Perayaan Idulfitri di Tengah Konflik yang Berkepanjangan
Perayaan Idulfitri, yang biasanya menjadi momen kebahagiaan bagi umat Islam di seluruh dunia, kali ini justru berlangsung dalam suasana penuh kesedihan dan ketidakpastian. Di sejumlah negara di Timur Tengah, khususnya Lebanon, Iran, dan Gaza, konflik yang belum mereda mengubah tradisi perayaan hari raya menjadi tantangan besar.
Lebanon: Kehilangan Rumah dan Harapan
Di Beirut, Lebanon, warga terdampak konflik seperti Alaa, seorang pengungsi Suriah, mengalami kesulitan ekstrem dalam merayakan Idulfitri. Ia kehilangan tempat tinggal setelah rumahnya di Dahiyeh hancur akibat serangan Israel. Alaa menghabiskan waktu untuk mencari tempat berlindung, tetapi tidak berhasil mendapatkan tenda. Pusat kota Beirut, yang biasanya ramai dengan restoran dan bar mahal, kini berubah menjadi kawasan pengungsian.
Lebih dari satu juta orang di Lebanon dilaporkan mengungsi akibat konflik yang masih berlangsung. Warga tidak tahu kapan perang akan berakhir, terutama karena mereka belum sepenuhnya pulih dari konflik dengan Israel antara Oktober 2023 hingga November 2024.
Iran: Krisis Ekonomi dan Tekanan Sosial
Di Iran, masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Selain perang yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, krisis ekonomi yang sudah ada sebelumnya membuat banyak warga kesulitan membeli kebutuhan harian saat musim liburan. Grand Bazaar Teheran, tempat belanja populer, juga dinilai berisiko karena kerusakan akibat pemboman.
Selain itu, aspek religius Idulfitri juga menjadi sensitif bagi sebagian warga Iran yang menentang pemerintah. Beberapa dari mereka memandang ekspresi religius sebagai bentuk dukungan terhadap Republik Islam Iran. Tahun ini, perayaan Nowruz atau Tahun Baru Persia juga jatuh pada Jumat, sehingga sebagian kelompok oposisi lebih memilih merayakan Nowruz dan menghindari kegiatan yang berkaitan dengan Idulfitri.
Gaza: Kesulitan Ekonomi dan Kehilangan Segalanya
Di Jalur Gaza, banyak warga Palestina ingin merayakan Idulfitri, tetapi kondisi ekonomi yang buruk membuat hal tersebut sulit. Pembatasan Israel terhadap masuknya barang ke Gaza—yang semakin diperketat sejak perang dengan Iran dimulai—telah meningkatkan harga kebutuhan pokok, termasuk mainan anak-anak.
Khaled Deeb (62), warga Gaza City, mengatakan bahwa ia harus melewati Idulfitri tanpa membeli buah dan sayuran karena keterbatasan finansial. Ia mengingat masa lalu ketika dirinya memiliki supermarket dan bisa memberi hadiah kepada keluarga selama Idulfitri. Namun, semua itu kini hanya kenangan.
Shireen Shreim, ibu dari tiga anak, menyebut bahwa kebahagiaan Idulfitri saat ini tidak lengkap. Ia dan suaminya tinggal di apartemen dengan dinding hancur, yang ditutupi dengan terpal dan kayu. Ia merasa sedih setiap kali pulang ke rumah dan melihat warga lain tinggal di tenda tanpa tempat tinggal yang layak.
Dengan Israel yang dinilai belum menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan terhadap warga Palestina maupun negara lain di kawasan, Shireen mengaku tidak tahu kapan Gaza akan benar-benar dibangun kembali. Bagi warga Gaza, Idulfitri tahun ini bukanlah momen kebahagiaan, tetapi sebuah pengingat akan penderitaan dan ketidakadilan yang terus berlangsung.






