PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), salah satu emiten BUMN, mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2025, laba perseroan mencapai Rp 17,81 triliun. Angka ini menurun sebesar 20,48% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu Rp 22,40 triliun.
Total pendapatan perusahaan juga tercatat turun menjadi Rp 146,74 triliun pada 2025, turun 2,15% dibandingkan Rp 149,96 triliun pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, total beban usaha meningkat menjadi Rp 112,09 triliun dari Rp 108,51 triliun pada 2024. Kenaikan beban tersebut menyebabkan penurunan laba usaha menjadi Rp 34,64 triliun, turun dari Rp 41,45 triliun pada tahun sebelumnya.
Secara kuartalan, pendapatan Telkom pada kuartal keempat 2025 mencapai Rp 37,12 triliun, turun sekitar 1,65% dibandingkan Rp 37,74 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban usaha meningkat sebesar 10,11% menjadi Rp 31,65 triliun dari Rp 28,74 triliun. Akibatnya, laba usaha Telkom turun hingga 39,19% menjadi Rp 5,47 triliun pada Q4 2025, dibandingkan Rp 9 triliun pada Q4 2024.
Laba sebelum pajak juga turun sebesar 41,49% menjadi Rp 4,68 triliun dari Rp 7,99 triliun. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp 817 miliar, laba bersih tahun berjalan Telkom tercatat Rp 3,86 triliun, turun sekitar 40,35% dari Rp 6,47 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Strategi Transformasi dan Perubahan Kebijakan
Direktur Utama TLKM Dian Siswarini menyatakan bahwa eksekusi strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025 melalui program transformasi jangka menengah TLKM 30. Dalam strategi tersebut, Telkom menjalankan empat pilar utama transformasi:
- Operational & Service Excellence: Memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik.
- Streamlining: Penataan portofolio bisnis non-inti untuk meningkatkan efisiensi operasional.
- Unlocking Value: Penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital, khususnya konektivitas fiber.
- Modus-operandi Shift: Perubahan dari operating holding menjadi strategic holding dengan delayering untuk memperkuat fokus bisnis di empat segmen.
Selain itu, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan dan memastikan prinsip yang digunakan dalam menentukan satuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.
Kinerja Segmen Bisnis
Di segmen B2C, layanan mobile dan fixed broadband masih menjadi kontributor utama pendapatan. Melalui PT Telekomunikasi Selular, perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 109,2 triliun sepanjang 2025. Pertumbuhan trafik data sebesar 15% yoy dan pemulihan positif ARPU sejak paruh kedua 2025 menjadi faktor utama.
Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional melalui jaringan backbone serat optik sepanjang lebih dari 210 ribu kilometer. Pendapatan dari segmen ini tercatat sebesar Rp 8,9 triliun atau tumbuh 9,2% yoy.
Sementara itu, bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower (FTTT) milik PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk mencatat pendapatan Rp 9,5 triliun dengan net income margin 22,2% dan EBITDA margin 82,2%. Mitratel menjadi perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.
Pada bisnis Wholesale & International Service, perseroan mencatat pendapatan Rp10,7 triliun. Hingga kini, TelkomGroup melalui Telin telah tergabung dalam 27 sistem kabel laut internasional.
Segmen B2B ICT membukukan pendapatan sebesar Rp 15,3 triliun yang berasal dari bisnis konektivitas, managed solution, dan digital. Untuk mendukung pengembangan bisnis, TelkomGroup merealisasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 27,5 triliun sepanjang 2025 atau setara 18,8% dari total pendapatan. Sebanyak 93% capex dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur segmen B2C, B2B Infrastructure, dan internasional.







