Tradisi Pawai Obor di Jodipan Malang Memperkuat Kebersamaan dan Syiar
Pawai obor yang digelar oleh warga Kampung Jodipan Wetan, Kota Malang, Jawa Timur, menjadi salah satu tradisi yang paling dinantikan menjelang Hari Raya Idulfitri. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momen religius, tetapi juga menjadi simbol kekompakan dan gotong royong masyarakat setempat.
Tradisi yang turun-temurun ini rutin dilaksanakan setiap malam takbiran, khususnya pada tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi. Dengan membawa obor yang menyala, warga berkeliling kampung sambil mengumandangkan takbir, menciptakan suasana yang kental akan nuansa religius. Anak-anak turut serta dalam kegiatan ini, menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Meski membawa obor dengan api yang menyala, mereka tampak percaya diri dan tetap dalam pengawasan orang dewasa.
Sejak selepas salat Isya, warga berkumpul di titik awal pemberangkatan, yaitu poros Jalan Jodipan Wetan Gang 1. Mereka berjalan keliling kampung sambil menyanyikan takbir, memperkuat rasa kebersamaan dan persaudaraan. Suasana semakin meriah dengan gema takbir yang terdengar sepanjang jalan, serta cahaya obor yang berkilauan di bawah langit malam.
Selain itu, suara petasan dan kembang api sering kali dinyalakan, menambah kesan meriah dan penuh kegembiraan. Rombongan pawai obor melintasi depan Masjid Roisiyah Kota Malang, tempat banyak warga menunggu dan menyaksikan kegiatan tersebut. Mereka berjejer di pinggir jalan untuk melihat rombongan datang, menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini bagi masyarakat setempat.
Menurut Muhammad Farid, salah satu warga Jodipan, pawai obor ini sudah menjadi bagian dari tradisi yang selalu dijaga dari tahun ke tahun. “Setiap tahun pasti ada, dan anak-anak selalu paling semangat. Ini sudah jadi tradisi yang kami jaga bersama,” ujarnya.
Tujuan utama dari pawai obor adalah untuk mempererat kebersamaan warga sekaligus menghadirkan kebahagiaan di tengah masyarakat. “Ya intinya supaya warga Jodipan ini semakin guyub rukun dan bisa membahagiakan orang-orang di kampung,” tambahnya.
Dana Sukarela untuk Menyelenggarakan Tradisi
Untuk penyelenggaraan pawai obor tahun ini, dana yang dibutuhkan sekitar Rp 10 juta. Dana tersebut berasal dari iuran sukarela warga dan para perantau yang masih peduli dengan kampung halamannya. “Anggaran sekitar Rp 10 juta, dari iuran teman-teman dan warga. Termasuk warga yang sudah di luar, tapi masih antusias ikut berkontribusi,” jelas Farid.
Tradisi ini menjadi simbol kuat kebersamaan warga dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Sekaligus juga menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan kekompakan masih terjaga di tengah masyarakat perkotaan.
Keberlanjutan Tradisi
Warga Jodipan Wetan sangat bangga dengan tradisi yang mereka lestarikan. Tidak hanya sebagai bentuk syiar agama, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan. Dengan adanya pawai obor, masyarakat merasa lebih dekat satu sama lain, terutama saat menjelang hari raya yang penuh makna.
Selain itu, kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar. Warga yang hadir di sepanjang jalan menunjukkan rasa kepedulian terhadap kebudayaan lokal. Mereka rela menunggu dan menyaksikan pawai obor, bahkan sampai akhirnya rombongan kembali masuk ke dalam kampung.
Tradisi pawai obor di Jodipan Wetan tidak hanya menjadi kenangan indah, tetapi juga menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan meskipun hidup di tengah perkotaan yang serba cepat.







