dari PSI dan ditetapkan sebagai patron politik partai tersebut. Ia menekankan bahwa PSI yang akan menentukan kapan dan ke mana Jokowi akan memulai agenda keliling Indonesia, bukan organisasi masyarakat (Ormas) Projo.
Namun, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, melihat rencana Jokowi keliling Indonesia sebagai ambisi politik terselubung. Menurutnya, tujuan utama dari rencana ini adalah untuk membantu PSI agar lolos ambang batas parlemen.
“[Rencana] itu adalah agenda untuk menyelamatkan PSI, partai berlambang gajah yang saat ini dipimpin oleh sang putra bungsu, Kaesang Pangarep,” kata Pangi dalam podcast/siniar Madilog yang tayang di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Rabu (13/5/2026).
Ambang Batas Parlemen dan Tantangan PSI
Saat ini, ketentuan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold tertuang dalam Pasal 414 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (UU Pemilu), yakni minimal empat persen. Namun, Pangi tidak yakin PSI bisa lolos ke parlemen jika ambang batasnya dinaikkan.
“Tapi, saya yakin PSI enggak lolos kalau ambang batasnya misalnya, 7 persen atau 10 persen sekalian. Tapi, kalau 4 persen bisa iya bisa tidak, bisa lolos atau tidak,” jelas Pangi.
Ia menegaskan bahwa lolos atau tidaknya PSI ke parlemen bergantung pada Jokowi, yang disebutnya sebagai tulang punggung partai tersebut. Pangi menilai, rencana Jokowi berkeliling Indonesia sangat berlawanan dengan pernyataannya terkait rencana setelah pensiun dan tidak lagi menjadi presiden.
Di mana, saat mengunjungi Pasar Tradisional Purworejo, Jawa Tengah pada Selasa (2/1/2024) lalu, Jokowi bilang, “Jadi rakyat biasa, kembali ke mana? Ke Solo.”
PSI sebagai Benteng Perlindungan Keluarga Jokowi
Pangi menyebut bahwa PSI seolah menjadi partai keluarga Jokowi sekaligus sebagai benteng perlindungan politik bagi ayah Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, jika PSI lolos ke parlemen, maka partai tersebut akan menjadi wadah bersama yang juga melibatkan faksi-faksi internal.
“Nah, kemudian akan menyapa, menyalami, berkeliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke untuk mengkampanyekan PSI,” tambah Pangi.
Ia menilai bahwa rencana Jokowi keliling Indonesia dan memastikan bahwa kondisinya sudah 99,9 persen pulih adalah cara Jokowi untuk lebih tepat disebut mengampanyekan keluarganya, bukan PSI.
“Kalau PSI ini kalah maka redup lagi gitu karir politiknya, karir anak dan keluarganya,” ujarnya.






