Musik berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini menjadi bagian tak terpisahkan dari industri musik global. Tidak hanya sebagai alat bantu dalam produksi, musik AI kini berkembang menjadi komoditas digital yang bisa dihasilkan dengan cepat, murah, dan dalam jumlah besar. Perkembangan ini membuka peluang ekonomi baru, sekaligus memicu perdebatan tentang masa depan musisi konvensional.
Menurut pengamat musik Indra Aziz, kehadiran musik AI bukan sekadar tren sementara. Teknologi ini akan terus bertahan dan berkembang seiring adopsi yang semakin luas di berbagai lini industri kreatif. “Ini bukan sekadar tren. Musik AI akan tetap ada dan terus berkembang,” ujarnya.
Indra mencatat bahwa saat ini sudah muncul beberapa kreator musik AI yang mampu mengumpulkan angka streaming tinggi di berbagai platform dan media sosial. Dengan model royalti berbasis jumlah stream, semakin besar trafik yang dikumpulkan, semakin besar pula potensi pendapatan. Meski ada dugaan bahwa sebagian dari stream tersebut berasal dari bot.
Model bisnis ini berbeda dari musisi konvensional yang biasanya membangun basis penggemar melalui konser, merchandise, atau kolaborasi brand. Musik AI, menurut Indra, lebih bermain di wilayah algoritma. Selain kreator, platform streaming juga meraih manfaat signifikan dari maraknya musik AI. Mereka dapat memproduksi musik latar atau background music secara masif, lalu menyelipkannya ke dalam playlist populer.
“Platform streaming membuat ratusan musik AI, khususnya musik latar, agar royalti tidak harus dibagi dengan label,” kata Indra. Dari segi bisnis, ini menciptakan efisiensi biaya sekaligus membuka ruang margin yang lebih besar. Musik instrumental untuk fokus, relaksasi, atau ambience kafe menjadi ladang yang relatif aman dan minim tuntutan koneksi emosional mendalam.
Dari sisi model bisnis, Indra melihat musik AI saat ini lebih berfungsi sebagai hiburan di level permukaan. Musik AI dinilai belum mampu membangun koneksi emosional yang dalam dengan audiens, sebagaimana karya musisi manusia. “Musik AI sejauh ini hanya untuk klik dan stream. Tidak ada ‘soul’, tidak ada human connection,” ujarnya.
Meskipun demikian, Indra menilai kehadiran musik AI juga membuka peluang cuan baru bagi musisi profesional. Banyak produser kini menggunakan AI untuk brainstorming ide, membuat demo cepat, hingga membantu proses mixing dan mastering. “Ini saatnya musisi konvensional memperkuat value sebagai seniman yang punya idealisme, punya suara, punya kegelisahan. Hal-hal yang membuat musik memiliki makna lebih dalam,” ujarnya.
Meski potensi cuannya besar, Indra mengingatkan bahwa musik AI masih memiliki keterbatasan, mulai dari konsistensi teknis hingga kurangnya “jiwa” dalam karya. Berbeda dengan musisi dan produsen yang sangat spesifik dengan sound dan style-nya, hasil dari prompt dinilai terlalu ‘general’ untuk kreativitas.
Dari sisi reputasi, perusahaan yang terlalu agresif menggunakan musik AI juga berisiko menghadapi sentimen negatif, terutama terkait isu pencurian data dan etika penggunaan teknologi. Karena itu, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, Indra memprediksi musik AI akan berkembang pesat di ranah musik latar, meme, dan produksi cepat. Namun, untuk proyek-proyek besar di industri musik, film, dan gim, peran musisi manusia dinilai tetap krusial.
Di saat yang sama, musisi profesional justru akan semakin intens memanfaatkan AI sebagai alat bantu, mulai dari proses brainstorming, produksi, hingga mixing dan mastering. “Sejujurnya saya tidak yakin musik AI akan menggantikan musisi konvensional. AI akan jadi bagian dari workflow, bukan pengganti manusia,” kata Indra.







