Ancaman Iran terhadap Situs Wisata dan Kekacauan di Timur Tengah
Pada hari Jumat (20/03), Iran menunjukkan sikap yang sangat menantang, hampir tiga minggu setelah serangan Amerika Serikat dan Israel yang telah menewaskan sejumlah besar pemimpin senior Teheran serta menghancurkan industri senjata dan energinya. Dalam responsnya, Amerika Serikat mengerahkan tiga kapal perang tambahan dan sekitar 2.500 marinir ke kawasan Timur Tengah, demikian laporan dari seorang pejabat AS kepada Associated Press.
Serangan Iran terhadap Israel dan fasilitas energi di negara-negara tetangga Teluk terjadi saat banyak negara di kawasan itu merayakan Idul Fitri. Di sisi lain, warga Iran sedang merayakan Tahun Baru Persia, Nowruz, sebuah hari raya yang biasanya penuh kegembiraan. Namun tahun ini berlangsung lebih tenang karena situasi politik dan militer yang memicu ketegangan.
Dengan minimnya informasi yang keluar dari Iran, belum jelas seberapa besar kerusakan yang dialami fasilitas senjata, nuklir, atau energinya sejak konflik dimulai pada 28 Februari, atau siapa yang benar-benar mengendalikan negara tersebut. Namun, Iran tetap menunjukkan kemampuan untuk melakukan serangan yang mengganggu pasokan minyak dan mengguncang ekonomi global, sehingga menyebabkan kenaikan harga pangan dan bahan bakar di luar kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat dan Israel memberikan alasan yang berubah-ubah untuk perang ini, mulai dari harapan memicu pemberontakan yang bisa menggulingkan kepemimpinan Iran hingga menghancurkan program nuklir dan misilnya. Namun hingga kini tidak ada tanda-tanda pemberontakan tersebut, dan tidak ada akhir yang terlihat dari perang ini.
Ancaman Terhadap Situs Wisata
Juru bicara militer tertinggi Iran, Jenderal Abolfazl Shekarchi, pada hari Jumat (20/03) memperingatkan bahwa “taman, area rekreasi, dan destinasi wisata” di seluruh dunia tidak akan aman bagi musuh-musuh Teheran. Ancaman ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa Iran dapat kembali menggunakan serangan militan di luar Timur Tengah sebagai taktik tekanan.
Seorang pejabat AS mengonfirmasi peningkatan kekuatan militer Amerika di kawasan tersebut, dengan menyatakan bahwa USS Boxer dan dua kapal serbu amfibi lainnya telah dikerahkan bersama sekitar 2.500 marinir. Dua pejabat AS lainnya juga mengonfirmasi pengerahan kapal tersebut, tanpa menyebutkan tujuan pastinya. Ketiga pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim untuk membahas operasi militer sensitif.
Pemimpin AS dan Israel mengklaim bahwa serangan selama berminggu-minggu telah melumpuhkan militer Iran. Serangan udara juga telah menewaskan pemimpin tertinggi, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, serta sejumlah besar pemimpin militer dan politik tingkat tinggi.
Serangan terhadap Fasilitas Energi
Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi di negara-negara Teluk Arab setelah Israel membom ladang gas alam lepas pantai South Pars milik Iran dalam beberapa hari sebelumnya. Dua gelombang drone Iran menyerang kilang minyak Kuwait pada Jumat pagi, memicu kebakaran. Kilang Mina Al-Ahmadi, yang dapat memproses sekitar 730.000 barel minyak per hari, merupakan salah satu yang terbesar di Timur Tengah. Kilang tersebut juga telah mengalami kerusakan pada serangan sebelumnya.
Bahrain melaporkan kebakaran setelah pecahan proyektil yang dicegat jatuh ke sebuah gudang, dan Arab Saudi mengatakan telah menembak jatuh beberapa drone yang menargetkan wilayah timur yang kaya minyak. Ledakan besar juga mengguncang Dubai saat sistem pertahanan udara mencegat serangan yang masuk ke kota tersebut, di mana banyak orang sedang merayakan Idul Fitri.
Di Iran, banyak warga juga merayakan Nowruz meski Israel melaporkan serangan baru dan ledakan terdengar di atas Teheran. Tahun Baru Persia ini, yang bertepatan dengan ekuinoks musim semi, adalah tradisi yang telah berusia ribuan tahun di Asia Barat Daya.
Peningkatan Risiko Ekonomi Global
Serangan Iran terhadap infrastruktur energi di Teluk, ditambah gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz — jalur strategis tempat seperlima minyak dunia melewati — menimbulkan kekhawatiran krisis energi global. Presiden AS Donald Trump melontarkan hinaan baru kepada sekutu NATO yang menolak seruannya untuk membantu mengamankan selat tersebut. Sekutu AS menyatakan mereka tidak dilibatkan sebelum perang dimulai. Trump menyebut anggota NATO sebagai “pengecut” dan mengatakan “NATO adalah macan ompong”.
Harga minyak Brent, standar internasional, melonjak selama konflik dan berada di sekitar 108 dolar per barel pada Jumat (20/03), naik dari sekitar 70 dolar sebelum perang dimulai. Kenaikan harga bahan bakar terjadi saat banyak negara sudah kesulitan menurunkan harga pangan dan barang konsumsi. Asia terkena dampak besar karena sebagian besar minyak dan gas dari Selat Hormuz dikirim ke wilayah tersebut.
Dampak Ekonomi yang Menyebar
Dampak kenaikan harga ini menyebar ke seluruh ekonomi dunia. Bahan baku penting seperti helium untuk pembuatan chip komputer dan sulfur untuk pupuk juga terganggu, sehingga berpotensi menyebabkan kenaikan harga di seluruh rantai pasokan.
Sementara itu, Komandan Pasukan Quds dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Esmail Qaani, memuji sekutu-sekutu regional Teheran dalam “poros perlawanan” yang disebutnya telah berjuang melawan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik yang sedang berlangsung, demikian laporan media Iran pada hari Jumat (20/03).








